<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Khawatir PHK Massal, Pilot Mulai Belajar Terbangkan Drone</title><description>PHK yang dilakukan sejumlah maskapai di  Amerika Serikat (AS) membuat para pilot mulai khawatir akan  pekerjaannya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone"/><item><title>Khawatir PHK Massal, Pilot Mulai Belajar Terbangkan Drone</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone</guid><pubDate>Senin 24 Agustus 2020 10:45 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone-lmwhwg5fd7.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Karyawan di PHK (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/24/320/2266361/khawatir-phk-massal-pilot-mulai-belajar-terbangkan-drone-lmwhwg5fd7.jpeg</image><title>Karyawan di PHK (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan sejumlah maskapai di Amerika Serikat (AS) membuat para pilot mulai khawatir akan pekerjaannya. Bahkan beberapa di antaranya mulai mengantisipasi jika hal buruk terjadi.
Seperti salah satu pilot maskapai seperti Michelle Bishop yang mulai mengantisipasi kenyataan yang tidak diinginkan bahwa pilot seperti dirinya akan segera dibiarkan tanpa pekerjaan yang stabil.
&quot;Saya hanya mencoba terbang sebanyak yang saya bisa, sementara saya bisa, karena saya menyukainya,&quot; ujarnya mengutip CNN, Senin (24/8/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Astaga, 14.510 Buruh di Semarang Jadi Pengangguran
Bishop mengaku mencari-cari pekerjaan di LinkedIn dan situs pekerjaan lain dalam waktu senggangnya selama berjam-jam. Dari hasil pencariannya, didapatkan satu kesempatan yang menarik minatnya yakni mengemudikan drone.
Aquiline Drones, startup yang berbasis di Connecticut ingin menciptakan aplikasi smartphone sederhana dua bulan mendatang.  Lewat aplikasi ini, memungkinkan siapa pun dengan lisensi untuk mengambil pekerjaan jangka pendek dari merekam rekaman udara di pesta pernikahan hingga mengambil foto jembatan dan jalan raya untuk departemen pekerjaan umum.
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar Pelanggan yang Dapat Insentif Listrik hingga Akhir Tahun
Intinya, startup ingin seperti Uber atau Lyft. Pendiri dari startup ini yakni Barry Alexander, bahkan sudah membayangkan jika ribuan pilot menjadi operator drone bersertifikat di perusahaannya.
Saat ini, operator drone bersertifikat sangat sedikit dan jarang, tercatat hanya ada kurang dari 200.000 di Amerika Serikat. Sejak 2016, Administrasi Penerbangan Federal telah mewajibkan operator drone untuk mendapatkan sertifikasi.
Alexander mengatakan, tujuan dibentuknya startup Aquiline membantu melisensikan ribuan operator drone baru yang kebanyakan dari mereka merupakan mantan pilot maskapai penerbangan.Program lisensi perusahaan, yang disebut &quot;Flight to the Future,&quot;  dijadwalkan untuk memulai kelas virtual pada 1 September. Siapa pun  dapat mendaftar untuk program pelatihan enam hingga delapan minggu  seharga USD1.000 atau sekitar Rp14,7 juta (mengacu kurs Rp14.800 per  USD) dan Aquiline juga membuka kursus dengan harga terpisah USD800 atau  sekitar Rp11,8 juta yang disesuaikan untuk pilot yang sudah memahami  seluk beluk terminologi penerbangan, regulasi dan pemantauan cuaca.
Sebagai bagian dari program, Aquiline akan memandu siswa melalui  proses perizinan Administrasi Penerbangan Federal dan bahkan mengatur  siswa berlisensi dengan LLC mereka sendiri. Opsi untuk membiayai drone  adalah USD4.000 atau sekitar Rp59 juta dan asuransi dengan tarif tahunan  USD1.500 atau Rp22 juta langsung melalui Aquiline.
Tes untuk sertifikasi pilot drone tidaklah mudah, tetapi ada program  pelatihan online yang lebih murah daripada yang ditawarkan oleh  Aquiline. Alexander juga mengatakan semua pilot drone Aquiline harus  melalui program &quot;Flight to the Future&quot; perusahaan dan menggunakan drone  yang disediakan Aquiline, yang semi-otonom, untuk memastikannya bekerja  dengan sistem perangkat lunak back-end perusahaan. Sudah, lebih dari  1.500 anggota masyarakat umum telah mendaftar, bersama dengan 2.000  pilot.
