<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Investor Masih Optimistis di Tengah Pandemi Covid-19</title><description>Memasuki era New Normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (covid-19) masih menjadi tema utama.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19"/><item><title>Investor Masih Optimistis di Tengah Pandemi Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19</guid><pubDate>Sabtu 04 Juli 2020 10:25 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19-6jfPEdWLPW.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/04/278/2241057/investor-masih-optimistis-di-tengah-pandemi-covid-19-6jfPEdWLPW.jpeg</image><title>Waspada Virus Corona. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Memasuki era New Normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (covid-19) masih menjadi tema utama perbincangan di berbagai sektor.  Di pasar modal Indonesia, peristiwa ini turut direspons para investor dalam menentukan keputusan arah investasi. Membincangkan optimisme di tengah pandemi, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengundang wartawan Pasar Modal Indonesia berdiskusi secara virtual akhir Juni lalu, untuk menginformasikan perkembangan Pasar Modal Indonesia terkini.
Saat ini hampir seluruh kinerja indeks Bursa Global mengalami penurunan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 21,13% di level 4.905 pada 30 Juni 2020, dibanding akhir tahun 2019. Pada umumnya, seluruh indeks sektoral mengalami penurunan secara year to date. Sektor yang mengalami penurunan paling dalam selama tahun 2020 adalah sektor property dan real estate sebesar -36,09%. Di sisi lain, sektor consumer goods menunjukkan kinerja indeks yang relatif baik dibandingkan indeks acuannya (IHSG dan LQ45). Bahkan, sektor consumer goods mampu mencatatkan kinerja positif sejak adanya pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia.
Baca Juga:&amp;nbsp;Distribusi Logistik dari Kawasan Industri Batang ke Pelabuhan Tanjung Mas Cuma 50 Menit
Positifnya, aktivitas perdagangan justru terus meningkat. Rata-rata frekuensi perdagangan meningkat 9,64% menjadi 514 ribu kali per hari dengan rata-rata total nilai transaksi dan volume transaksi masing-masing sebesar Rp 7,67 triliun per hari dan 7,63 miliar lembar per hari. Sejak Maret 2020, aktivitas transaksi terus mengalami peningkatan seiring diterbitkannya rangkaian kebijakan Pemerintah dan otoritas sektor keuangan dalam melakukan stabilisasi kondisi perekonomian dalam negeri. Meski aktivitas ekonomi nasional dibayangi Pandemi COVID-19, hal ini tidak menyurutkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal.
Sementara perkembangan Initial Public Offering (IPO), terdapat 29 perusahaan tercatat baru di BEI sampai dengan 1 Juli 2020 dan terdapat 22 pipeline pencatatan efek saham baru. Pencapaian Perusahaan Tercatat Baru di BEI ini merupakan jumlah tertinggi di antara bursa efek di kawasan ASEAN.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menperin: Kawasan Industri Tetap Miliki Izin Operasional Meski Ada Covid-19
Hingga 17 Juni 2020, terdapat 296 perusahaan tercatat atau 43,3% dari total perusahaan tercatat di BEI telah menyampaikan Laporan Keuangan Kuartal 1-2020. Total agregat laba bersih dari 296 Perusahaan Tersebut pada Kuartal 1 (Q1) 2020 mencapai Rp 63,4 triliun atau mengalami penurunan sebesar 19,71% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai perhitungan kinerja keuangan Perusahaan Tercatat ini akan terus bergerak, karena  batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Q1-2020 Perusahaan Tercatat direlaksasi sampai  akhir 30 Juni 2020.
Adapun komposisi persentase penyampaian Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat Q1-2020 di Indonesia yang sebanyak 43,3% tersebut sejalan dengan tren di kawasan regional ASEAN, meliputi Singapura dan Malaysia masing-masing 34% dan 66% dari total Perusahaan Tercatat yang ada di kedua bursa di negara tersebut.Dari sisi investor pasar modal, sampai dengan Mei 2020, terdapat  pertumbuhan jumlah investor sebesar 13% menjadi 2,81 juta investor, yang  terdiri dari investor saham, reksa dana, dan obligasi, dibandingkan  akhir tahun lalu. Investor saham mengalami kenaikan sebesar 8% dari  tahun 2019 atau mencapai 1,19 juta investor saham berdasarkan Single  Investor Identification (SID) per Mei 2020. Jika dilihat dari  klasifikasi usia investor, Pasar Modal Indonesia mulai didominasi oleh  investor muda dan milenial, tercermin dari tren pertumbuhan investor  saham yang berada pada usia 18-30 tahun dalam 4 tahun terakhir.
Pertumbuhan aktivitas investor ritel dalam tiga bulan terakhir juga  melonjak yang secara rata-rata naik lebih dari 50% (periode April -Juni  2020) dibandingkan di periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari sisi  jumlah produk berbasis Local Index, pertumbuhan Exchange Traded Fund  (ETF) yang eksponensial, membuat Indonesia menduduki peringkat pertama  di ASEAN, seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan sejak 2018.
