<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Sedih Dokter Sendirian Merawat 190 Pasien Covid Belum Terima Insentif</title><description>Kisah piluh seorang dokter yang merawat 190 pasien corona pada salah satu hotel di Makassar</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif"/><item><title>Kisah Sedih Dokter Sendirian Merawat 190 Pasien Covid Belum Terima Insentif</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif</guid><pubDate>Jum'at 03 Juli 2020 13:37 WIB</pubDate><dc:creator>Wahyu Ruslan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif-MrdNvvBZLd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kisah Pilu Dokter yang Merawat Pasien Covid tapi Belum Dapat Insentif.  (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/03/320/2240619/kisah-sedih-dokter-sendirian-merawat-190-pasien-covid-belum-terima-insentif-MrdNvvBZLd.jpg</image><title>Kisah Pilu Dokter yang Merawat Pasien Covid tapi Belum Dapat Insentif.  (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Kisah piluh  seorang dokter yang merawat 190 pasien corona pada salah satu hotel di Makassar, Sulawesi Selatan. Dokter tersebut tak kunjung menerima insentif yang dijanjikan.
Dokter Sugih Wibowo bersama lima orang perawat medis, merawat pasien Covid-19 di salah satu hotel yang difungsikan untuk penanganan pasien virus corona. Bahkan, Sugih  ternyata satu-satunya dokter yang ditugaskan oleh pemerintah melalui  Dinas Kesehatan, Kabupaten Maros untuk menangani 190 pasien OTG.
Baca Juga:&amp;nbsp;Soal Stimulus, Hipmi Minta Pemerintah dan Instansi Jangan Saling Gesek
&amp;ldquo;Selain kecewa, terkadang hanya bisa meneteskan air mata ketika sang istri menanyakan uang untuk membeli susu anaknya yang berusia 3 bulan,&amp;rdquo; tuturnya, dikutip dari iNews, Jumat (3/7/2020).
Sugih sebelumnya merupakan seorang  dokter di sebuah puskesmas di Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Meski dia sempat  mengajukan diri untuk membantu menangani pasien corona di Makassar, namun tak menyangka dirinya menjadi satu-satunya dokter di tempat karantina tersebut.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bisnis Apa Saja yang Akan Nikmati Dana Negara Rp30 Triliun di Himbara?
&amp;ldquo;Bahkan selama sebulan lebih  merawat pasien Covid-19 ini tak kunjung menerima uang insentif yang dijanjikan oleh  pemerintah,&amp;rdquo; tuturnya.
Selain kecewa, pria 37 tahun yang juga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia ini, menceritakan juga hanya bisa meneteskan air mata saat menahan rindu kepada istri dan putranya yang berumur 3 bulan.
&amp;ldquo;Selama bertugas di tempat karantina Covid-19 ini  hanya bertemu beberapa jam  melalui video call. Bahkan  saat sang istri menanyakan uang untuk membeli susu anak, saya belum menerima insentif hanya dapat meminta istrinya untuk  bersabar,&amp;rdquo; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kisah piluh  seorang dokter yang merawat 190 pasien corona pada salah satu hotel di Makassar, Sulawesi Selatan. Dokter tersebut tak kunjung menerima insentif yang dijanjikan.
Dokter Sugih Wibowo bersama lima orang perawat medis, merawat pasien Covid-19 di salah satu hotel yang difungsikan untuk penanganan pasien virus corona. Bahkan, Sugih  ternyata satu-satunya dokter yang ditugaskan oleh pemerintah melalui  Dinas Kesehatan, Kabupaten Maros untuk menangani 190 pasien OTG.
Baca Juga:&amp;nbsp;Soal Stimulus, Hipmi Minta Pemerintah dan Instansi Jangan Saling Gesek
&amp;ldquo;Selain kecewa, terkadang hanya bisa meneteskan air mata ketika sang istri menanyakan uang untuk membeli susu anaknya yang berusia 3 bulan,&amp;rdquo; tuturnya, dikutip dari iNews, Jumat (3/7/2020).
Sugih sebelumnya merupakan seorang  dokter di sebuah puskesmas di Kecamatan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Meski dia sempat  mengajukan diri untuk membantu menangani pasien corona di Makassar, namun tak menyangka dirinya menjadi satu-satunya dokter di tempat karantina tersebut.
Baca Juga:&amp;nbsp;Bisnis Apa Saja yang Akan Nikmati Dana Negara Rp30 Triliun di Himbara?
&amp;ldquo;Bahkan selama sebulan lebih  merawat pasien Covid-19 ini tak kunjung menerima uang insentif yang dijanjikan oleh  pemerintah,&amp;rdquo; tuturnya.
Selain kecewa, pria 37 tahun yang juga lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia ini, menceritakan juga hanya bisa meneteskan air mata saat menahan rindu kepada istri dan putranya yang berumur 3 bulan.
&amp;ldquo;Selama bertugas di tempat karantina Covid-19 ini  hanya bertemu beberapa jam  melalui video call. Bahkan  saat sang istri menanyakan uang untuk membeli susu anak, saya belum menerima insentif hanya dapat meminta istrinya untuk  bersabar,&amp;rdquo; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
