<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bermula dari Ejekan, Remaja 16 Tahun Ini Sukses Gunakan Instagram untuk Berbisnis</title><description>Menjadi entrepreneur muda merupakan tren saat ini. Apalagi kaum milenial yang haus dengan inovasi akan berbisnis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis"/><item><title>Bermula dari Ejekan, Remaja 16 Tahun Ini Sukses Gunakan Instagram untuk Berbisnis</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis</guid><pubDate>Rabu 10 Juni 2020 15:27 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis-m972wA3v12.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Laurence Moss (Forbes)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/06/10/320/2227642/bermula-dari-ejekan-remaja-16-tahun-ini-sukses-gunakan-instagram-untuk-berbisnis-m972wA3v12.jpg</image><title>Laurence Moss (Forbes)</title></images><description>JAKARTA - Menjadi entrepreneur muda merupakan tren saat ini. Apalagi kaum milenial yang haus dengan inovasi akan berbisnis.

Bahkan, berbisnis pun sudah memasuki usia remaja. Seperti, Laurence Moss, remaja berumur 16 tahun yang telah sukses menjadi pengusaha.

Mengutip Forbes, Jakarta, Rabu (10/6/2020), Moss adalah pendiri agensi pemasaran melalui instagram yang bernama Greedy Growth. Dirinya bahkan meluncurkan produknya saat berumur 14 tahun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Berdayakan UMKM di Tengah Covid-19, Seniman Ini Produksi Masker Lukis
Klien resmi pertamanya saat itu adalah perusahaan besar di bidang pelelangan bernama Pop Culture. Namun, peluncuran tersebut bukanlah awal karier berbisnisnya.

Sebelumnya juga dia telah merambah youtube, dengan bisnis yang sama bermodel video bergaya vlog. Bukannya klien yang didapat, malah dirinya mendapatkan olok-olokan dari para netizen.

Oleh sebab itu, dirinya beralih ke platform media sosial lain, yaitu instagram. Di mana, setiap halamannya tidak perlu mengunggah foto dari dirinya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Menjanjikan, Budidaya Lalat Tambah Penghasilan Jutaan Rupiah di Tengah Covid-19
&amp;ldquo;Saya baru berusia 12 tahun, dan seperti banyak anak muda seusia itu, saya cukup merasa tidak aman dan tidak mengerti bagaimana cara menanggung olok-olokan mereka itu setiap hari,&amp;rdquo; kata Moss.

Perlahan-lahan, Moss menumbuhkan akun instagram tersebut menjadi agensi pemasaran yang saat ini dimilikinya. Tapi lambat laun, dirinya menyadari sesuatu bahwa bisnis pasti akan mengalami kemunduran.

&quot;Tidak peduli siapa Kamu, atau apa yang Kamu lakukan, Kamu akan selalu menghadapi kemunduran dalam hidup,&quot; katanya.

Saat dia menjalankan bisnis instagram tersebut, bukan olok-olokan lagi yang didapat. Akan tetapi, kali ini menghadapi masalah lain yaitu penolakan.

&quot;Saya merasa sangat sulit untuk mengatasinya ketika seorang calon klien mengatakan tidak, tetapi itu adalah sesuatu yang harus saya setujui dan tumbuh sebagai seorang pribadi untuk mengatasinya,&quot; ujarnya.

Dari situ, dirinya terus mencari referensi bacaan untuk membantunya menghadapi hal tersebut. Dirinya pun menemukan buku seperti 'Rich Dad Poor Dad' dan 'How to Win Friends and Influence People'.

Berkat referensi tersebut, antara 2018 dan 2019 ia menumbuhkan pengikut Instagram lebih dari 350.000. Di mana, halamannya mengambil konten seperti perjalanan, sepeda motor, sepak bola, dan meme.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Covid-19 Geliatkan Bisnis Gym Online
&amp;ldquo;Saya menghabiskan lebih dari satu tahun untuk mencari tahu persis bagaimana algoritma Instagram bekerja, dan bagaimana saya dapat meningkatkan kondisi saat ini untuk menumbuhkan halaman Instagram dengan sangat cepat,&amp;rdquo; katanya.

Setelah itu, Moss bergabung dengan LinkedIn dan beberapa komunitas pemasaran khusus Instagram. Memang hal tersebut melengkapi pengetahuannya tetapi kurang melihat gambaran yang lebih luas lagi.

Solusinya, dia menghubungi orang-orang yang mahir di bidang pemasaran instagram. Dirinya bertukar informasi dengan para pebisnis lainnya.

