<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketua Komisi IV DPR Cecar Mentan soal Proyek Food Estate di Kalteng</title><description>Komisi IV DPR RI menggelar rapat kerja bersama Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di gedung DPR RI</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng"/><item><title>Ketua Komisi IV DPR Cecar Mentan soal Proyek Food Estate di Kalteng</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng</guid><pubDate>Senin 14 September 2020 16:31 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng-GhaSy4kCJm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Mentan Syahrul Limpo (Dok. Kementan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/14/320/2277557/ketua-komisi-iv-dpr-cecar-mentan-soal-proyek-food-estate-di-kalteng-GhaSy4kCJm.jpg</image><title>Mentan Syahrul Limpo (Dok. Kementan)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Komisi IV DPR RI menggelar rapat kerja bersama Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (14/9/2020). Dalam agenda itu, Syahrul menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyelesaikan mega proyek Food Estate di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 30.000 hektare hingga akhir tahun 2020.

&amp;ldquo;Pada 2020 ini, dilakukan pengolahan lahan melalui intensifikasi pertanian seluas 30.000 hektare. Dengan harapan dapat menyumbang produksi pangan pada akhir tahun ini,&quot; kata Syahrul di lokasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Manajemen Air Jadi Kunci Hadapi Kemarau Panjang
Menanggapi peryataaan Syahrul, Ketua Komis IV DPR Sudin pun meragukan proyek itu bisa selesai hingga akhir tahun 2020. Dia menilai, dengan sisa waktu yang kurang dari tiga bulan, maka pengerjaan itu sulit untuk diwujudkan.

&amp;ldquo;Waktu kita, September, Oktober, November, Desember bisa menanam 30.000 Ha? Kemudian, saya pernah menengok ke sana. 30.000 Ha itu sarana pendukungnya masih rusak berat setahun yang lalu, ya. Januari atau Februari saya sudah meninjau ke sana. Rusak berat masih dalam perbaikan,&quot; kata Sudin.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Daya Beli Lesu, Sandiaga Uno Minta Harga Pangan Terjaga
Mendengar keraguan itu, Syahrul pun langsung menjawab dengan optimis bahwa pihaknya dapat menyelesaikan Food Estate di tahun 2020. Pasalnya, Kementan telah melakukan persiapan sejak April 2020 lalu.

&amp;ldquo;Apalagi di sana sudah mulai dilakukan sebenarnya. Dan lebih banyak pada lahan yang sudah kita intervensi pada bulan April, dan ini masuk pada penanaman intensifikasi di 30.000 Ha itu. Jadi kami sure, di 30.000 Hektare itu kita bisa masuk. Tapi memang dengan kerja yang lebih kuat dan irigasi sudah terbenahi,&quot; katanya.

Sudin pun menimpali jawaban dari mantan gubernur Sulawesi Selatan tersebut. Menurut dia, jumlah petani di sana tak mencukupi untuk membantu Kementan menyelesaikan proyek sebesar itu.

&amp;ldquo;Setidaknya kalau saya hitung kita butuh lebih dari 100.000 orang petani. Jangan target setinggi langit, tapi pencapaian se kaki bukit. Saya tidak mau target terlalu tinggi, tiba-tiba tidak tercapai,&quot; ujarnya.Syahrul pun terus mencoba meyakinkan bahwa pihaknya dapat  menyelesaikan Food Estate di tahun ini. Dia menyebut telah berkoordinasi  dengan keberadaan para transmigran dan sekitar 300 Babinsa untuk  membantu Kementan mengerjakan proyek itu dengan lahan seluas 30.000  hektare.

&quot;Ada bekas transmigrasi petani asal pulau Jawa dan di sana juga sudah  turun 300 orang Babinsa yang diperbantukan. Kami juga lakukan alat  berat di sana, termasuk traktor yang sudah tersedia di atas 150 buah  diambil dari seluruh Kalteng,&quot; kata dia.

Sudin lantas menyanggahnya dengan melihat kesiapan alat-alat Kementan  dalam menggarap sawah seluas 30.000 hektare. Sebab, jika mengandalkan  traktor, diyakini waktunya tak akan cukup hingga akhir tahun. Mentan pun  menjawab bila pihaknya akan menggunakan drone untuk menabur bibit  pangan di lahan sebesar itu.

&quot;Sudah pernah dicoba tidak menggunakan drone?. Di wilayah mana saya  mau tahu? Berapa luasannya? Saya ini baru dengar loh,&quot; Tanya Sudin.

Menengahi perdebatan itu, Dirjen Dirjen Tanaman Pangan Kementan  Sumarjo Gatot Irianto menjelaskan bahwa telah menggunakan sistem itu di  berbagai wilayah di Indonesia.

