<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>67% Orang Indonesia Lebih Suka Belanja Produk Lokal</title><description>Lebih dari setengah orang Indonesia mengatakan bahwa mereka sekarang lebih cenderung berbelanja produk yang lokal (67%).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal"/><item><title>67% Orang Indonesia Lebih Suka Belanja Produk Lokal</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal</guid><pubDate>Rabu 16 September 2020 14:20 WIB</pubDate><dc:creator>Kunthi Fahmar Shandy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal-0EFCWcvyBQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">UMKM (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/16/455/2278678/67-orang-indonesia-lebih-suka-belanja-produk-lokal-0EFCWcvyBQ.jpg</image><title>UMKM (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Selain bertransaksi secara non-tunai, lebih dari setengah orang Indonesia mengatakan bahwa mereka sekarang lebih cenderung berbelanja produk yang lokal (67%), yang lebih berkelanjutan/sustainable (59%) dan yang diproduksi oleh usaha kecil/UMKM (60%).
&amp;ldquo;Ini adalah kabar baik bagi usaha kecil dan mereka yang memproduksi barang-barang buatan lokal, terutama yang membuat dan menjual produk yang diproduksi secara berkelanjutan,&quot; kata CEO Standard Chartered Bank Indonesia Andrew Chia di Jakarta, Rabu (16/9/2020).
Baca Juga: Lagi Pandemi Covid-19, Usaha Mahar Pernikahan Justru Ramai Dicari Calon Pengantin
Perubahan ini diharapkan dapat sejalan dengan program Bangga Buatan Indonesia (BBI) dari pemerintah Indonesia yang mendorong belanja produk dalam negeri, khususnya dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sebagai cara mendongkrak belanja domestik yang adalah penyumbang signifikan bagi PDB Indonesia.
Ketika pengeluaran mulai meningkat seiring dengan pembatasan sosial secara global mulai dilonggarkan, 55% orang Indonesia (dan 46% secara global) melaporkan peningkatan pengeluaran di bulan Juli. Menurut Survei global terbaru dari Standard Chartered, sekitar 81% orang Indonesia (dan 75% secara global) mengatakan pandemi ini telah membuat mereka lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka.
Baca Juga: Pria Lulusan S2 Jadi Tukang Cukur, Dibayar Seikhlasnya
Sebagai refleksi peningkatan kehati-hatian ini, 64% responden survei di Indonesia (dan 62% secara global) mengatakan bahwa dampak ekonomi Covid-19 telah membuat mereka lebih cenderung melacak pengeluaran mereka, dengan 85% menggunakan atau tertarik menggunakan alat penghitung anggaran, dan 78% menggunakan atau menginginkan alat yang memblokir pembelanjaan dengan kartu bila melebihi batas yang ditentukan.
Konsumen di seluruh dunia, sambung dia, termasuk di Indonesia, sekarang juga menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan dasar seperti bahan makanan dan perawatan kesehatan serta perangkat digital dibandingkan dengan apa yang mereka belanjakan sebelum pandemi, dan mereka melihat peningkatan ini terus berlanjut di masa mendatang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sekitar 56% orang Indonesia (64% secara global) mengatakan bahwa  mereka mengeluarkan lebih sedikit uang untuk perjalanan/liburan bila  dibandingkan sebelum pandemi. 36% orang Indonesia (dan 41% secara  global) menghabiskan lebih sedikit untuk hal yang bersifat pengalaman  dan 49% (55% secara global) mengeluarkan lebih sedikit uang untuk  belanja pakaian.
Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut dengan 35% orang Indonesia  mengatakan ke depannya mereka mengantisipasi pengeluaran yang lebih  sedikit untuk perjalanan/liburan. Selain itu ke depannya
24% dari orang Indonesia akan mengeluarkan uang lebih sedikit untuk  hal yang bersifat pengalaman dan 31% akan mengurangi berbelanja pakaian.
</description><content:encoded>JAKARTA - Selain bertransaksi secara non-tunai, lebih dari setengah orang Indonesia mengatakan bahwa mereka sekarang lebih cenderung berbelanja produk yang lokal (67%), yang lebih berkelanjutan/sustainable (59%) dan yang diproduksi oleh usaha kecil/UMKM (60%).
&amp;ldquo;Ini adalah kabar baik bagi usaha kecil dan mereka yang memproduksi barang-barang buatan lokal, terutama yang membuat dan menjual produk yang diproduksi secara berkelanjutan,&quot; kata CEO Standard Chartered Bank Indonesia Andrew Chia di Jakarta, Rabu (16/9/2020).
Baca Juga: Lagi Pandemi Covid-19, Usaha Mahar Pernikahan Justru Ramai Dicari Calon Pengantin
Perubahan ini diharapkan dapat sejalan dengan program Bangga Buatan Indonesia (BBI) dari pemerintah Indonesia yang mendorong belanja produk dalam negeri, khususnya dari Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), sebagai cara mendongkrak belanja domestik yang adalah penyumbang signifikan bagi PDB Indonesia.
Ketika pengeluaran mulai meningkat seiring dengan pembatasan sosial secara global mulai dilonggarkan, 55% orang Indonesia (dan 46% secara global) melaporkan peningkatan pengeluaran di bulan Juli. Menurut Survei global terbaru dari Standard Chartered, sekitar 81% orang Indonesia (dan 75% secara global) mengatakan pandemi ini telah membuat mereka lebih berhati-hati dengan pengeluaran mereka.
Baca Juga: Pria Lulusan S2 Jadi Tukang Cukur, Dibayar Seikhlasnya
Sebagai refleksi peningkatan kehati-hatian ini, 64% responden survei di Indonesia (dan 62% secara global) mengatakan bahwa dampak ekonomi Covid-19 telah membuat mereka lebih cenderung melacak pengeluaran mereka, dengan 85% menggunakan atau tertarik menggunakan alat penghitung anggaran, dan 78% menggunakan atau menginginkan alat yang memblokir pembelanjaan dengan kartu bila melebihi batas yang ditentukan.
Konsumen di seluruh dunia, sambung dia, termasuk di Indonesia, sekarang juga menghabiskan lebih banyak uang untuk kebutuhan dasar seperti bahan makanan dan perawatan kesehatan serta perangkat digital dibandingkan dengan apa yang mereka belanjakan sebelum pandemi, dan mereka melihat peningkatan ini terus berlanjut di masa mendatang.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Sekitar 56% orang Indonesia (64% secara global) mengatakan bahwa  mereka mengeluarkan lebih sedikit uang untuk perjalanan/liburan bila  dibandingkan sebelum pandemi. 36% orang Indonesia (dan 41% secara  global) menghabiskan lebih sedikit untuk hal yang bersifat pengalaman  dan 49% (55% secara global) mengeluarkan lebih sedikit uang untuk  belanja pakaian.
Tren ini diperkirakan akan terus berlanjut dengan 35% orang Indonesia  mengatakan ke depannya mereka mengantisipasi pengeluaran yang lebih  sedikit untuk perjalanan/liburan. Selain itu ke depannya
24% dari orang Indonesia akan mengeluarkan uang lebih sedikit untuk  hal yang bersifat pengalaman dan 31% akan mengurangi berbelanja pakaian.
</content:encoded></item></channel></rss>