&quot;Setiap perdagangan nilai berfungsi sebagai potongan puzzle, dan akhirnya puzzle terbentuk,&quot; katanya.Di balik kesuksesannya, dirinya mengakui tantangan terbesar menjadi  pengusaha di umur remaja ini adalah menjalankan kehidupan sekolah dan  bisnis. Contohnya, saat dirinya revisi untuk beberapa ujian sekolah  tahun lalu membuatnya tidak mempunyai waktu untuk merawat kliennya.

&amp;ldquo;Perbaikannya adalah merampingkan pekerjaan bisnis saya dan belajar  bagaimana mendelegasikan, sehingga saya bisa fokus pada dukungan klien  dan studi saya,&amp;rdquo; katanya.

Oleh sebab itu, pada awal 2020, dirinya berencana menyelesaikan ujian  GSCE atau ujian internasional untuk siswa sekolah menengah. Hal ini  agar dapat melanjutkan ke universitas untuk belajar bisnis dan  manajemennya.

Akan tetapi, Covid-19 mengubah segalanya. Namun, hal ini tidak  mematahkan semangatnya, pada masa penutupan sekolah, dirinya malah fokus  akan bisnis.

&amp;ldquo;Saya memutuskan untuk fokus pada bisnis saya sementara sekolah  ditutup dan kami tumbuh lagi dengan sangat cepat mengingat bahwa dua  bulan yang lalu saya mulai lagi dari nol,&amp;rdquo; katanya.

Pada saat yang sama Moss mulai bekerja dengan beberapa bisnis lokal  kecil. Menawarkan jasanya untuk membantu mereka dengan pemasaran media  sosial mereka secara gratis.

&quot;Saat ini, karena iklim saat ini, mereka tidak memiliki apa pun untuk  ditawarkan kepadaku, dan itu tidak apa-apa, tetapi ketika semuanya  mulai kembali normal setelah pandemi berakhir, mereka akan mengingat  bantuan yang saya berikan kepada mereka dan beberapa bahkan mungkin  menjadi klien,&quot; ujarnya.

Moss menjalankan Greedy Growth sendirian, tetapi ketika dia  membutuhkan bantuan, dia bisa memanggil tim freelancer terpencil yang  menangani bidang pekerjaan klien tertentu, seperti manajemen masyarakat.  Pada bulan Mei, bisnis tersebut menghasilkan lebih dari  1.500  poundsterling dan berada di jalur yang tepat untuk melampaui pendapatan  sebesar 2.000 poundterling bulan Juni, dan lebih dari 4.000  poundsterling per bulan sebelum akhir tahun 2020.</description><content:encoded>JAKARTA - Menjadi entrepreneur muda merupakan tren saat ini. Apalagi kaum milenial yang haus dengan inovasi akan berbisnis.

Bahkan, berbisnis pun sudah memasuki usia remaja. Seperti, Laurence Moss, remaja berumur 16 tahun yang telah sukses menjadi pengusaha.

Mengutip Forbes, Jakarta, Rabu (10/6/2020), Moss adalah pendiri agensi pemasaran melalui instagram yang bernama Greedy Growth. Dirinya bahkan meluncurkan produknya saat berumur 14 tahun.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Berdayakan UMKM di Tengah Covid-19, Seniman Ini Produksi Masker Lukis
Klien resmi pertamanya saat itu adalah perusahaan besar di bidang pelelangan bernama Pop Culture. Namun, peluncuran tersebut bukanlah awal karier berbisnisnya.

Sebelumnya juga dia telah merambah youtube, dengan bisnis yang sama bermodel video bergaya vlog. Bukannya klien yang didapat, malah dirinya mendapatkan olok-olokan dari para netizen.

Oleh sebab itu, dirinya beralih ke platform media sosial lain, yaitu instagram. Di mana, setiap halamannya tidak perlu mengunggah foto dari dirinya.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Menjanjikan, Budidaya Lalat Tambah Penghasilan Jutaan Rupiah di Tengah Covid-19
&amp;ldquo;Saya baru berusia 12 tahun, dan seperti banyak anak muda seusia itu, saya cukup merasa tidak aman dan tidak mengerti bagaimana cara menanggung olok-olokan mereka itu setiap hari,&amp;rdquo; kata Moss.

Perlahan-lahan, Moss menumbuhkan akun instagram tersebut menjadi agensi pemasaran yang saat ini dimilikinya. Tapi lambat laun, dirinya menyadari sesuatu bahwa bisnis pasti akan mengalami kemunduran.

