<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rakyat Butuh Duit untuk Geber Pertumbuhan Ekonomi yang Minus</title><description>Bisa dengan memberikan uang tunai atau melalui program padat karya tunai.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus"/><item><title>Rakyat Butuh Duit untuk Geber Pertumbuhan Ekonomi yang Minus</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus</guid><pubDate>Rabu 05 Agustus 2020 16:40 WIB</pubDate><dc:creator>Feby Novalius</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus-IksaYo93HP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cara Cepat untuk Dorong Ekonomi adalah Meningkatkan Konsumsi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/05/20/2257466/rakyat-butuh-duit-untuk-geber-pertumbuhan-ekonomi-yang-minus-IksaYo93HP.jpg</image><title>Cara Cepat untuk Dorong Ekonomi adalah Meningkatkan Konsumsi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kebijakan untuk mempercepat konsumsi masyarakat sangat dibutuhkan guna menggerakan pertumbuhan ekonomi supaya positif. Pada kuartal II-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencata ekonomi Indonesia minus 5,32%.
Menurut Ekonom Bank BCA David Sumual, cara paling mudah untuk mendorong ekonomi adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Bisa dengan memberikan uang tunai atau melalui program padat karya tunai.
Baca Juga:&amp;nbsp;Dana Pilkada Rp35 Triliun Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari Resesi?
&quot;Paling gampang cash transfer dan cash forward, ada proyek apa seperti program padat karya bisa didorong. Ini bukan di ruang tertutup seperti di pabrik yak, didorong kaya irigasi,&quot; tuturnya saat dihubungi Okezone, Rabu (5/8/2020).
Meski pemerintah sudah memberikan bantuan sosial untuk menggerakan konsumsi masyarakat, hal tersebut belum maksimal. Sebab, bentuk  natural seperti bansos berupa makanan, mie, gula, tidak terlalu diperlukan saat ini.
&quot;Mungkin dia butuh untuk anak sekolah di tahun ajaran baru tapi kena PHK. Kita tidak tahu kebutuhan masing-masing, tapi ini kebutuhan mendesak, seperti juga kesehatan dia butuh buat beli obat. Jadi lebih optimal,&quot; tuturnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ekonomi RI Minus 5,32%, Pemerintah Bakal 'Buang-Buang' Duit
Langkah tersebut, lanjut David, perlu mulai dipikirkan pemerintah. Sebab sudah banyak negara bukan hanya memberikan bansos, tapi bisa uang tunai.
&quot;Kalau di India itu ditransfer ke akun masing-masing yang butuh. Di AS pakai cek untuk dibelanjakan. Jadi yang kena PHK atau masyakarakat berpenghasilan kecil dan kehilangan pekerjaan bisa lewat bantuan seperti itu, itu lebih cepat pengaruhnya,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kebijakan untuk mempercepat konsumsi masyarakat sangat dibutuhkan guna menggerakan pertumbuhan ekonomi supaya positif. Pada kuartal II-2020, Badan Pusat Statistik (BPS) mencata ekonomi Indonesia minus 5,32%.
Menurut Ekonom Bank BCA David Sumual, cara paling mudah untuk mendorong ekonomi adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Bisa dengan memberikan uang tunai atau melalui program padat karya tunai.
Baca Juga:&amp;nbsp;Dana Pilkada Rp35 Triliun Bisa Selamatkan Ekonomi Indonesia dari Resesi?
&quot;Paling gampang cash transfer dan cash forward, ada proyek apa seperti program padat karya bisa didorong. Ini bukan di ruang tertutup seperti di pabrik yak, didorong kaya irigasi,&quot; tuturnya saat dihubungi Okezone, Rabu (5/8/2020).
Meski pemerintah sudah memberikan bantuan sosial untuk menggerakan konsumsi masyarakat, hal tersebut belum maksimal. Sebab, bentuk  natural seperti bansos berupa makanan, mie, gula, tidak terlalu diperlukan saat ini.
&quot;Mungkin dia butuh untuk anak sekolah di tahun ajaran baru tapi kena PHK. Kita tidak tahu kebutuhan masing-masing, tapi ini kebutuhan mendesak, seperti juga kesehatan dia butuh buat beli obat. Jadi lebih optimal,&quot; tuturnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ekonomi RI Minus 5,32%, Pemerintah Bakal 'Buang-Buang' Duit
Langkah tersebut, lanjut David, perlu mulai dipikirkan pemerintah. Sebab sudah banyak negara bukan hanya memberikan bansos, tapi bisa uang tunai.
&quot;Kalau di India itu ditransfer ke akun masing-masing yang butuh. Di AS pakai cek untuk dibelanjakan. Jadi yang kena PHK atau masyakarakat berpenghasilan kecil dan kehilangan pekerjaan bisa lewat bantuan seperti itu, itu lebih cepat pengaruhnya,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
