<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ekonomi RI di Ambang Resesi, Investasi Apa yang Cuan?</title><description>Ancaman resesi pada perekonomian Indonesia jangan menjadi alasan untuk takut berinvestasi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/13/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/13/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan"/><item><title>Ekonomi RI di Ambang Resesi, Investasi Apa yang Cuan?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/13/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/13/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan</guid><pubDate>Kamis 13 Agustus 2020 09:24 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/12/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan-wC2kHqel17.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/12/320/2261264/ekonomi-ri-di-ambang-resesi-investasi-apa-yang-cuan-wC2kHqel17.jpeg</image><title>Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ancaman resesi pada perekonomian Indonesia jangan menjadi alasan untuk takut berinvestasi. Karena sebenarnya, investasi masih menjadi salah satu opsi yang menguntungkan sebagai tabungan di masa mendatang.
Namun dalam berinvestasi harus dilakukan secara hati-hati agar uang tidak melayang. Oleh karena itu, salah satu yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu jenis instrumen investasi beserta risikonya.
Baca juga: Bantuan Karyawan Rp600.000/Bulan Bisa Tingkatkan Konsumsi?
Adapun instrumen investasi sendiri sangat beragam sekali jenisnya. Dari mulai investasi di reksa dana, pasar saham, pasar keuangan, deposito, properti hingga emas batangan atau logam mulia.
Lantas instrumen seperti apa yang cocok dan memiliki risiko rendah saat pandemi seperti ini? Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan dalam setiap investasi memang selalu ada risiko hanya saja tergantung dari besar atau kecilnya tingkat risiko tersebut.
Baca juga: Cara dan Syarat Mendapatkan Bantuan Rp600.000 bagi Pekerja Gaji di Bawah Rp5 Juta 
Oleh karena itu agar risiko tersebut bisa diminimalisir, ada baiknya untuk menyeimbangkan uang yang akan diinvestasikan. Misalnya, dengan uang Rp1 juta, maka agar tingkat risikonya rendah maka dibagi ke dalam beberapa instrumen.
&quot;Kalau kita bicara balance, kalau dalam investasi itu sebenarnya terdiversifikasi dengan baik sebenarnya. Maksudnya gini, kalau kita hanya beli saham saja, menjaga likuiditas saja, kita kan tidak mendeversifikasi kita hanya berkonsentrasi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (12/8/2020).
Selain itu lanjut Mike, uang yang diinvestasikan juga harus diperhitungkan. Jangan sampai seluruh penghasilan dialokasikan untuk investasi sehingga ketika instrumen tersebut turun tidak akan rugi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNy8yNy80LzEyMTg5MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Apalagi dalam situasi ekonomi yang tidak menentu ini, likuiditas  keuangan pribadi sangat penting untuk dijaga.  likuiditas yang harus  dijaga mencakup pertama adalah untuk dana darurat, investasi dan juga  asuransi. Adapun dana darurat ini sangat penting untuk mengcover  kebutuhan yang tak bisa dipenuhi dengan asuransi.
Kemudian yang kedua adalah untuk investasi. Namun, dalam  menginvestasikan ini juga perlu berhati-hati dan harus memilih yang  sifatnya konservatif agar lebih aman.
Lalu jangan lupa untuk menyiapkan asuransi. Khususnya asuransi yang  bisa mengcover risiko keuangan tertentu seperti kesehatan dan kematian.
&quot;Jadi kalau mau balance kita harus mendiversifikasi. Jadi punya namun  tetap sesuai dengan profil risiko investasi kita. Nah contohnya begini,  karena ingin balance dan terdiversifikasi dengan baik anda harus  investasi,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ancaman resesi pada perekonomian Indonesia jangan menjadi alasan untuk takut berinvestasi. Karena sebenarnya, investasi masih menjadi salah satu opsi yang menguntungkan sebagai tabungan di masa mendatang.
Namun dalam berinvestasi harus dilakukan secara hati-hati agar uang tidak melayang. Oleh karena itu, salah satu yang harus dilakukan adalah memahami terlebih dahulu jenis instrumen investasi beserta risikonya.
Baca juga: Bantuan Karyawan Rp600.000/Bulan Bisa Tingkatkan Konsumsi?
Adapun instrumen investasi sendiri sangat beragam sekali jenisnya. Dari mulai investasi di reksa dana, pasar saham, pasar keuangan, deposito, properti hingga emas batangan atau logam mulia.
Lantas instrumen seperti apa yang cocok dan memiliki risiko rendah saat pandemi seperti ini? Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan dalam setiap investasi memang selalu ada risiko hanya saja tergantung dari besar atau kecilnya tingkat risiko tersebut.
Baca juga: Cara dan Syarat Mendapatkan Bantuan Rp600.000 bagi Pekerja Gaji di Bawah Rp5 Juta 
Oleh karena itu agar risiko tersebut bisa diminimalisir, ada baiknya untuk menyeimbangkan uang yang akan diinvestasikan. Misalnya, dengan uang Rp1 juta, maka agar tingkat risikonya rendah maka dibagi ke dalam beberapa instrumen.
&quot;Kalau kita bicara balance, kalau dalam investasi itu sebenarnya terdiversifikasi dengan baik sebenarnya. Maksudnya gini, kalau kita hanya beli saham saja, menjaga likuiditas saja, kita kan tidak mendeversifikasi kita hanya berkonsentrasi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (12/8/2020).
Selain itu lanjut Mike, uang yang diinvestasikan juga harus diperhitungkan. Jangan sampai seluruh penghasilan dialokasikan untuk investasi sehingga ketika instrumen tersebut turun tidak akan rugi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNy8yNy80LzEyMTg5MC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Apalagi dalam situasi ekonomi yang tidak menentu ini, likuiditas  keuangan pribadi sangat penting untuk dijaga.  likuiditas yang harus  dijaga mencakup pertama adalah untuk dana darurat, investasi dan juga  asuransi. Adapun dana darurat ini sangat penting untuk mengcover  kebutuhan yang tak bisa dipenuhi dengan asuransi.
Kemudian yang kedua adalah untuk investasi. Namun, dalam  menginvestasikan ini juga perlu berhati-hati dan harus memilih yang  sifatnya konservatif agar lebih aman.
Lalu jangan lupa untuk menyiapkan asuransi. Khususnya asuransi yang  bisa mengcover risiko keuangan tertentu seperti kesehatan dan kematian.
&quot;Jadi kalau mau balance kita harus mendiversifikasi. Jadi punya namun  tetap sesuai dengan profil risiko investasi kita. Nah contohnya begini,  karena ingin balance dan terdiversifikasi dengan baik anda harus  investasi,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
