<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI Minus 5,32%, Tim Pemulihan Ekonomi: Kita Tidak Kaget</title><description>Badan Pusat Statistika (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi minus 5,32%</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget"/><item><title>Ekonomi RI Minus 5,32%, Tim Pemulihan Ekonomi: Kita Tidak Kaget</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget</guid><pubDate>Senin 10 Agustus 2020 13:25 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget-69UdDTmgkn.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi RI Minus (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/10/20/2259748/ekonomi-ri-minus-5-32-tim-pemulihan-ekonomi-kita-tidak-kaget-69UdDTmgkn.jpg</image><title>Ekonomi RI Minus (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistika (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi minus 5,32% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini disebabkan adanya pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak Maret.
Baca Juga:&amp;nbsp;Alhamdulillah, Gaji ke-13 PNS Sudah Cair&amp;nbsp;
Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Raden Pardede mengatakan, angka penurunan ekonomi sebesar itu sudah terbaca oleh pihaknya setelah melihat adanya pembatasan aktivitas untuk menurunkan angka penyebaran Covid-19. Sehingga, tak perlu dicemasi karena memang kontraksi hingga minus 5,32% sudah terprediksi.

&amp;ldquo;Tentu kita tidak kaget, karena kita lihat dari berbagai data sebelumnya, itu menunjukkan memang penurunan kegiatan secara siginifikan sejak bulan April,&amp;rdquo; kata Raden dalam diskusi virtual, Senin (10/8/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Bantuan Karyawan Rp600.000/Bulan Bisa Tingkatkan Konsumsi?&amp;nbsp;
Dia menjelaskan, penyebab utamanya karena adanya pembatasan kegiatan ekonomi dan sosial yang digaungkan pemerintah sejak April. Lagi pula, kontraksi itu juga terjadi di seluruh negara yang terkena dampak pandemi Covid-19 seperti, Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia.

&amp;ldquo;Jadi seluruh dunia kontraksi. Bukan sesuatu yang kaget, tapi kita prihatin, supaya tidak terjadi kontraksi yang berlebihan,&amp;rdquo; ujarnya.

Dia menyebut, pihaknya kini sedang berupaya dengan memberikan berbagai masukan kepada pemerintah agar kuartal III nanti tidak menunjukkan tren pertumbuhan yang negatif.

&amp;ldquo;Kalau kontraksi lagi di kuartal III itu kita menyebutnya sebagai resesi,&amp;rdquo; katanya.</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistika (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 mengalami kontraksi minus 5,32% dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini disebabkan adanya pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda Tanah Air sejak Maret.
Baca Juga:&amp;nbsp;Alhamdulillah, Gaji ke-13 PNS Sudah Cair&amp;nbsp;
Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Raden Pardede mengatakan, angka penurunan ekonomi sebesar itu sudah terbaca oleh pihaknya setelah melihat adanya pembatasan aktivitas untuk menurunkan angka penyebaran Covid-19. Sehingga, tak perlu dicemasi karena memang kontraksi hingga minus 5,32% sudah terprediksi.

&amp;ldquo;Tentu kita tidak kaget, karena kita lihat dari berbagai data sebelumnya, itu menunjukkan memang penurunan kegiatan secara siginifikan sejak bulan April,&amp;rdquo; kata Raden dalam diskusi virtual, Senin (10/8/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Bantuan Karyawan Rp600.000/Bulan Bisa Tingkatkan Konsumsi?&amp;nbsp;
Dia menjelaskan, penyebab utamanya karena adanya pembatasan kegiatan ekonomi dan sosial yang digaungkan pemerintah sejak April. Lagi pula, kontraksi itu juga terjadi di seluruh negara yang terkena dampak pandemi Covid-19 seperti, Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia.

&amp;ldquo;Jadi seluruh dunia kontraksi. Bukan sesuatu yang kaget, tapi kita prihatin, supaya tidak terjadi kontraksi yang berlebihan,&amp;rdquo; ujarnya.

Dia menyebut, pihaknya kini sedang berupaya dengan memberikan berbagai masukan kepada pemerintah agar kuartal III nanti tidak menunjukkan tren pertumbuhan yang negatif.

&amp;ldquo;Kalau kontraksi lagi di kuartal III itu kita menyebutnya sebagai resesi,&amp;rdquo; katanya.</content:encoded></item></channel></rss>
