<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Pembangunan Tugu Proklamasi, Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia</title><description>Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia"/><item><title>Sejarah Pembangunan Tugu Proklamasi, Saksi Bisu Kemerdekaan Indonesia</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia</guid><pubDate>Senin 17 Agustus 2020 09:04 WIB</pubDate><dc:creator>Safira Fitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia-Z4FggXRCp8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tugu Proklamasi (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/17/470/2263269/sejarah-pembangunan-tugu-proklamasi-saksi-bisu-kemerdekaan-indonesia-Z4FggXRCp8.jpg</image><title>Tugu Proklamasi (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia. Perjuangan para pahlawan pun diperingati dengan beragam cara, salah satunya melalui kisah atau sejarah bangsa.
Bangunan bersejarah seperti Monumen atau Tugu Proklamasi menjadi saksi bahwa Indonesia merdeka dan bebas dari masa penjajahan kalau itu. Monumen ini juga disebut Tugu Petir yang didirikan di atas tanah lapang Kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dulu disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat. Kini dibuat sebagai peringatan proklamasi kemerdekaan RI.
Pada kompleks tersebut juga terdapat monumen dua patung Soekarno dan Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan.
Baca Juga: Gedung Joang Jadi Bangunan Bersejarah Kemerdekaan Indonesia
 
Seperti dilansir dari buku &quot;Indonesia Merdeka&quot; oleh Woro Miswati, Jakarta, (16/8/2020), lebih lanjut lagi, di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.
Dahulu, naskah Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan untuk pertama kalinya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 di halaman kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Rumah bersejarah ini yang dulu disebut Gedung Proklamasi, sudah tidak ada lagi sejak tahun 1960.
Bung Karno saat itu menyetujui usul Wakil Gubernur Daerah Chusus Jakarta (DCI), Henk Ngantung, untuk merenovasinya. Saat itu Soekarno sudah bermukim di Istana Negara. Sayangnya, renovasi tidak terealisasi.

Akhirnya, pada tanggal 1 Januari 1961 di lokasi ini Presiden Soekarno melakukan pencangkulan pertama di tanah untuk pembangunan tugu, yaitu Tugu Petir, yang kemudia disebut Tugu Proklamasi.
Tugu tersebut berbentuk bulatan tinggi berkepala lambang petir, seperti lambang PLN. Tulisan yang kemudian dicantumkan di tugu itu adalah &quot;Di sinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.&quot;.
Sekitar 50 meter di belakang tugu dibangun gedung yang menandai dimulanya pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Hanya bangunan ini saja yang berdiri di lokasi tersebut.
Di antara bangunan yang terdapat di lokasi ini, hanya Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia saja yang langsung terkait dengan nuansa revolusi karena diresmikan tanggal 17 Agustus 1946 saat sekutu masih berkuasa.Di atas tulisan yang dipahat di bahan marmer itu ada tulisan lain,  yaitu &quot;Atas Oesaha Wanita Djakarta&quot;. Di dinding sebaliknya ada kutipan  naskah proklamasi dan peta Indonesia juga dari marmer.
Bentuk tugu tersebut mirip lambang Polda Metropolitan Jakarta bila  kepalanya yang bergambar api berkobar dibuang. Tugu tersebut dibuat oleh  Dra. Yos Masdani Tumbuan.
Pada bulan Juni 1946, Yos Masdani sebagai seorang mahasiswi anggota  Ikatan Wanita Djakarta diminta untuk membuat tugu peringatan proklamasi.  Permintaan itu disampaikan Ratulangi dan Mien Wiranatakusumah. Tidak  disediakan dana untuk pembuatan tugu tersebut, kecuali disebutkan nama  pelaksananya, yaitu Aboetardjab dari Biro Teknik Kores Siregar, mantan  mahasiswa Tehnische Hoge School. Dana harus dicari bersama kawan-kawan  lain.
Pada saat menjelang peresmian, ada hambatan karena Wali Kota Jakarta,  Suwiryo, melarang peresmian pada tanggal 17 Agustus 1946. Ada larangan  dari Sekutu di Jakarta, Mr. Maramis yang hadir dalam pertemuan ini pun  khawatir. Bila dipaksakan, akan terjadi tragedi seperti di Amritsar  (India).
Tanggal 16 Agustus 1946 Sutan Sjahrir tiba di Jakarta dari  Yogyakarta. Ia menganggap peresmian itu ide yang bagus dan bersedia  meresmikannya. Pada hari peresmian memang patroli sekutu dan Gurkha  hilir-mudik, tetapi tidak terjadi keributan. Mungkin karena kehadiran  Perdana Menteri Sutan Sjahrir.</description><content:encoded>JAKARTA - Masyarakat Indonesia sedang merayakan Hari Kemerdekaan ke-75 Indonesia. Perjuangan para pahlawan pun diperingati dengan beragam cara, salah satunya melalui kisah atau sejarah bangsa.
Bangunan bersejarah seperti Monumen atau Tugu Proklamasi menjadi saksi bahwa Indonesia merdeka dan bebas dari masa penjajahan kalau itu. Monumen ini juga disebut Tugu Petir yang didirikan di atas tanah lapang Kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dulu disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat. Kini dibuat sebagai peringatan proklamasi kemerdekaan RI.
Pada kompleks tersebut juga terdapat monumen dua patung Soekarno dan Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan.
Baca Juga: Gedung Joang Jadi Bangunan Bersejarah Kemerdekaan Indonesia
 
