<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Mau Coba Bisnis Jam Tangan? Begini Hitung-hitungannya</title><description>Membuka usaha jam tangan dengan material estetik seperti semen dan batu alam memang menggiurkan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya"/><item><title>Mau Coba Bisnis Jam Tangan? Begini Hitung-hitungannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya</guid><pubDate>Rabu 26 Agustus 2020 11:40 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya-Y6C2Kot30Q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jam Tangan Lakanua (Foto: Giri/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/08/26/320/2267620/mau-coba-bisnis-jam-tangan-begini-hitung-hitungannya-Y6C2Kot30Q.jpg</image><title>Jam Tangan Lakanua (Foto: Giri/Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Membuka usaha jam tangan dengan material estetik seperti semen dan batu alam memang menggiurkan. Karena bentuknya yang unik dan jarang ada di Indonesia membuat masyarakat penasaran dengan produk jam tangan ini.
Namun, mereka yang berniat untuk menjual barang tersebut pasti masih kebingungan untuk menetapkan harga. Mengingat, masih jarangnya bisnis serupa yang bisa dijadikan patokan dan pembanding harga.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sektor Pariwisata Redup, Desa di Bali Ini Bangkitkan Perekonomian dengan Bertani
Salah satu Founder Brand Jam Tangan Lakanua Restu Irwansyah Setiawan mengatakan, dalam menetapkan harga biasanya mempertimbangkan beberapa aspek. Dari mulai biaya tukang hingga waktu pengerjaannya.&amp;nbsp;
&quot;Kalau HPP itu agak ribet ya, tapi kurang lebihnya seperti ini. Seluruh produk yang kamu beli misalkan dalam satu item. Dalam produk itu biaya tukang berapa, waktu berapa lama, dibagi sama jumlah keseluruhan barang,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (26/8/2020).

Sebagai ilustrasi, modal yang dimiliki adalah Rp1 juta. Hal pertama yang dilakukan adalah memproyeksikan dari uang tersebut bisa menjadi berapa barang.&amp;nbsp;
&quot;Kita beli itu Rp1.000.000, modal kita Rp1.000.000. jadi Rp1 juta sebenarnya jadinya berapa banyak sih barangnya. Misalkan jadi 100 barang. Rp1 juta dibagi 100 itu berapa. Tapi kita lihat juga listrik itu kita bagi-bagi, jadi tukang dan listrik itu dijadikan beban pengurangan tadi,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNy8yOC80LzEyMTkwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kemudian setelah itu, setiap pengerjaan yang dilakukan tersebut  dibagi menjadi jumlah barang tersebut. Sebagai salah satu contohnya  adalah dari uang tersebut bisa menjadi 100 barang, maka ongkos listrik  nantinya dibagi 100 barang.
Setelah mendapatkan hasilnya, baru ditentukan keuntungan yang  ingin didapatkan. Untuk produknya sendiri, hanya mengambil keuntungan  2,5% saja.
&quot;Jadi item apa aja yang pakai listrik dibagi tiga rata terus dibagi  menjadi berapa pcs. Rata-rata mengambil marginnya 2,5%,&quot; kata Restu.</description><content:encoded>JAKARTA - Membuka usaha jam tangan dengan material estetik seperti semen dan batu alam memang menggiurkan. Karena bentuknya yang unik dan jarang ada di Indonesia membuat masyarakat penasaran dengan produk jam tangan ini.
Namun, mereka yang berniat untuk menjual barang tersebut pasti masih kebingungan untuk menetapkan harga. Mengingat, masih jarangnya bisnis serupa yang bisa dijadikan patokan dan pembanding harga.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sektor Pariwisata Redup, Desa di Bali Ini Bangkitkan Perekonomian dengan Bertani
Salah satu Founder Brand Jam Tangan Lakanua Restu Irwansyah Setiawan mengatakan, dalam menetapkan harga biasanya mempertimbangkan beberapa aspek. Dari mulai biaya tukang hingga waktu pengerjaannya.&amp;nbsp;
&quot;Kalau HPP itu agak ribet ya, tapi kurang lebihnya seperti ini. Seluruh produk yang kamu beli misalkan dalam satu item. Dalam produk itu biaya tukang berapa, waktu berapa lama, dibagi sama jumlah keseluruhan barang,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Rabu (26/8/2020).

Sebagai ilustrasi, modal yang dimiliki adalah Rp1 juta. Hal pertama yang dilakukan adalah memproyeksikan dari uang tersebut bisa menjadi berapa barang.&amp;nbsp;
&quot;Kita beli itu Rp1.000.000, modal kita Rp1.000.000. jadi Rp1 juta sebenarnya jadinya berapa banyak sih barangnya. Misalkan jadi 100 barang. Rp1 juta dibagi 100 itu berapa. Tapi kita lihat juga listrik itu kita bagi-bagi, jadi tukang dan listrik itu dijadikan beban pengurangan tadi,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wNy8yOC80LzEyMTkwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Kemudian setelah itu, setiap pengerjaan yang dilakukan tersebut  dibagi menjadi jumlah barang tersebut. Sebagai salah satu contohnya  adalah dari uang tersebut bisa menjadi 100 barang, maka ongkos listrik  nantinya dibagi 100 barang.
Setelah mendapatkan hasilnya, baru ditentukan keuntungan yang  ingin didapatkan. Untuk produknya sendiri, hanya mengambil keuntungan  2,5% saja.
&quot;Jadi item apa aja yang pakai listrik dibagi tiga rata terus dibagi  menjadi berapa pcs. Rata-rata mengambil marginnya 2,5%,&quot; kata Restu.</content:encoded></item></channel></rss>