&quot;Pola sistem tabur ini sudah biasa dilakukan. Baik di Kalimantan  Tengah, Kalimantan Selatan dan sebagian Sumatera Selatan dan Banyuasin  itu juga pakai tabur dengan Drone,&quot; ujar dia.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Komisi IV DPR RI menggelar rapat kerja bersama Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (14/9/2020). Dalam agenda itu, Syahrul menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyelesaikan mega proyek Food Estate di Kalimantan Tengah dengan lahan seluas 30.000 hektare hingga akhir tahun 2020.

&amp;ldquo;Pada 2020 ini, dilakukan pengolahan lahan melalui intensifikasi pertanian seluas 30.000 hektare. Dengan harapan dapat menyumbang produksi pangan pada akhir tahun ini,&quot; kata Syahrul di lokasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Manajemen Air Jadi Kunci Hadapi Kemarau Panjang
Menanggapi peryataaan Syahrul, Ketua Komis IV DPR Sudin pun meragukan proyek itu bisa selesai hingga akhir tahun 2020. Dia menilai, dengan sisa waktu yang kurang dari tiga bulan, maka pengerjaan itu sulit untuk diwujudkan.

&amp;ldquo;Waktu kita, September, Oktober, November, Desember bisa menanam 30.000 Ha? Kemudian, saya pernah menengok ke sana. 30.000 Ha itu sarana pendukungnya masih rusak berat setahun yang lalu, ya. Januari atau Februari saya sudah meninjau ke sana. Rusak berat masih dalam perbaikan,&quot; kata Sudin.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Daya Beli Lesu, Sandiaga Uno Minta Harga Pangan Terjaga
Mendengar keraguan itu, Syahrul pun langsung menjawab dengan optimis bahwa pihaknya dapat menyelesaikan Food Estate di tahun 2020. Pasalnya, Kementan telah melakukan persiapan sejak April 2020 lalu.

&amp;ldquo;Apalagi di sana sudah mulai dilakukan sebenarnya. Dan lebih banyak pada lahan yang sudah kita intervensi pada bulan April, dan ini masuk pada penanaman intensifikasi di 30.000 Ha itu. Jadi kami sure, di 30.000 Hektare itu kita bisa masuk. Tapi memang dengan kerja yang lebih kuat dan irigasi sudah terbenahi,&quot; katanya.

Sudin pun menimpali jawaban dari mantan gubernur Sulawesi Selatan tersebut. Menurut dia, jumlah petani di sana tak mencukupi untuk membantu Kementan menyelesaikan proyek sebesar itu.

&amp;ldquo;Setidaknya kalau saya hitung kita butuh lebih dari 100.000 orang petani. Jangan target setinggi langit, tapi pencapaian se kaki bukit. Saya tidak mau target terlalu tinggi, tiba-tiba tidak tercapai,&quot; ujarnya.Syahrul pun terus mencoba meyakinkan bahwa pihaknya dapat  menyelesaikan Food Estate di tahun ini. Dia menyebut telah berkoordinasi  dengan keberadaan para transmigran dan sekitar 300 Babinsa untuk  membantu Kementan mengerjakan proyek itu dengan lahan seluas 30.000  hektare.

&quot;Ada bekas transmigrasi petani asal pulau Jawa dan di sana juga sudah  turun 300 orang Babinsa yang diperbantukan. Kami juga lakukan alat  berat di sana, termasuk traktor yang sudah tersedia di atas 150 buah  diambil dari seluruh Kalteng,&quot; kata dia.

Sudin lantas menyanggahnya dengan melihat kesiapan alat-alat Kementan  dalam menggarap sawah seluas 30.000 hektare. Sebab, jika mengandalkan  traktor, diyakini waktunya tak akan cukup hingga akhir tahun. Mentan pun  menjawab bila pihaknya akan menggunakan drone untuk menabur bibit  pangan di lahan sebesar itu.

&quot;Sudah pernah dicoba tidak menggunakan drone?. Di wilayah mana saya  mau tahu? Berapa luasannya? Saya ini baru dengar loh,&quot; Tanya Sudin.

Menengahi perdebatan itu, Dirjen Dirjen Tanaman Pangan Kementan  Sumarjo Gatot Irianto menjelaskan bahwa telah menggunakan sistem itu di  berbagai wilayah di Indonesia.

&quot;Pola sistem tabur ini sudah biasa dilakukan. Baik di Kalimantan  Tengah, Kalimantan Selatan dan sebagian Sumatera Selatan dan Banyuasin  itu juga pakai tabur dengan Drone,&quot; ujar dia.</content:encoded></item></channel></rss>
