<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bukan Cuma Kejar Untung, Kisah Penjual Keripik Berbisnis untuk Bekal Akhirat</title><description>Pemilik usaha repacking makanan ringan berbahan baku singkong dengan  merek Cavatoz justru punya niat lain saat mengembangkan usahanya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat"/><item><title>Bukan Cuma Kejar Untung, Kisah Penjual Keripik Berbisnis untuk Bekal Akhirat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat</guid><pubDate>Rabu 19 Agustus 2020 14:37 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat-EX1pSKaWGx.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Tips Memulai Bisnis (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/19/320/2264461/bukan-cuma-kejar-untung-kisah-penjual-keripik-berbisnis-untuk-bekal-akhirat-EX1pSKaWGx.jpeg</image><title>Ilustrasi Tips Memulai Bisnis (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Berbeda dengan orang yang mengejar keuntungan saat menjalankan bisnis. Ardhiana Iffa Farida pemilik usaha repacking makanan ringan berbahan baku singkong dengan merek Cavatoz justru punya niat lain saat mengembangkan usahanya.
Dia memilih jalur usaha dengan membawa value tersendiri. Tak hanya mendapatkan pundi-pundi materi tapi dia ingin bisnisnya menjadi bekal untuk akhirat kelak.
&quot;Setiap orang punya tujuan masing-masing dalam usaha atau bisnis. Namun bagi saya, bisnis yang saya bangun bisa memberi jalan dan bekal untuk kehidupan selanjutnya,&amp;rdquo; ujar perempuan yang biasa disapa Iffa dilansir dari Solopos.com, Rabu (19/8/2020).
Baca juga: Lowongan Kerja Data Analyst, Profesi yang Lagi Hype
Visi itulah yang menjadi bara penyemangat Iffa saat memulai usaha repacking produk camilan pada sekitar 2 tahun silam. Saat itu Iffa mulai menjual makanan ringan berbahan baku singkong dalam kemasan biasa.
Dia lantas menitipkan produknya tersebut ke warung-warung kecil seperti kedai minuman susu segar. Hal itu dia lakukan kurang lebih 1,5 tahun lamanya. Hingga kemudian dia mulai mengubah strategi bisnisnya. Dia juga memperbaiki kemasan produk dari semula plastik biasa menjadi kemasan model standing pouch yang terkesan lebih eksklusif.

Dia semakin percaya diri mengibarkan bisnis repacking camilan olahan singkong dengan merek Cavatoz, gethuk chips premium. Cavatoz kemudian memiliki dua macam produk, original yang dicampur dengan bumbu-bumbu tabur berbagai rasa seperti piza hingga cokelat.
Selain itu Cavatoz juga punya produk khusus yang menggunakan tambahan bumbu tanpa MSG dengan varian rasa beragam seperti pedas, rumput laut, hingga barbeque. Dia pun menaikkan harga jual produknya yang semula hanya Rp2.500 menjadi Rp15.000 per piece.
Selain memperbanyak varian rasa, perempuan yang tinggal di Sawahan, Ngemplak, Boyolali ini juga mengubah strategi pemasaran atau distribusi. &amp;ldquo;Saya juga tidak lagi menjual dengan cara menitipkan di warung-warung, tapi saya merekut agen dan reseller. Satu kota atau kabupaten hanya ada satu agen. Setiap agen memiliki beberapa reseller,&amp;rdquo; ungkap Iffa.Meski pola distribusi tersebut baru sekitar lima bulan diterapkan,  kini dia sudah memiliki sedikitnya 38 agen  dan 60 reseller yang  kebanyakan tersebar di Pulau Jawa hingga di Kalimantan. Dengan sistem  satu agen setiap kota atau kabupaten Iffa berusaha untuk membangun dan  menerapkan standard operating procedure (SOP) dengan benar.
Dia juga lebih memilih fokus untuk menggandeng agen atau reseller  daripada berjualan di marketplace. Namun dia membebaskan agen atau  reseller-nya bila ingin berjualan di platform tersebut.
Memiliki puluhan agen dan reseller, perempuan kelahiran tahun 1992  ini punya sejumlah cara agar mereka tetap semangat dalam memasarkan  produk Cavatoz.
Baca juga: Usaha Tahu Kripsi dengan Franchise, Simple tapi Menguntungkan
&amp;ldquo;Saya tidak memberikan target kepada mereka. Tapi saya akan  memberikan reward kepada agen yang berhasil mencapat target penjualan  tertentu seperti logam mulia,&amp;rdquo; jelas Iffa.
Secara berkala Iffa memberikan materi dan masukan dalam grup chat  mereka. &amp;ldquo;Karena kerja sama dan kolaborasi itu sangat penting dalam  meningkatkan usaha. Mereka pada agen dan reseller adalah partner, tanpa  mereka saya juga tidak bisa berkembang,&amp;rdquo; ujar perempuan yang bernah  bekerja sebagai guru SMA ini.
