<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Indonesia Bisa Terseret Resesi Thailand, Simak 7 Faktanya   </title><description>Ekonomi Thailand terkontraksi hingga 12,2% pada kuartal II-2020</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya"/><item><title>   Indonesia Bisa Terseret Resesi Thailand, Simak 7 Faktanya   </title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya</guid><pubDate>Senin 24 Agustus 2020 08:38 WIB</pubDate><dc:creator>Safira Fitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/23/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya-kKI0pSjBb2.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/23/20/2266174/indonesia-bisa-terseret-resesi-thailand-simak-7-faktanya-kKI0pSjBb2.jpg</image><title>Resesi Ekonomi (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ekonomi Thailand terkontraksi hingga 12,2% pada kuartal II-2020 dan dinilai sebagai penurunan paling tajam sejak krisis finansial melanda Asia pada akhir 1990-an. Indonesia pun bisa terseret resesi Thailand.
Selain Thailand, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara (Asean) seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina juga telah alami kontraksi ekonomi lebih dulu. Kontraksi ekonomi di empat negara tersebut akibat serangan pandemi virus corona atau Covid-19 yang sudah melanda sejak awal tahun 2020 lalu.
Terkait hal tersebut, Okezone merangkum beberapa fakta atas resesi yang dialami Thailand, Jakarta, Senin (24/8/2020).
1. Indonesia Akan Bernasib Sama
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan Indonesia akan bernasib sama pada kuartal-III nanti. Kemudian akan mengalami penurunan minus pada kuartal-IV dan secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 akan negatif.
&amp;ldquo;Melihat kacamata sekarang karena di 2020 kita perkirakan (perekonomian) negatif,&quot; kata Faisal.
Baca Juga:&amp;nbsp;Apindo Proyeksi Ekonomi Kuartal III Minus 2%, Indonesia Resesi?&amp;nbsp;
2. Indonesia Anggarkan Rp356,5 Triliun untuk PEN
Diketahui, pemerintah menetapkan anggaran PEN, pada RAPBN tahun 2021 dengan alokasi anggaran sekitar Rp356,5 triliun. Dari total itu, Rp 48 triliun di antaranya dikhususkan untuk mendukung para pelaku UMKM.
&quot;Jadi bukan hanya kasih stimulus dari segi pendanaan, tapi juga dari sisi pendampingan teknis. Karena masalah terbesar pelaku usaha pada umumnya adalah permintaan yang turun,&quot; kata Faisal.
3. Pengaruhi Ekspor Industri Otomotif Tanah Air
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai dampak dari adanya resesi yang dialami Thailand itu akan memengaruhi ekspor industri otomotif Tanah Air ke sana. Sebab, selama ini Indonesia memilikik hubungan yang erat di sektor perdagangan otomotif.
&amp;ldquo;Indonesia itu ada sebagian manufaktur karena kita ada hubungan supply chain dengan Thailand dari sisi industri otomotif. Sebagian dari part kita ekspor ke Thailand. Thailand memproduksi mobil jadi, partnya diambil dari kita. Kalau produksi mobil jadi Thailand berkurang karena mengalami resesi ini jadi ekspor sparepart kita ke Thailand juga berkurang,&amp;rdquo; kata Faisal.
4. Investasi Serta Belanja Konsumen dan Perdagangan Terkontraksi
Laporan yang dirilis Dewan Nasional Ekonomi dan Pembangunan Sosial menunjukkan, investasi, belanja konsumen dan perdagangan terkontraksi secara signifikan. Produk pertanian, yang juga dipengaruhi musim kemarau, menyusut tiga persen, sementara industri manufaktur menurun 14,4%. Sebagai perbandingan, pada kuartal pertama, ekonomi negara itu hanya menyusut 2%.
5. Situasi Ekonomi Thailand
Situasi ekonomi yang memburuk diperparah oleh gelombang kerusuhan mahasiswa. Pada Minggu (16/8), para demonstran antipemerintah menggelar aksi protes yang menuntut diselenggarakannya pemilu baru, perubahan konstitusi dan pengakhiran intimidasi terhadap para pengecam pemerintah.
Aksi protes itu sendiri tidak secara terang-terangan mempersoalkan ekonomi, namun menegaskan ketidaksenangan publik terhadap cara pemerintah yang didominasi militer dalam menanggulangi krisis, sehingga mengakibatkan banyak orang mengalami kesulitan ekonomi.
6. Pembatasan Ketat Oleh Pemerintah
Pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan ketat untuk mengendalikan wabah, termasuk memberlakukan jam malam dan larangan penjualan alkohol. Kebijakan ini memang terbukti berhasil mengendalikan wabah, namun menimbulkan kerugian ekonomi yang parah.
