<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   Impor RI Meningkat di Tengah Covid-19, Emas dari Hong Kong hingga Anggur China</title><description>Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang konsumsi paling besar di tengah pandemi Covid-19</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china"/><item><title>   Impor RI Meningkat di Tengah Covid-19, Emas dari Hong Kong hingga Anggur China</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china</guid><pubDate>Selasa 15 September 2020 16:44 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china-gec5bTf8mG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Harga Emas (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/15/320/2278179/impor-ri-meningkat-di-tengah-covid-19-emas-dari-hong-kong-hingga-anggur-china-gec5bTf8mG.jpg</image><title>Harga Emas (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang konsumsi paling besar di tengah pandemi Covid-19. Adapun impor bahan baku menyumbang 7,31%. Sebagai informasi nilai impor Indonesia Agustus 2020 mencapai USD10,74 miliar, atau naik 2,65% dibandingkan Juli 2020 yang mencapai USD10,47 miliar.


Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor bahan baku yang secara month-to-month juga mengalami kenaikan 5% di Agustus 2020, yakni terjadi pada komoditas emas dari Hong Kong, Soya Bean Flour dari Brasil, besi baja dari Ukraina.

&quot;Lalu alat untuk kebutuhan komunikasi dari China,&quot; kata Suhariyanto secara virtual, Selasa (15/9/2020)
Baca Juga: Impor Anjlok 24,19%, Indonesia Masih Tergantung Barang dari China
Dia menjelaskan, impor barang konsumsi dan impor bahan baku untuk Agustus 2020 meningkat month-to-month, akibat kenaikan tingkat impor pada sejumlah komoditas.

&quot;Barang konsumsi month-to-month nya mengalami peningkatan 7,31%, di antaranya adalah anggur dari China, kemudian cream and powder Selandia Baru, roll sugar insolid form dari India,&quot; katanya

Sementara untuk impor non-migas bulan Agustus 2020 tercatat mencapai USD9,79 miliar, atau naik 3,01% dibandingkan Juli 2020. Kemudian impor migas Agustus 2020 senilai USD0,95 miliar tercatat turun 0,88%, dibandingkan bulan Juli 2020. Demikian pula jika dibandingkan Agustus 2019 turun 41,75%.


Peningkatan impor non-migas terbesar Agustus 2020 dibandingkan Juli 2020 adalah golongan besi dan baja senilai USD89,2 juta (23,31%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal, perahu, dan struktur terapung senilai USD60,8 juta (40,96%).

&amp;nbsp;
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama  Januari-Agustus 2020 adalah Tiongkok senilai USD24,72 miliar (29,90%),  Jepang USD7,31 miliar (8,84%), dan Singapura USD5,41 miliar (6,55%).


Impor non-migas dari ASEAN tercatat senilai USD15,61 miliar (18,89%)  dan Uni Eropa senilai USD6,61 miliar (7,99 %). Sementara nilai impor  seluruh golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2020 mengalami  penurunan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


&quot;Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (7,86%), bahan baku/penolong (18,85%), dan barang modal (20,13%),&quot; tandasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang konsumsi paling besar di tengah pandemi Covid-19. Adapun impor bahan baku menyumbang 7,31%. Sebagai informasi nilai impor Indonesia Agustus 2020 mencapai USD10,74 miliar, atau naik 2,65% dibandingkan Juli 2020 yang mencapai USD10,47 miliar.


Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, impor bahan baku yang secara month-to-month juga mengalami kenaikan 5% di Agustus 2020, yakni terjadi pada komoditas emas dari Hong Kong, Soya Bean Flour dari Brasil, besi baja dari Ukraina.

&quot;Lalu alat untuk kebutuhan komunikasi dari China,&quot; kata Suhariyanto secara virtual, Selasa (15/9/2020)
Baca Juga: Impor Anjlok 24,19%, Indonesia Masih Tergantung Barang dari China
Dia menjelaskan, impor barang konsumsi dan impor bahan baku untuk Agustus 2020 meningkat month-to-month, akibat kenaikan tingkat impor pada sejumlah komoditas.

&quot;Barang konsumsi month-to-month nya mengalami peningkatan 7,31%, di antaranya adalah anggur dari China, kemudian cream and powder Selandia Baru, roll sugar insolid form dari India,&quot; katanya

Sementara untuk impor non-migas bulan Agustus 2020 tercatat mencapai USD9,79 miliar, atau naik 3,01% dibandingkan Juli 2020. Kemudian impor migas Agustus 2020 senilai USD0,95 miliar tercatat turun 0,88%, dibandingkan bulan Juli 2020. Demikian pula jika dibandingkan Agustus 2019 turun 41,75%.


Peningkatan impor non-migas terbesar Agustus 2020 dibandingkan Juli 2020 adalah golongan besi dan baja senilai USD89,2 juta (23,31%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan kapal, perahu, dan struktur terapung senilai USD60,8 juta (40,96%).

&amp;nbsp;
Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama  Januari-Agustus 2020 adalah Tiongkok senilai USD24,72 miliar (29,90%),  Jepang USD7,31 miliar (8,84%), dan Singapura USD5,41 miliar (6,55%).


Impor non-migas dari ASEAN tercatat senilai USD15,61 miliar (18,89%)  dan Uni Eropa senilai USD6,61 miliar (7,99 %). Sementara nilai impor  seluruh golongan penggunaan barang selama Januari-Agustus 2020 mengalami  penurunan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.


&quot;Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (7,86%), bahan baku/penolong (18,85%), dan barang modal (20,13%),&quot; tandasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