Seperti dilansir dari buku &quot;Indonesia Merdeka&quot; oleh Woro Miswati, Jakarta, (16/8/2020), lebih lanjut lagi, di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.
Dahulu, naskah Proklamasi Kemerdekaan RI dibacakan untuk pertama kalinya oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 di halaman kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No. 56. Rumah bersejarah ini yang dulu disebut Gedung Proklamasi, sudah tidak ada lagi sejak tahun 1960.
Bung Karno saat itu menyetujui usul Wakil Gubernur Daerah Chusus Jakarta (DCI), Henk Ngantung, untuk merenovasinya. Saat itu Soekarno sudah bermukim di Istana Negara. Sayangnya, renovasi tidak terealisasi.

Akhirnya, pada tanggal 1 Januari 1961 di lokasi ini Presiden Soekarno melakukan pencangkulan pertama di tanah untuk pembangunan tugu, yaitu Tugu Petir, yang kemudia disebut Tugu Proklamasi.
Tugu tersebut berbentuk bulatan tinggi berkepala lambang petir, seperti lambang PLN. Tulisan yang kemudian dicantumkan di tugu itu adalah &quot;Di sinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.&quot;.
Sekitar 50 meter di belakang tugu dibangun gedung yang menandai dimulanya pelaksanaan Pembangunan Nasional Semesta Berencana. Hanya bangunan ini saja yang berdiri di lokasi tersebut.
Di antara bangunan yang terdapat di lokasi ini, hanya Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia saja yang langsung terkait dengan nuansa revolusi karena diresmikan tanggal 17 Agustus 1946 saat sekutu masih berkuasa.Di atas tulisan yang dipahat di bahan marmer itu ada tulisan lain,  yaitu &quot;Atas Oesaha Wanita Djakarta&quot;. Di dinding sebaliknya ada kutipan  naskah proklamasi dan peta Indonesia juga dari marmer.
Bentuk tugu tersebut mirip lambang Polda Metropolitan Jakarta bila  kepalanya yang bergambar api berkobar dibuang. Tugu tersebut dibuat oleh  Dra. Yos Masdani Tumbuan.
Pada bulan Juni 1946, Yos Masdani sebagai seorang mahasiswi anggota  Ikatan Wanita Djakarta diminta untuk membuat tugu peringatan proklamasi.  Permintaan itu disampaikan Ratulangi dan Mien Wiranatakusumah. Tidak  disediakan dana untuk pembuatan tugu tersebut, kecuali disebutkan nama  pelaksananya, yaitu Aboetardjab dari Biro Teknik Kores Siregar, mantan  mahasiswa Tehnische Hoge School. Dana harus dicari bersama kawan-kawan  lain.
Pada saat menjelang peresmian, ada hambatan karena Wali Kota Jakarta,  Suwiryo, melarang peresmian pada tanggal 17 Agustus 1946. Ada larangan  dari Sekutu di Jakarta, Mr. Maramis yang hadir dalam pertemuan ini pun  khawatir. Bila dipaksakan, akan terjadi tragedi seperti di Amritsar  (India).
Tanggal 16 Agustus 1946 Sutan Sjahrir tiba di Jakarta dari  Yogyakarta. Ia menganggap peresmian itu ide yang bagus dan bersedia  meresmikannya. Pada hari peresmian memang patroli sekutu dan Gurkha  hilir-mudik, tetapi tidak terjadi keributan. Mungkin karena kehadiran  Perdana Menteri Sutan Sjahrir.</content:encoded></item></channel></rss>