Dengan bantuan jaringan agen dan reseller tersebut, Cavatoz berhasil  terjual sedikitnya 4.000 pieces per bulan. Iffa berharap jumlah itu akan  terus meningkat seiring dengan semakin luasnya jangkauan pemasaran.
Pengalaman Mengikuti Expo UMKM Virtual
Bagi Iffa belajar dan meningkatkan wawasan dalam usaha adalah hal  yang sangat penting. Dia pun merasa senang bisa bergabung dengan  kegiatan Expo UMKM Virtual yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia  Solo dengan Solopos. Ada banyak hal positif yang dia dapatkan dalam  mengikuti kegiatan tersebut.
&amp;ldquo;Pertama saya mendapat ilmu yang sangat bermanfaat bagi usaha saya.  Selain itu saya juga bisa mendapatkan jaringan yang lebih luas lagi.  Kemudian saya juga bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan sesama UMKM,&amp;rdquo;  ujar Iffa.
Dia juga merasa senang terpilih menjadi salah satu UMKM yang  mendapatkan bantuan subsidi pulsa dari BI Solo. Ini akan menjadi  penyemangat baginya untuk terus mengembangkan usahanya.
Untuk mereka yang ingin menjadi membuka usaha atau bisnis, Iffa  berbagi tips agar mereka juga menentukan visi dan misi yang akan dituju.  Mindset yang jelas, menurut Iffa juga akan menjadi pelecut saat  semangat sedang kendur.Tak Lupa Berbagi
Sejak awal mendirikan usaha lulusan S2 Jurusan Pendidikan Sains UNS   ini ingin membantu banyak orang. Hal ini pun dia implementasikan dengan   menjalin kerja sama dengan UKM untuk mendapatkan produk untuk dikemas   atau repacking.
Dia pun bertekad membagikan sebagian hasil dari penjualannya untuk   didonasikan.&amp;ldquo;Sekitar Rp500 rupiah hasil dari penjualan setiap piece saya   kumpulkan untuk kegiatan donasi. Apalagi saat situasi pandemi Corona   saat ini. Ada beberapa kegiatan yang telah kami lakukan antara lain   membagikan nasi kotak, membagikan sembako kepada para pedagang kecil,   hingga menyumbang ke panti asuhan,&amp;rdquo; jelas Iffa.
Berbagi dengan sesama memang sudah menjadi tekad bagi Iffa sejak   membangun usaha. Hal itu dia jadikan semangat pelecut semangat dia saat   dia merasa lelah dalam menjalani usahanya. Seperti tagline Cavatoz,   Sharing Happiness, Iffa juga ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama   yang akan menjadi jalan untuk bekal di kehidupan selanjutnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Berbeda dengan orang yang mengejar keuntungan saat menjalankan bisnis. Ardhiana Iffa Farida pemilik usaha repacking makanan ringan berbahan baku singkong dengan merek Cavatoz justru punya niat lain saat mengembangkan usahanya.
Dia memilih jalur usaha dengan membawa value tersendiri. Tak hanya mendapatkan pundi-pundi materi tapi dia ingin bisnisnya menjadi bekal untuk akhirat kelak.
&quot;Setiap orang punya tujuan masing-masing dalam usaha atau bisnis. Namun bagi saya, bisnis yang saya bangun bisa memberi jalan dan bekal untuk kehidupan selanjutnya,&amp;rdquo; ujar perempuan yang biasa disapa Iffa dilansir dari Solopos.com, Rabu (19/8/2020).
Baca juga: Lowongan Kerja Data Analyst, Profesi yang Lagi Hype
Visi itulah yang menjadi bara penyemangat Iffa saat memulai usaha repacking produk camilan pada sekitar 2 tahun silam. Saat itu Iffa mulai menjual makanan ringan berbahan baku singkong dalam kemasan biasa.
Dia lantas menitipkan produknya tersebut ke warung-warung kecil seperti kedai minuman susu segar. Hal itu dia lakukan kurang lebih 1,5 tahun lamanya. Hingga kemudian dia mulai mengubah strategi bisnisnya. Dia juga memperbaiki kemasan produk dari semula plastik biasa menjadi kemasan model standing pouch yang terkesan lebih eksklusif.

Dia semakin percaya diri mengibarkan bisnis repacking camilan olahan singkong dengan merek Cavatoz, gethuk chips premium. Cavatoz kemudian memiliki dua macam produk, original yang dicampur dengan bumbu-bumbu tabur berbagai rasa seperti piza hingga cokelat.
Selain itu Cavatoz juga punya produk khusus yang menggunakan tambahan bumbu tanpa MSG dengan varian rasa beragam seperti pedas, rumput laut, hingga barbeque. Dia pun menaikkan harga jual produknya yang semula hanya Rp2.500 menjadi Rp15.000 per piece.
