<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gawat, Ekonomi India Minus 23,9% Efek Lockdown</title><description>Perekonomian India mengalami kontraksi dalam pada kuartal II 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown"/><item><title>Gawat, Ekonomi India Minus 23,9% Efek Lockdown</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown</guid><pubDate>Selasa 01 September 2020 10:36 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown-lwPoVYscXM.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ekonomi India (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/01/320/2270642/gawat-ekonomi-india-minus-23-9-efek-lockdown-lwPoVYscXM.jpg</image><title>Ekonomi India (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Perekonomian India mengalami kontraksi dalam pada kuartal II 2020. Hal ini terjadi karena penerapan kebijakan lockdown untuk membantu mengendalikan penyebaran virus corona yang menghancurkan konsumsi dan investasi konsumen.

Pada tiga bulan kedua tahun ini, ekonomi India menyusut 23,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kemerosotan ekonomi terbesar kelima di dunia itu lebih buruk dari yang diperkirakan para ekonom, dan salah satu kontraksi paling parah di negara mana pun sebagai akibat dari pandemi.

Menurut Capital Economics, investasi turun 47% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara konsumsi rumah tangga juga menyusut hampir 26%
Baca Juga:&amp;nbsp;6 Fakta Sebentar Lagi Indonesia Resesi, Waktu 1,5 Bulan Tak Cukup&amp;nbsp;
Sementara itu, konsumsi pemerintah memang mengalami peningkatan sebesar 16%. Akan tetapi itu tidak cukup untuk mengimbangi penurunan tajam aktivitas di sektor lain.

Shilan Shah dari Capital Economics mengatakan, kuartal kedua menandai titik terendah bagi ekonomi India. Akan tetapi ada tanda-tanda pemulihan akan berjalan lambat meskipun kebijakan lockdown sudah dilonggarkan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Jika Indonesia Resesi, Ini Kondisi yang Akan Dialami Masyarakat&amp;nbsp;
Ukuran utama dari aktivitas manufaktur turun tipis di bulan Juli. Sementara output dari industri infrastruktur tetap tertekan.

&amp;ldquo;Penyebaran cepat virus corona yang terus berlanjut akan mengurangi permintaan domestik. Terlebih lagi, respons fiskal yang mengecewakan terhadap krisis akan menjamin warisan pengangguran yang lebih tinggi, kegagalan perusahaan dan sektor perbankan yang terganggu yang akan sangat membebani investasi dan konsumsi,&amp;rdquo; kata Shah dilansir dari CNN, Selasa (1/9/2020).

Ekonomi India memang tertatih-tatih memasuki 2020, hal ini karena permintaan konsumen yang menyusut dan sektor otomotif negara tersebut yang sedang sulit. Ditambah lagi, virus corona menyerang.

Menurut dara dari Universitas John Hopkins, sudah ada 3,6 juta kasus virus corona yang terjadi di India. Dan sekitar 64.500 orang telah meninggal karena penyakit tersebut.

Angka tersebut sebenarnya meningkat dengan cepat. Butuh waktu 6 bulan saja bagi India untuk mencatat 1 juta kasus, tiga minggu lagi untuk mencapai 2 juta, dan hanya 16 hari lagi untuk mencapai 3 juta.

Selain India, memang pandemi telah memberikan pukulan signifikan bagi ekonomi setiap negara. Bahkan, negara anggota G7 seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat secara resmi berada dalam resesi.</description><content:encoded>JAKARTA - Perekonomian India mengalami kontraksi dalam pada kuartal II 2020. Hal ini terjadi karena penerapan kebijakan lockdown untuk membantu mengendalikan penyebaran virus corona yang menghancurkan konsumsi dan investasi konsumen.

Pada tiga bulan kedua tahun ini, ekonomi India menyusut 23,9% dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kemerosotan ekonomi terbesar kelima di dunia itu lebih buruk dari yang diperkirakan para ekonom, dan salah satu kontraksi paling parah di negara mana pun sebagai akibat dari pandemi.

Menurut Capital Economics, investasi turun 47% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara konsumsi rumah tangga juga menyusut hampir 26%
Baca Juga:&amp;nbsp;6 Fakta Sebentar Lagi Indonesia Resesi, Waktu 1,5 Bulan Tak Cukup&amp;nbsp;
Sementara itu, konsumsi pemerintah memang mengalami peningkatan sebesar 16%. Akan tetapi itu tidak cukup untuk mengimbangi penurunan tajam aktivitas di sektor lain.

Shilan Shah dari Capital Economics mengatakan, kuartal kedua menandai titik terendah bagi ekonomi India. Akan tetapi ada tanda-tanda pemulihan akan berjalan lambat meskipun kebijakan lockdown sudah dilonggarkan.
Baca Juga:&amp;nbsp;Jika Indonesia Resesi, Ini Kondisi yang Akan Dialami Masyarakat&amp;nbsp;
Ukuran utama dari aktivitas manufaktur turun tipis di bulan Juli. Sementara output dari industri infrastruktur tetap tertekan.

&amp;ldquo;Penyebaran cepat virus corona yang terus berlanjut akan mengurangi permintaan domestik. Terlebih lagi, respons fiskal yang mengecewakan terhadap krisis akan menjamin warisan pengangguran yang lebih tinggi, kegagalan perusahaan dan sektor perbankan yang terganggu yang akan sangat membebani investasi dan konsumsi,&amp;rdquo; kata Shah dilansir dari CNN, Selasa (1/9/2020).

Ekonomi India memang tertatih-tatih memasuki 2020, hal ini karena permintaan konsumen yang menyusut dan sektor otomotif negara tersebut yang sedang sulit. Ditambah lagi, virus corona menyerang.

Menurut dara dari Universitas John Hopkins, sudah ada 3,6 juta kasus virus corona yang terjadi di India. Dan sekitar 64.500 orang telah meninggal karena penyakit tersebut.

Angka tersebut sebenarnya meningkat dengan cepat. Butuh waktu 6 bulan saja bagi India untuk mencatat 1 juta kasus, tiga minggu lagi untuk mencapai 2 juta, dan hanya 16 hari lagi untuk mencapai 3 juta.

Selain India, memang pandemi telah memberikan pukulan signifikan bagi ekonomi setiap negara. Bahkan, negara anggota G7 seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat secara resmi berada dalam resesi.</content:encoded></item></channel></rss>
