<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tanpa Sadar, Ini Penyebab Pengelolaan Gaji Tidak Sehat</title><description>Memiliki gaji yang besar bukan jaminan mendapatkan keuangan yang sehat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat"/><item><title>Tanpa Sadar, Ini Penyebab Pengelolaan Gaji Tidak Sehat</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat</guid><pubDate>Jum'at 04 September 2020 20:01 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat-Z9faLEffbD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keuangan (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/04/622/2272580/tanpa-sadar-ini-penyebab-pengelolaan-gaji-tidak-sehat-Z9faLEffbD.jpg</image><title>Keuangan (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Memiliki gaji yang besar bukan jaminan mendapatkan keuangan yang sehat. Bahkan ada beberapa orang yang memiliki penghasilan yang besar, namun gaji yang didapatkan seperti hanya mampir saja karena langsung ludes.

Biasanya, orang-orang tersebut memiliki gaya hidup yang hedon bahkan melebih penghasilan yang didapatkan setiap bulannya. Namun orang tersebut tidak menyadari kesalahannya tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investasi di SBN Ritel, Berikut 3 Keuntungannya
Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, mereka yang memiliki keuangan tidak sehat biasanya memiliki gaya hidup yang tinggi. Padahal seharusnya, untuk mendapatkan keuangan yang sehat, gaya hidupnya harus menyesuaikan dengan pendapatannya.

&quot;Karena kalau saya memperhatikan apakah mungkin dengan penghasilan Rp4 juta kita bergaya hidup Rp10 juta. Mungkin tapi akan sangat memberatkan. Cuma idealnya tetap gaya hidup kita akan menyesuaikan dengan penghasilan kita tadi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Jumat (4/9/2020).

&amp;nbsp;Baca juga: Gegara Corona, Yuk Mulai Evaluasi Pendapatan hingga Pengeluaran
Sebagai salah satu contoh simpelnya adalah ada pada pemilihan kendaraan untuk pergi ke kantor. Beberapa orang mungkin menginginkan untuk memiliki kendaraan bermotor yang mahal.

Misalnya, ada beberapa orang yang memiliki penghasilan sebesar Rp4 juta per bulan banyak yang ingin memiliki kendaraan NMax atau motor sport. Padahal seharusnya dengan penghasilan tersebut kendaraan yang dibeli cukup berupa motor matic atau bebek saja.&quot;Contohnya kita ke kantor dengan penghasilan Rp4 juta misalnya. Kita  berangkat ke tempat kerja. Apa yang membedakan antara kita berangkat ke  tempat kerja pakai motor misalnya Yamaha Mio sama kemudian NMax atau  Kawasaki ninja,&quot; jelasnya.

Secara fungsi pun menurut Andi, sama-sama untuk transportasi menuju  tempat kerja. Bahkan, antara naik motor matic atau bebek yang murah  dengan motor mahal waktu tempuhnya sama.

Yang membedakan hanyalah harganya yang lebih mahal dan juga modelnya  yang lebih eye catching sehingga bisa dipamerkan ke teman-teman kantor.  Tujuannya hanyalah untuk bisa dipuji oleh rekan sekantornya meskipun  secara fungsi sama-sama digunakan untuk transportasi.

&quot;Sebenarnya ya waktu tempuhnya sebenarnya sama terus kemudian kondisi  jalannya sama juga. Atau misalnya tiga itu tadi kita ke kantor naik  sepeda ataupun naik kendaraan umum. Kurang lebih kondisinya sama. Hanya  kalau kita mau menyesuaikan dengan penghasilan kita automatis gaya hidup  kita akan mengikuti,&quot; kata Andi.</description><content:encoded>JAKARTA - Memiliki gaji yang besar bukan jaminan mendapatkan keuangan yang sehat. Bahkan ada beberapa orang yang memiliki penghasilan yang besar, namun gaji yang didapatkan seperti hanya mampir saja karena langsung ludes.

Biasanya, orang-orang tersebut memiliki gaya hidup yang hedon bahkan melebih penghasilan yang didapatkan setiap bulannya. Namun orang tersebut tidak menyadari kesalahannya tersebut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investasi di SBN Ritel, Berikut 3 Keuntungannya
Perencana Keuangan Andi Nugroho mengatakan, mereka yang memiliki keuangan tidak sehat biasanya memiliki gaya hidup yang tinggi. Padahal seharusnya, untuk mendapatkan keuangan yang sehat, gaya hidupnya harus menyesuaikan dengan pendapatannya.

&quot;Karena kalau saya memperhatikan apakah mungkin dengan penghasilan Rp4 juta kita bergaya hidup Rp10 juta. Mungkin tapi akan sangat memberatkan. Cuma idealnya tetap gaya hidup kita akan menyesuaikan dengan penghasilan kita tadi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Jumat (4/9/2020).

&amp;nbsp;Baca juga: Gegara Corona, Yuk Mulai Evaluasi Pendapatan hingga Pengeluaran
Sebagai salah satu contoh simpelnya adalah ada pada pemilihan kendaraan untuk pergi ke kantor. Beberapa orang mungkin menginginkan untuk memiliki kendaraan bermotor yang mahal.

Misalnya, ada beberapa orang yang memiliki penghasilan sebesar Rp4 juta per bulan banyak yang ingin memiliki kendaraan NMax atau motor sport. Padahal seharusnya dengan penghasilan tersebut kendaraan yang dibeli cukup berupa motor matic atau bebek saja.&quot;Contohnya kita ke kantor dengan penghasilan Rp4 juta misalnya. Kita  berangkat ke tempat kerja. Apa yang membedakan antara kita berangkat ke  tempat kerja pakai motor misalnya Yamaha Mio sama kemudian NMax atau  Kawasaki ninja,&quot; jelasnya.

Secara fungsi pun menurut Andi, sama-sama untuk transportasi menuju  tempat kerja. Bahkan, antara naik motor matic atau bebek yang murah  dengan motor mahal waktu tempuhnya sama.

Yang membedakan hanyalah harganya yang lebih mahal dan juga modelnya  yang lebih eye catching sehingga bisa dipamerkan ke teman-teman kantor.  Tujuannya hanyalah untuk bisa dipuji oleh rekan sekantornya meskipun  secara fungsi sama-sama digunakan untuk transportasi.

&quot;Sebenarnya ya waktu tempuhnya sebenarnya sama terus kemudian kondisi  jalannya sama juga. Atau misalnya tiga itu tadi kita ke kantor naik  sepeda ataupun naik kendaraan umum. Kurang lebih kondisinya sama. Hanya  kalau kita mau menyesuaikan dengan penghasilan kita automatis gaya hidup  kita akan mengikuti,&quot; kata Andi.</content:encoded></item></channel></rss>