Pada Juni 2020, telah dicatatkan 2 produk ETF baru di BEI, sehingga  sampai dengan saat ini, telah terdapat 45 ETF tercatat, 22 Manajer  Investasi Penerbit ETF, dan 7 Dealer Partisipan ETF di Pasar Modal  Indonesia. Nilai transaksi ETF secara keseluruhan juga terus menunjukkan  peningkatan yang signifikan pada beberapa tahun terakhir dengan  rata-rata pertumbuhan sebesar 55% sejak 2016 sampai dengan 2019.
Sebagai upaya dukungan terhadap program pemerintah dalam memitigasi  dampak COVID-19 terhadap aktivitas perekonomian nasional,  Self-Regulatory Organisation (SRO) melalui koordinasi bersama-sama  dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menetapkan serangkaian  stimulus yang akan diberikan kepada stakeholders pasar modal.   Diantaranya, pertama, dukungan BEI dalam penyediaan infrastruktur  teknologi informasi (TI) kepada Anggota Bursa (AB) selama work from home  (WFH) dengan menggunakan internet dan cloud.
Kedua, pemotongan biaya pencatatan saham tambahan sebesar 50% dari  perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat. Ketiga,  penerapan relaksasi atas Dana Jaminan dengan memberikan keringanan atas  kutipan setoran Dana Jaminan kepada Anggota Kliring yang sebelumnya  sebesar 0,01% menjadi 0,005% dari nilai setiap Transaksi Bursa atas Efek  Bersifat Ekuitas.
Keempat, penerapan relaksasi keringanan biaya kepada penerbit efek  berupa pembebasan biaya penggunaan e-Proxy, pembebasan biaya Pendaftaran  Efek Awal atas Efek yang diterbitkan melalui Equity Crowdfunding (ECF),  dan pengurangan Biaya Pendaftaran Efek Tahunan sebesar 50% atas Efek  yang diterbitkan melalui ECF.
Kelima, pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan Virtual  Private Network (VPN), penyesuaian biaya penyimpanan (safekeeping fees)  sebesar 10% dari sebelumnya 0,005% per tahun menjadi 0,0045% per tahun.   Keenam, dukungan kepada industri reksa dana berupa pemberian alternatif  jaringan koneksi menggunakan VPN, penyesuaian biaya bulanan produk  investasi untuk produk investasi yang terdaftar, dan pembebasan biaya  pendaftaran Produk Investasi yang didaftarkan.
(TIM BEI)</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Memasuki era New Normal di pertengahan 2020 Pandemi Coronavirus Disease (covid-19) masih menjadi tema utama perbincangan di berbagai sektor.  Di pasar modal Indonesia, peristiwa ini turut direspons para investor dalam menentukan keputusan arah investasi. Membincangkan optimisme di tengah pandemi, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengundang wartawan Pasar Modal Indonesia berdiskusi secara virtual akhir Juni lalu, untuk menginformasikan perkembangan Pasar Modal Indonesia terkini.
Saat ini hampir seluruh kinerja indeks Bursa Global mengalami penurunan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sebesar 21,13% di level 4.905 pada 30 Juni 2020, dibanding akhir tahun 2019. Pada umumnya, seluruh indeks sektoral mengalami penurunan secara year to date. Sektor yang mengalami penurunan paling dalam selama tahun 2020 adalah sektor property dan real estate sebesar -36,09%. Di sisi lain, sektor consumer goods menunjukkan kinerja indeks yang relatif baik dibandingkan indeks acuannya (IHSG dan LQ45). Bahkan, sektor consumer goods mampu mencatatkan kinerja positif sejak adanya pengumuman kasus COVID-19 pertama di Indonesia.
Baca Juga:&amp;nbsp;Distribusi Logistik dari Kawasan Industri Batang ke Pelabuhan Tanjung Mas Cuma 50 Menit
Positifnya, aktivitas perdagangan justru terus meningkat. Rata-rata frekuensi perdagangan meningkat 9,64% menjadi 514 ribu kali per hari dengan rata-rata total nilai transaksi dan volume transaksi masing-masing sebesar Rp 7,67 triliun per hari dan 7,63 miliar lembar per hari. Sejak Maret 2020, aktivitas transaksi terus mengalami peningkatan seiring diterbitkannya rangkaian kebijakan Pemerintah dan otoritas sektor keuangan dalam melakukan stabilisasi kondisi perekonomian dalam negeri. Meski aktivitas ekonomi nasional dibayangi Pandemi COVID-19, hal ini tidak menyurutkan minat perusahaan untuk masuk ke pasar modal.
