<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laris Manis, Jamu Olahan Kekinian Ramai Diburu Pembeli</title><description>Masyarakat di masa pandemi Covid-19 membutuhkan keuletan serta  kreativitas agar tetap bertahan dan tidak terpuruk dalam hal ekonomi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli"/><item><title>Laris Manis, Jamu Olahan Kekinian Ramai Diburu Pembeli</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli</guid><pubDate>Selasa 08 September 2020 14:53 WIB</pubDate><dc:creator>Eddie Prayitno (Sindo TV)</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli-mJ1yx5SITS.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Jamu (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/08/455/2274426/laris-manis-jamu-olahan-kekinian-ramai-diburu-pembeli-mJ1yx5SITS.jpg</image><title>Jamu (Foto: Shutterstock)</title></images><description>KENDAL - Masyarakat di masa pandemi Covid-19 membutuhkan keuletan serta kreativitas agar tetap bertahan dan tidak terpuruk dalam hal ekonomi. Seperti salah satu pasangan suami istri di Kendal, Jawa Tengah yang saat ini tengah memanfaatkan peluang dengan membuat olahan jamu kekinian.
Jamu siap minum tersebut dikemas dengan wadah yang lebih menarik, sehingga menambah nilai jual dan menjadi minuman favorit anak muda. Bahan-bahan jamu tradisional yang dipakai seperti rempah-rempah meliputi kunyit asam, kunyit segar, asam jawa, kencur, serta temulawak.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ciptakan Ketahanan Pangan di Rumah, Yuk Mulai Budidaya Wortel
Dengan kombinasi racikan yang didapatkan dari orang tua dari Istiqomah sang penjual jamu, bahan-bahan untuk membuat jamu tradisional tersebut diolahnya menjadi jamu yang nikmat dan kaya akan manfaat. Selain itu, rempah-rempah juga dipercaya bisa menambah imun bagi tubuh.
Di tengah masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, bisnis ramuan rempah-rempah justru semakin digandrungi. Adapun cara pengolahan bahan rempah-rempah tersebut, sebenarnya sama dengan pembuatan jamu tradisional pada umumnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Sebelum diolah, bahan-bahan tersebut dikupas terlebih dahulu agar higienis. Sesudah bersih, bahan baku jamu lalu dihaluskan dengan cara diparut. Setelah itu, campur bahan-bahan dengan air mendidik hingga matang.
Setelah matang, jamu-jamu tersebut lalu disajikan ke dalam botol jamu yang menarik dan kekinian. Sejak tiga bulan merintis jamu kekinian tersebut, dalam sehari Istiqomah mengaku mampu memproduksi lima liter berbagai jamu seperti kunyit asam, temulawak, dan beras kencur, dari 200 hingga 300 botol yang berukuran 250 ml.Untuk pemasarannya, Istiqomah memanfaatkan media sosial, sehingga  dapat dengan mudah meraih pembeli. Biasanya, setiap botol dijual Rp6.000  dengan penjualan harian yang bisa mencapai puluhan botol.
Selain di Kendal, jamu hasil olahan tersebut juga dijual di beberapa  kota lainnya, seperti kota Semarang dan Batang. Diketahui, untuk rencana  ke depan, varian jamu milik Istiqomah akan ditambahkan seperti kunyit  asem original, sirih, serta mix temulawak.
Jamu olahan ini pun bisa dinikmati panas atau bisa disimpan di lemari pendingin untuk dinikmati saat cuaca terik.</description><content:encoded>KENDAL - Masyarakat di masa pandemi Covid-19 membutuhkan keuletan serta kreativitas agar tetap bertahan dan tidak terpuruk dalam hal ekonomi. Seperti salah satu pasangan suami istri di Kendal, Jawa Tengah yang saat ini tengah memanfaatkan peluang dengan membuat olahan jamu kekinian.
Jamu siap minum tersebut dikemas dengan wadah yang lebih menarik, sehingga menambah nilai jual dan menjadi minuman favorit anak muda. Bahan-bahan jamu tradisional yang dipakai seperti rempah-rempah meliputi kunyit asam, kunyit segar, asam jawa, kencur, serta temulawak.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ciptakan Ketahanan Pangan di Rumah, Yuk Mulai Budidaya Wortel
Dengan kombinasi racikan yang didapatkan dari orang tua dari Istiqomah sang penjual jamu, bahan-bahan untuk membuat jamu tradisional tersebut diolahnya menjadi jamu yang nikmat dan kaya akan manfaat. Selain itu, rempah-rempah juga dipercaya bisa menambah imun bagi tubuh.
Di tengah masa pandemi Covid-19 seperti sekarang, bisnis ramuan rempah-rempah justru semakin digandrungi. Adapun cara pengolahan bahan rempah-rempah tersebut, sebenarnya sama dengan pembuatan jamu tradisional pada umumnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Sebelum diolah, bahan-bahan tersebut dikupas terlebih dahulu agar higienis. Sesudah bersih, bahan baku jamu lalu dihaluskan dengan cara diparut. Setelah itu, campur bahan-bahan dengan air mendidik hingga matang.
Setelah matang, jamu-jamu tersebut lalu disajikan ke dalam botol jamu yang menarik dan kekinian. Sejak tiga bulan merintis jamu kekinian tersebut, dalam sehari Istiqomah mengaku mampu memproduksi lima liter berbagai jamu seperti kunyit asam, temulawak, dan beras kencur, dari 200 hingga 300 botol yang berukuran 250 ml.Untuk pemasarannya, Istiqomah memanfaatkan media sosial, sehingga  dapat dengan mudah meraih pembeli. Biasanya, setiap botol dijual Rp6.000  dengan penjualan harian yang bisa mencapai puluhan botol.
Selain di Kendal, jamu hasil olahan tersebut juga dijual di beberapa  kota lainnya, seperti kota Semarang dan Batang. Diketahui, untuk rencana  ke depan, varian jamu milik Istiqomah akan ditambahkan seperti kunyit  asem original, sirih, serta mix temulawak.
Jamu olahan ini pun bisa dinikmati panas atau bisa disimpan di lemari pendingin untuk dinikmati saat cuaca terik.</content:encoded></item></channel></rss>