&quot;Tidak peduli siapa Kamu, atau apa yang Kamu lakukan, Kamu akan selalu menghadapi kemunduran dalam hidup,&quot; katanya.

Saat dia menjalankan bisnis instagram tersebut, bukan olok-olokan lagi yang didapat. Akan tetapi, kali ini menghadapi masalah lain yaitu penolakan.

&quot;Saya merasa sangat sulit untuk mengatasinya ketika seorang calon klien mengatakan tidak, tetapi itu adalah sesuatu yang harus saya setujui dan tumbuh sebagai seorang pribadi untuk mengatasinya,&quot; ujarnya.

Dari situ, dirinya terus mencari referensi bacaan untuk membantunya menghadapi hal tersebut. Dirinya pun menemukan buku seperti 'Rich Dad Poor Dad' dan 'How to Win Friends and Influence People'.

Berkat referensi tersebut, antara 2018 dan 2019 ia menumbuhkan pengikut Instagram lebih dari 350.000. Di mana, halamannya mengambil konten seperti perjalanan, sepeda motor, sepak bola, dan meme.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Covid-19 Geliatkan Bisnis Gym Online
&amp;ldquo;Saya menghabiskan lebih dari satu tahun untuk mencari tahu persis bagaimana algoritma Instagram bekerja, dan bagaimana saya dapat meningkatkan kondisi saat ini untuk menumbuhkan halaman Instagram dengan sangat cepat,&amp;rdquo; katanya.

Setelah itu, Moss bergabung dengan LinkedIn dan beberapa komunitas pemasaran khusus Instagram. Memang hal tersebut melengkapi pengetahuannya tetapi kurang melihat gambaran yang lebih luas lagi.

Solusinya, dia menghubungi orang-orang yang mahir di bidang pemasaran instagram. Dirinya bertukar informasi dengan para pebisnis lainnya.

&quot;Setiap perdagangan nilai berfungsi sebagai potongan puzzle, dan akhirnya puzzle terbentuk,&quot; katanya.Di balik kesuksesannya, dirinya mengakui tantangan terbesar menjadi  pengusaha di umur remaja ini adalah menjalankan kehidupan sekolah dan  bisnis. Contohnya, saat dirinya revisi untuk beberapa ujian sekolah  tahun lalu membuatnya tidak mempunyai waktu untuk merawat kliennya.

&amp;ldquo;Perbaikannya adalah merampingkan pekerjaan bisnis saya dan belajar  bagaimana mendelegasikan, sehingga saya bisa fokus pada dukungan klien  dan studi saya,&amp;rdquo; katanya.

Oleh sebab itu, pada awal 2020, dirinya berencana menyelesaikan ujian  GSCE atau ujian internasional untuk siswa sekolah menengah. Hal ini  agar dapat melanjutkan ke universitas untuk belajar bisnis dan  manajemennya.

Akan tetapi, Covid-19 mengubah segalanya. Namun, hal ini tidak  mematahkan semangatnya, pada masa penutupan sekolah, dirinya malah fokus  akan bisnis.

&amp;ldquo;Saya memutuskan untuk fokus pada bisnis saya sementara sekolah  ditutup dan kami tumbuh lagi dengan sangat cepat mengingat bahwa dua  bulan yang lalu saya mulai lagi dari nol,&amp;rdquo; katanya.

Pada saat yang sama Moss mulai bekerja dengan beberapa bisnis lokal  kecil. Menawarkan jasanya untuk membantu mereka dengan pemasaran media  sosial mereka secara gratis.

&quot;Saat ini, karena iklim saat ini, mereka tidak memiliki apa pun untuk  ditawarkan kepadaku, dan itu tidak apa-apa, tetapi ketika semuanya  mulai kembali normal setelah pandemi berakhir, mereka akan mengingat  bantuan yang saya berikan kepada mereka dan beberapa bahkan mungkin  menjadi klien,&quot; ujarnya.

Moss menjalankan Greedy Growth sendirian, tetapi ketika dia  membutuhkan bantuan, dia bisa memanggil tim freelancer terpencil yang  menangani bidang pekerjaan klien tertentu, seperti manajemen masyarakat.  Pada bulan Mei, bisnis tersebut menghasilkan lebih dari  1.500  poundsterling dan berada di jalur yang tepat untuk melampaui pendapatan  sebesar 2.000 poundterling bulan Juni, dan lebih dari 4.000  poundsterling per bulan sebelum akhir tahun 2020.</content:encoded></item></channel></rss>
