<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Tantangan Baru Perdagangan Global di Era Covid-19, Konsumen Ingin Produk Bersih</title><description>Pandemi Covid-19 turut menimbulkan adanya tantangan dalam perdagangan global.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih"/><item><title>   Tantangan Baru Perdagangan Global di Era Covid-19, Konsumen Ingin Produk Bersih</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih</guid><pubDate>Rabu 22 Juli 2020 18:09 WIB</pubDate><dc:creator>Ferdi Rantung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih-lCfGVf6e9G.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Virus Corona (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/07/22/320/2250460/tantangan-baru-perdagangan-global-di-era-covid-19-konsumen-ingin-produk-bersih-lCfGVf6e9G.jpg</image><title>Virus Corona (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi Covid-19 turut menimbulkan adanya tantangan dalam perdagangan global. Tantangan tersebut dimulai dari adanya perubahan perilaku hingga perundingan kerja sama perdagangan antar negara.
Baca Juga: Pengakuan Sri Mulyani soal Utang Pemerintah Naik Rp693,9 Triliun&amp;nbsp;
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto mengatakan, yang paling terlihat dampaknya adalah terjadinya perubahan perilaku konsumen pada pola perdagangan.

&quot;Konsumen menjadi selektif dalam membeli barang dan memprioritaskan keamanan serta higienitas suatu produk. Pola perdagangan juga bergeser karena pandemi dan berkembangnya digital trade dari konvensional ke e-commerce,&quot; ujar Agus dalam webinar, Rabu (22/7/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Perdagangan Indonesia-Singapura Anjlok hingga 11,6% Selama Corona&amp;nbsp;
Agus menambahkan, banyak negara juga yang saat ini melakukan hambatan perdagangan dengan alasan melindungi industri dalam negeri dan konsumennya.

&quot;Beberapa kebijakan seperti anti-dumping, subsidy, safeguards seperti Uni Eropa, AS dan Brazil,&quot; ucapnya.

Agus mengatakan, kerja sama perdagangan antara negara di dunia di masa pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan perundingan kerja sama perdagangan menjadi sulit diselesaikan.

&quot;Potensi defisit dan resesi ekonomi sebagai akibat sulitnya transaksi perdagangan karena menerapkan lockdown dan PSBB di Indonesia menyebabkan terjadinya defisit,&quot; kata Agus.

Selain itu, perang dagang AS-China juga memberikan sumbangan terhadap penurunan perdagangan dunia. Gesekan antara Uni Eropa-Amerika Serikat yang memprotes Turki terkait peralihan Hagia Sophia dari museum menjadi masjid juga memungkinkan dapat mempengaruhi perdagangan.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi Covid-19 turut menimbulkan adanya tantangan dalam perdagangan global. Tantangan tersebut dimulai dari adanya perubahan perilaku hingga perundingan kerja sama perdagangan antar negara.
Baca Juga: Pengakuan Sri Mulyani soal Utang Pemerintah Naik Rp693,9 Triliun&amp;nbsp;
Menteri Perdagangan, Agus Suparmanto mengatakan, yang paling terlihat dampaknya adalah terjadinya perubahan perilaku konsumen pada pola perdagangan.

&quot;Konsumen menjadi selektif dalam membeli barang dan memprioritaskan keamanan serta higienitas suatu produk. Pola perdagangan juga bergeser karena pandemi dan berkembangnya digital trade dari konvensional ke e-commerce,&quot; ujar Agus dalam webinar, Rabu (22/7/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Perdagangan Indonesia-Singapura Anjlok hingga 11,6% Selama Corona&amp;nbsp;
Agus menambahkan, banyak negara juga yang saat ini melakukan hambatan perdagangan dengan alasan melindungi industri dalam negeri dan konsumennya.

&quot;Beberapa kebijakan seperti anti-dumping, subsidy, safeguards seperti Uni Eropa, AS dan Brazil,&quot; ucapnya.

Agus mengatakan, kerja sama perdagangan antara negara di dunia di masa pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan perundingan kerja sama perdagangan menjadi sulit diselesaikan.

&quot;Potensi defisit dan resesi ekonomi sebagai akibat sulitnya transaksi perdagangan karena menerapkan lockdown dan PSBB di Indonesia menyebabkan terjadinya defisit,&quot; kata Agus.

Selain itu, perang dagang AS-China juga memberikan sumbangan terhadap penurunan perdagangan dunia. Gesekan antara Uni Eropa-Amerika Serikat yang memprotes Turki terkait peralihan Hagia Sophia dari museum menjadi masjid juga memungkinkan dapat mempengaruhi perdagangan.
</content:encoded></item></channel></rss>