Selain memperbanyak varian rasa, perempuan yang tinggal di Sawahan, Ngemplak, Boyolali ini juga mengubah strategi pemasaran atau distribusi. &amp;ldquo;Saya juga tidak lagi menjual dengan cara menitipkan di warung-warung, tapi saya merekut agen dan reseller. Satu kota atau kabupaten hanya ada satu agen. Setiap agen memiliki beberapa reseller,&amp;rdquo; ungkap Iffa.Meski pola distribusi tersebut baru sekitar lima bulan diterapkan,  kini dia sudah memiliki sedikitnya 38 agen  dan 60 reseller yang  kebanyakan tersebar di Pulau Jawa hingga di Kalimantan. Dengan sistem  satu agen setiap kota atau kabupaten Iffa berusaha untuk membangun dan  menerapkan standard operating procedure (SOP) dengan benar.
Dia juga lebih memilih fokus untuk menggandeng agen atau reseller  daripada berjualan di marketplace. Namun dia membebaskan agen atau  reseller-nya bila ingin berjualan di platform tersebut.
Memiliki puluhan agen dan reseller, perempuan kelahiran tahun 1992  ini punya sejumlah cara agar mereka tetap semangat dalam memasarkan  produk Cavatoz.
Baca juga: Usaha Tahu Kripsi dengan Franchise, Simple tapi Menguntungkan
&amp;ldquo;Saya tidak memberikan target kepada mereka. Tapi saya akan  memberikan reward kepada agen yang berhasil mencapat target penjualan  tertentu seperti logam mulia,&amp;rdquo; jelas Iffa.
Secara berkala Iffa memberikan materi dan masukan dalam grup chat  mereka. &amp;ldquo;Karena kerja sama dan kolaborasi itu sangat penting dalam  meningkatkan usaha. Mereka pada agen dan reseller adalah partner, tanpa  mereka saya juga tidak bisa berkembang,&amp;rdquo; ujar perempuan yang bernah  bekerja sebagai guru SMA ini.
Dengan bantuan jaringan agen dan reseller tersebut, Cavatoz berhasil  terjual sedikitnya 4.000 pieces per bulan. Iffa berharap jumlah itu akan  terus meningkat seiring dengan semakin luasnya jangkauan pemasaran.
Pengalaman Mengikuti Expo UMKM Virtual
Bagi Iffa belajar dan meningkatkan wawasan dalam usaha adalah hal  yang sangat penting. Dia pun merasa senang bisa bergabung dengan  kegiatan Expo UMKM Virtual yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia  Solo dengan Solopos. Ada banyak hal positif yang dia dapatkan dalam  mengikuti kegiatan tersebut.
&amp;ldquo;Pertama saya mendapat ilmu yang sangat bermanfaat bagi usaha saya.  Selain itu saya juga bisa mendapatkan jaringan yang lebih luas lagi.  Kemudian saya juga bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan sesama UMKM,&amp;rdquo;  ujar Iffa.
Dia juga merasa senang terpilih menjadi salah satu UMKM yang  mendapatkan bantuan subsidi pulsa dari BI Solo. Ini akan menjadi  penyemangat baginya untuk terus mengembangkan usahanya.
Untuk mereka yang ingin menjadi membuka usaha atau bisnis, Iffa  berbagi tips agar mereka juga menentukan visi dan misi yang akan dituju.  Mindset yang jelas, menurut Iffa juga akan menjadi pelecut saat  semangat sedang kendur.Tak Lupa Berbagi
Sejak awal mendirikan usaha lulusan S2 Jurusan Pendidikan Sains UNS   ini ingin membantu banyak orang. Hal ini pun dia implementasikan dengan   menjalin kerja sama dengan UKM untuk mendapatkan produk untuk dikemas   atau repacking.
Dia pun bertekad membagikan sebagian hasil dari penjualannya untuk   didonasikan.&amp;ldquo;Sekitar Rp500 rupiah hasil dari penjualan setiap piece saya   kumpulkan untuk kegiatan donasi. Apalagi saat situasi pandemi Corona   saat ini. Ada beberapa kegiatan yang telah kami lakukan antara lain   membagikan nasi kotak, membagikan sembako kepada para pedagang kecil,   hingga menyumbang ke panti asuhan,&amp;rdquo; jelas Iffa.
Berbagi dengan sesama memang sudah menjadi tekad bagi Iffa sejak   membangun usaha. Hal itu dia jadikan semangat pelecut semangat dia saat   dia merasa lelah dalam menjalani usahanya. Seperti tagline Cavatoz,   Sharing Happiness, Iffa juga ingin berbagi kebahagiaan dengan sesama   yang akan menjadi jalan untuk bekal di kehidupan selanjutnya.</content:encoded></item></channel></rss>