&amp;ldquo;Saya sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang drone. Tetapi jika saya  harus berhenti terbang, saya ingin kesempatan untuk mempelajari sesuatu  yang baru. Bisa mengatur jadwalnya sendiri juga merupakan prospek yang  menarik,&amp;rdquo; kata Bishop.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan sejumlah maskapai di Amerika Serikat (AS) membuat para pilot mulai khawatir akan pekerjaannya. Bahkan beberapa di antaranya mulai mengantisipasi jika hal buruk terjadi.
Seperti salah satu pilot maskapai seperti Michelle Bishop yang mulai mengantisipasi kenyataan yang tidak diinginkan bahwa pilot seperti dirinya akan segera dibiarkan tanpa pekerjaan yang stabil.
&quot;Saya hanya mencoba terbang sebanyak yang saya bisa, sementara saya bisa, karena saya menyukainya,&quot; ujarnya mengutip CNN, Senin (24/8/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Astaga, 14.510 Buruh di Semarang Jadi Pengangguran
Bishop mengaku mencari-cari pekerjaan di LinkedIn dan situs pekerjaan lain dalam waktu senggangnya selama berjam-jam. Dari hasil pencariannya, didapatkan satu kesempatan yang menarik minatnya yakni mengemudikan drone.
Aquiline Drones, startup yang berbasis di Connecticut ingin menciptakan aplikasi smartphone sederhana dua bulan mendatang.  Lewat aplikasi ini, memungkinkan siapa pun dengan lisensi untuk mengambil pekerjaan jangka pendek dari merekam rekaman udara di pesta pernikahan hingga mengambil foto jembatan dan jalan raya untuk departemen pekerjaan umum.
Baca Juga:&amp;nbsp;Daftar Pelanggan yang Dapat Insentif Listrik hingga Akhir Tahun
Intinya, startup ingin seperti Uber atau Lyft. Pendiri dari startup ini yakni Barry Alexander, bahkan sudah membayangkan jika ribuan pilot menjadi operator drone bersertifikat di perusahaannya.
Saat ini, operator drone bersertifikat sangat sedikit dan jarang, tercatat hanya ada kurang dari 200.000 di Amerika Serikat. Sejak 2016, Administrasi Penerbangan Federal telah mewajibkan operator drone untuk mendapatkan sertifikasi.
Alexander mengatakan, tujuan dibentuknya startup Aquiline membantu melisensikan ribuan operator drone baru yang kebanyakan dari mereka merupakan mantan pilot maskapai penerbangan.Program lisensi perusahaan, yang disebut &quot;Flight to the Future,&quot;  dijadwalkan untuk memulai kelas virtual pada 1 September. Siapa pun  dapat mendaftar untuk program pelatihan enam hingga delapan minggu  seharga USD1.000 atau sekitar Rp14,7 juta (mengacu kurs Rp14.800 per  USD) dan Aquiline juga membuka kursus dengan harga terpisah USD800 atau  sekitar Rp11,8 juta yang disesuaikan untuk pilot yang sudah memahami  seluk beluk terminologi penerbangan, regulasi dan pemantauan cuaca.
Sebagai bagian dari program, Aquiline akan memandu siswa melalui  proses perizinan Administrasi Penerbangan Federal dan bahkan mengatur  siswa berlisensi dengan LLC mereka sendiri. Opsi untuk membiayai drone  adalah USD4.000 atau sekitar Rp59 juta dan asuransi dengan tarif tahunan  USD1.500 atau Rp22 juta langsung melalui Aquiline.
Tes untuk sertifikasi pilot drone tidaklah mudah, tetapi ada program  pelatihan online yang lebih murah daripada yang ditawarkan oleh  Aquiline. Alexander juga mengatakan semua pilot drone Aquiline harus  melalui program &quot;Flight to the Future&quot; perusahaan dan menggunakan drone  yang disediakan Aquiline, yang semi-otonom, untuk memastikannya bekerja  dengan sistem perangkat lunak back-end perusahaan. Sudah, lebih dari  1.500 anggota masyarakat umum telah mendaftar, bersama dengan 2.000  pilot.
&amp;ldquo;Saya sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang drone. Tetapi jika saya  harus berhenti terbang, saya ingin kesempatan untuk mempelajari sesuatu  yang baru. Bisa mengatur jadwalnya sendiri juga merupakan prospek yang  menarik,&amp;rdquo; kata Bishop.</content:encoded></item></channel></rss>