Sementara perkembangan Initial Public Offering (IPO), terdapat 29 perusahaan tercatat baru di BEI sampai dengan 1 Juli 2020 dan terdapat 22 pipeline pencatatan efek saham baru. Pencapaian Perusahaan Tercatat Baru di BEI ini merupakan jumlah tertinggi di antara bursa efek di kawasan ASEAN.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menperin: Kawasan Industri Tetap Miliki Izin Operasional Meski Ada Covid-19
Hingga 17 Juni 2020, terdapat 296 perusahaan tercatat atau 43,3% dari total perusahaan tercatat di BEI telah menyampaikan Laporan Keuangan Kuartal 1-2020. Total agregat laba bersih dari 296 Perusahaan Tersebut pada Kuartal 1 (Q1) 2020 mencapai Rp 63,4 triliun atau mengalami penurunan sebesar 19,71% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai perhitungan kinerja keuangan Perusahaan Tercatat ini akan terus bergerak, karena  batas waktu penyampaian Laporan Keuangan Q1-2020 Perusahaan Tercatat direlaksasi sampai  akhir 30 Juni 2020.
Adapun komposisi persentase penyampaian Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat Q1-2020 di Indonesia yang sebanyak 43,3% tersebut sejalan dengan tren di kawasan regional ASEAN, meliputi Singapura dan Malaysia masing-masing 34% dan 66% dari total Perusahaan Tercatat yang ada di kedua bursa di negara tersebut.Dari sisi investor pasar modal, sampai dengan Mei 2020, terdapat  pertumbuhan jumlah investor sebesar 13% menjadi 2,81 juta investor, yang  terdiri dari investor saham, reksa dana, dan obligasi, dibandingkan  akhir tahun lalu. Investor saham mengalami kenaikan sebesar 8% dari  tahun 2019 atau mencapai 1,19 juta investor saham berdasarkan Single  Investor Identification (SID) per Mei 2020. Jika dilihat dari  klasifikasi usia investor, Pasar Modal Indonesia mulai didominasi oleh  investor muda dan milenial, tercermin dari tren pertumbuhan investor  saham yang berada pada usia 18-30 tahun dalam 4 tahun terakhir.
Pertumbuhan aktivitas investor ritel dalam tiga bulan terakhir juga  melonjak yang secara rata-rata naik lebih dari 50% (periode April -Juni  2020) dibandingkan di periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari sisi  jumlah produk berbasis Local Index, pertumbuhan Exchange Traded Fund  (ETF) yang eksponensial, membuat Indonesia menduduki peringkat pertama  di ASEAN, seiring dengan pertumbuhannya yang signifikan sejak 2018.
Pada Juni 2020, telah dicatatkan 2 produk ETF baru di BEI, sehingga  sampai dengan saat ini, telah terdapat 45 ETF tercatat, 22 Manajer  Investasi Penerbit ETF, dan 7 Dealer Partisipan ETF di Pasar Modal  Indonesia. Nilai transaksi ETF secara keseluruhan juga terus menunjukkan  peningkatan yang signifikan pada beberapa tahun terakhir dengan  rata-rata pertumbuhan sebesar 55% sejak 2016 sampai dengan 2019.
Sebagai upaya dukungan terhadap program pemerintah dalam memitigasi  dampak COVID-19 terhadap aktivitas perekonomian nasional,  Self-Regulatory Organisation (SRO) melalui koordinasi bersama-sama  dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menetapkan serangkaian  stimulus yang akan diberikan kepada stakeholders pasar modal.   Diantaranya, pertama, dukungan BEI dalam penyediaan infrastruktur  teknologi informasi (TI) kepada Anggota Bursa (AB) selama work from home  (WFH) dengan menggunakan internet dan cloud.
Kedua, pemotongan biaya pencatatan saham tambahan sebesar 50% dari  perhitungan nilai masing-masing biaya bagi perusahaan tercatat. Ketiga,  penerapan relaksasi atas Dana Jaminan dengan memberikan keringanan atas  kutipan setoran Dana Jaminan kepada Anggota Kliring yang sebelumnya  sebesar 0,01% menjadi 0,005% dari nilai setiap Transaksi Bursa atas Efek  Bersifat Ekuitas.
Keempat, penerapan relaksasi keringanan biaya kepada penerbit efek  berupa pembebasan biaya penggunaan e-Proxy, pembebasan biaya Pendaftaran  Efek Awal atas Efek yang diterbitkan melalui Equity Crowdfunding (ECF),  dan pengurangan Biaya Pendaftaran Efek Tahunan sebesar 50% atas Efek  yang diterbitkan melalui ECF.
Kelima, pemberian alternatif jaringan koneksi menggunakan Virtual  Private Network (VPN), penyesuaian biaya penyimpanan (safekeeping fees)  sebesar 10% dari sebelumnya 0,005% per tahun menjadi 0,0045% per tahun.   Keenam, dukungan kepada industri reksa dana berupa pemberian alternatif  jaringan koneksi menggunakan VPN, penyesuaian biaya bulanan produk  investasi untuk produk investasi yang terdaftar, dan pembebasan biaya  pendaftaran Produk Investasi yang didaftarkan.
(TIM BEI)</content:encoded></item></channel></rss>