7. Bisnis Pariwisata Gulung Tikar
Banyak bisnis pariwisata gulung tikar dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Perekonomian Thailand sangat mengandalkan bisnis pariwisata. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, pandemi virus corona telah membuat bisnis ini menyusut 38%.</description><content:encoded>JAKARTA - Ekonomi Thailand terkontraksi hingga 12,2% pada kuartal II-2020 dan dinilai sebagai penurunan paling tajam sejak krisis finansial melanda Asia pada akhir 1990-an. Indonesia pun bisa terseret resesi Thailand.
Selain Thailand, beberapa negara di kawasan Asia Tenggara (Asean) seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina juga telah alami kontraksi ekonomi lebih dulu. Kontraksi ekonomi di empat negara tersebut akibat serangan pandemi virus corona atau Covid-19 yang sudah melanda sejak awal tahun 2020 lalu.
Terkait hal tersebut, Okezone merangkum beberapa fakta atas resesi yang dialami Thailand, Jakarta, Senin (24/8/2020).
1. Indonesia Akan Bernasib Sama
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan Indonesia akan bernasib sama pada kuartal-III nanti. Kemudian akan mengalami penurunan minus pada kuartal-IV dan secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 akan negatif.
&amp;ldquo;Melihat kacamata sekarang karena di 2020 kita perkirakan (perekonomian) negatif,&quot; kata Faisal.
Baca Juga:&amp;nbsp;Apindo Proyeksi Ekonomi Kuartal III Minus 2%, Indonesia Resesi?&amp;nbsp;
2. Indonesia Anggarkan Rp356,5 Triliun untuk PEN
Diketahui, pemerintah menetapkan anggaran PEN, pada RAPBN tahun 2021 dengan alokasi anggaran sekitar Rp356,5 triliun. Dari total itu, Rp 48 triliun di antaranya dikhususkan untuk mendukung para pelaku UMKM.
&quot;Jadi bukan hanya kasih stimulus dari segi pendanaan, tapi juga dari sisi pendampingan teknis. Karena masalah terbesar pelaku usaha pada umumnya adalah permintaan yang turun,&quot; kata Faisal.
3. Pengaruhi Ekspor Industri Otomotif Tanah Air
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai dampak dari adanya resesi yang dialami Thailand itu akan memengaruhi ekspor industri otomotif Tanah Air ke sana. Sebab, selama ini Indonesia memilikik hubungan yang erat di sektor perdagangan otomotif.
&amp;ldquo;Indonesia itu ada sebagian manufaktur karena kita ada hubungan supply chain dengan Thailand dari sisi industri otomotif. Sebagian dari part kita ekspor ke Thailand. Thailand memproduksi mobil jadi, partnya diambil dari kita. Kalau produksi mobil jadi Thailand berkurang karena mengalami resesi ini jadi ekspor sparepart kita ke Thailand juga berkurang,&amp;rdquo; kata Faisal.
4. Investasi Serta Belanja Konsumen dan Perdagangan Terkontraksi
Laporan yang dirilis Dewan Nasional Ekonomi dan Pembangunan Sosial menunjukkan, investasi, belanja konsumen dan perdagangan terkontraksi secara signifikan. Produk pertanian, yang juga dipengaruhi musim kemarau, menyusut tiga persen, sementara industri manufaktur menurun 14,4%. Sebagai perbandingan, pada kuartal pertama, ekonomi negara itu hanya menyusut 2%.
5. Situasi Ekonomi Thailand
Situasi ekonomi yang memburuk diperparah oleh gelombang kerusuhan mahasiswa. Pada Minggu (16/8), para demonstran antipemerintah menggelar aksi protes yang menuntut diselenggarakannya pemilu baru, perubahan konstitusi dan pengakhiran intimidasi terhadap para pengecam pemerintah.
Aksi protes itu sendiri tidak secara terang-terangan mempersoalkan ekonomi, namun menegaskan ketidaksenangan publik terhadap cara pemerintah yang didominasi militer dalam menanggulangi krisis, sehingga mengakibatkan banyak orang mengalami kesulitan ekonomi.
6. Pembatasan Ketat Oleh Pemerintah
Pemerintah memberlakukan berbagai pembatasan ketat untuk mengendalikan wabah, termasuk memberlakukan jam malam dan larangan penjualan alkohol. Kebijakan ini memang terbukti berhasil mengendalikan wabah, namun menimbulkan kerugian ekonomi yang parah.
7. Bisnis Pariwisata Gulung Tikar
Banyak bisnis pariwisata gulung tikar dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. Perekonomian Thailand sangat mengandalkan bisnis pariwisata. Dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, pandemi virus corona telah membuat bisnis ini menyusut 38%.</content:encoded></item></channel></rss>
