<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Awas Tergoda Rayuan Diskon, Harus Bedakan Kebutuhan dan Keinginan</title><description>Para pengusaha pusat perbelanjaan memberikan pesta diskon pada bulan ini yang bertajuk Hari Belanja Diskon Indonesia (2020).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan"/><item><title>Awas Tergoda Rayuan Diskon, Harus Bedakan Kebutuhan dan Keinginan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan</guid><pubDate>Sabtu 22 Agustus 2020 12:56 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan-1fO7MwhuX4.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/22/320/2265707/awas-tergoda-rayuan-diskon-harus-bedakan-kebutuhan-dan-keinginan-1fO7MwhuX4.jpeg</image><title>Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Para pengusaha pusat perbelanjaan memberikan pesta diskon pada bulan ini yang bertajuk Hari Belanja Diskon Indonesia (2020). Pesta diskon ini akan berlangsung hingga akhir Agustus 2020 mendatang.
Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan maraknya pesta diskon ini harus bisa disiasati dengan benar. Salah satu caranya adalah dengan membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang keinginan.
Jika tak bisa membedakan, justru akan menjadi bumerang bagi keuangan. Karena justru uang yang sudah disiapkan untuk belanja, digunakan untuk membeli barang-barang yang justru tidak terlalu diperlukan.
Baca juga: Eksistensi Logo Ayam di Dunia Bisnis, dari Restoran hingga Jamu
&quot;Kuncinya adalah kebutuhan dan keinginan. Kuncinya adalah dia harus benar-benar bisa bedakan, ujarnya saat dihubungi Okezone, Sabtu (22/8/2020).
Sebagai salah satu contohnya adalah ketika membeli handphone. Secara pribadi dirinya memang sangat menginginkan handphone atau bahkan bisa dibilang penggemar berat handphone.
Safir menjelaskan, kebutuhan adalah ketika barang tersebut tidak dibeli maka akan mengganggu kehidupan. Sedangkan keinginan adalah ketika barang tersebut tidak dibeli, tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan.
Baca juga: Piknik saat Long Weekend? Anggarannya 10% dari Pendapatan Saja
Namun jika keinginan tersebut terus dipenuhi maka tidak akan ada habisnya. Karena model handphone atau gadget lainnya akan terus berubah dan berkembang mengikuti perkembangan zaman.
&quot;Saya kasih contoh, saya tau ko handphone itu bagus, dia baru launching pula. Saya juga gila juga sama laptop. Saya senang juga sama laptop yang dibalik. Tapi waduh kalau saya turuti enggak habis-habis. Apalagi handphone pergerakannya cepat banget,&quot; jelasnya.
Safir pun mencoba menganalisis untung ruginya, misalnya jika membeli handphone sekarang maka yang dipuaskan hanya keinginan. Namun jika tidak dibeli sekarang maka tidak berpengaruh apa-apa terhadap hidupnya.Jika memang dirinya baru bisa membeli produk handphone tersebut 6  bulan kemudian pun sebenarnya tidak masalah. Karena perusahaan pasti  masih tetap memproduksi produk tersebut
&quot;Jadi yang harus saya lakukan adalah kalau saya beli sekarang oke  saya beli sekarang. Tapi kalau saya enggak beli sekarang, saya tuh  enggak apa-apa juga masih hidup di dunia ini.  Artinya gini, kalau saya  belinya 3 bulan atau 6 bulan lagi kira-kira produk ini sudah diskon lagi  belum atau dia nggak produksi lagi,&quot; jelasnya.
Mungkin, beberapa orang khawatir jika di masa mendatang gadget  tersebut tidak lagi diproduksi. Namun baginya, hal tersebut justru  menjadi kabar baik, sebab jika produksi dihentikan artinya produk  tersebut tidak terlalu bagus.
&quot;Enggak mungkin pasti dia masih produksi saya enggak beli sekarang  juga enggak apa-apa. Saya beli 6 bulan lagi toh juga masih produksi  walaupun dia enggak produksi lagi berarti dia permintaannya enggak  banyak. Kebetulan dong malah lebih bagus. Jadi cara pikir saya gitu,&quot;  kata Safir.</description><content:encoded>JAKARTA - Para pengusaha pusat perbelanjaan memberikan pesta diskon pada bulan ini yang bertajuk Hari Belanja Diskon Indonesia (2020). Pesta diskon ini akan berlangsung hingga akhir Agustus 2020 mendatang.
Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan maraknya pesta diskon ini harus bisa disiasati dengan benar. Salah satu caranya adalah dengan membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana yang keinginan.
Jika tak bisa membedakan, justru akan menjadi bumerang bagi keuangan. Karena justru uang yang sudah disiapkan untuk belanja, digunakan untuk membeli barang-barang yang justru tidak terlalu diperlukan.
Baca juga: Eksistensi Logo Ayam di Dunia Bisnis, dari Restoran hingga Jamu
&quot;Kuncinya adalah kebutuhan dan keinginan. Kuncinya adalah dia harus benar-benar bisa bedakan, ujarnya saat dihubungi Okezone, Sabtu (22/8/2020).
Sebagai salah satu contohnya adalah ketika membeli handphone. Secara pribadi dirinya memang sangat menginginkan handphone atau bahkan bisa dibilang penggemar berat handphone.
Safir menjelaskan, kebutuhan adalah ketika barang tersebut tidak dibeli maka akan mengganggu kehidupan. Sedangkan keinginan adalah ketika barang tersebut tidak dibeli, tidak akan berpengaruh apa-apa pada kehidupan.
Baca juga: Piknik saat Long Weekend? Anggarannya 10% dari Pendapatan Saja
Namun jika keinginan tersebut terus dipenuhi maka tidak akan ada habisnya. Karena model handphone atau gadget lainnya akan terus berubah dan berkembang mengikuti perkembangan zaman.
&quot;Saya kasih contoh, saya tau ko handphone itu bagus, dia baru launching pula. Saya juga gila juga sama laptop. Saya senang juga sama laptop yang dibalik. Tapi waduh kalau saya turuti enggak habis-habis. Apalagi handphone pergerakannya cepat banget,&quot; jelasnya.
Safir pun mencoba menganalisis untung ruginya, misalnya jika membeli handphone sekarang maka yang dipuaskan hanya keinginan. Namun jika tidak dibeli sekarang maka tidak berpengaruh apa-apa terhadap hidupnya.Jika memang dirinya baru bisa membeli produk handphone tersebut 6  bulan kemudian pun sebenarnya tidak masalah. Karena perusahaan pasti  masih tetap memproduksi produk tersebut
&quot;Jadi yang harus saya lakukan adalah kalau saya beli sekarang oke  saya beli sekarang. Tapi kalau saya enggak beli sekarang, saya tuh  enggak apa-apa juga masih hidup di dunia ini.  Artinya gini, kalau saya  belinya 3 bulan atau 6 bulan lagi kira-kira produk ini sudah diskon lagi  belum atau dia nggak produksi lagi,&quot; jelasnya.
Mungkin, beberapa orang khawatir jika di masa mendatang gadget  tersebut tidak lagi diproduksi. Namun baginya, hal tersebut justru  menjadi kabar baik, sebab jika produksi dihentikan artinya produk  tersebut tidak terlalu bagus.
&quot;Enggak mungkin pasti dia masih produksi saya enggak beli sekarang  juga enggak apa-apa. Saya beli 6 bulan lagi toh juga masih produksi  walaupun dia enggak produksi lagi berarti dia permintaannya enggak  banyak. Kebetulan dong malah lebih bagus. Jadi cara pikir saya gitu,&quot;  kata Safir.</content:encoded></item></channel></rss>
