<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Masalah Bank Bukan Likuiditas tapi Crunch, Apa Itu?</title><description>Chatib Basri mengungkapkan persoalan perbankan saat ini bukanlah likuiditas, melainkan crunch di tengah pandemi Covid-19.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu"/><item><title>Masalah Bank Bukan Likuiditas tapi Crunch, Apa Itu?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu</guid><pubDate>Senin 20 Juli 2020 15:56 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu-HYd19QWK2O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Masalah Bank (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/20/320/2249244/masalah-bank-bukan-likuiditas-tapi-crunch-apa-itu-HYd19QWK2O.jpg</image><title>Masalah Bank (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan persoalan perbankan saat ini bukanlah likuiditas, melainkan crunch di tengah pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, credit crunch yakni keengganan perbankan menyalurkan kredit karena tidak ada permintaan. Apabila dipaksa memberikan kredit, kemungkinan akan berdampak pada kredit macet dan memunculkan masalah likuiditas pada 2021.

&quot;Jadi persoalan yang dihadapi bank saat ini bukan isu likuiditas. Di mana likuiditas di bank itu baik. Maka itu upaya mendorong sektor perbankan seperti memberikan likuiditas mungkin tidak efektif,&quot; ujar dia dalam telekonferensi, Senin (20/7/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Mantan Menkeu: Dulu Hemat Pangkal Kaya, Sekarang Belanja Pulihkan Ekonomi
Pihaknya juga meminta pemerintah dan bank berhati-hati pada tahun 2021. Pasalnya ada kebijakan restrukturisasi kredit saat pandemi Covid-19.

&quot;Restrukturisasi ini membuat debitur mendapat keringanan dalam pembayaran kredit dan debitur dengan status kolektibilitas 1 dan kolektibilitas 2 dianggap lancar,&quot; ungkap dia.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menkeu Era SBY Sarankan BLT Ditambah Rp120 Triliun&amp;nbsp;
Namun, tutur dia, lancar atau tidaknya debitur akan benar-benar terlihat saat kebijakan restrukturisasi telah usai.

&quot;Nanti OJK mengakhiri relaksasi, pada saat itu kita tahu adanya kredit macet atau tidak. Disitulah persoalan likuiditas, NPL, profitabilitas akan ada. Maka Kita harus siap-siap di 2021,&quot; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan persoalan perbankan saat ini bukanlah likuiditas, melainkan crunch di tengah pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, credit crunch yakni keengganan perbankan menyalurkan kredit karena tidak ada permintaan. Apabila dipaksa memberikan kredit, kemungkinan akan berdampak pada kredit macet dan memunculkan masalah likuiditas pada 2021.

&quot;Jadi persoalan yang dihadapi bank saat ini bukan isu likuiditas. Di mana likuiditas di bank itu baik. Maka itu upaya mendorong sektor perbankan seperti memberikan likuiditas mungkin tidak efektif,&quot; ujar dia dalam telekonferensi, Senin (20/7/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Mantan Menkeu: Dulu Hemat Pangkal Kaya, Sekarang Belanja Pulihkan Ekonomi
Pihaknya juga meminta pemerintah dan bank berhati-hati pada tahun 2021. Pasalnya ada kebijakan restrukturisasi kredit saat pandemi Covid-19.

&quot;Restrukturisasi ini membuat debitur mendapat keringanan dalam pembayaran kredit dan debitur dengan status kolektibilitas 1 dan kolektibilitas 2 dianggap lancar,&quot; ungkap dia.
Baca Juga:&amp;nbsp;Menkeu Era SBY Sarankan BLT Ditambah Rp120 Triliun&amp;nbsp;
Namun, tutur dia, lancar atau tidaknya debitur akan benar-benar terlihat saat kebijakan restrukturisasi telah usai.

&quot;Nanti OJK mengakhiri relaksasi, pada saat itu kita tahu adanya kredit macet atau tidak. Disitulah persoalan likuiditas, NPL, profitabilitas akan ada. Maka Kita harus siap-siap di 2021,&quot; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
