<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perajin Peti Mati Ramai Order saat Covid-19</title><description>Kematian akibat Covid-19 di berbagai daerah memang terus meningkat, dan menjadi duka bagi keluarga.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ramai-order-saat-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ramai-order-saat-covid-19"/><item><title>Perajin Peti Mati Ramai Order saat Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ramai-order-saat-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ramai-order-saat-covid-19</guid><pubDate>Jum'at 18 September 2020 18:15 WIB</pubDate><dc:creator>Budi Utomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ketiban-rezeki-nomplok-saat-covid-19-FJ6YMuPwMr.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/18/455/2279975/perajin-peti-mati-ketiban-rezeki-nomplok-saat-covid-19-FJ6YMuPwMr.jpg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>KULON PROGO - Kematian akibat Covid-19 di berbagai daerah memang terus meningkat, dan menjadi duka bagi keluarga. Namun di sisi lain, ada pula pihak yang justru mendapat berkah, yakni penjual dan perajin peti mati.
Salah satunya adalah Sucipto seorang penjual peti mati dan merupakan warga Driyan, Kapanewon Wates. Di mana, dirinya telah menjalani usaha menjual peti mati selama puluhan tahun.
Baca Juga: Kisah Pedagang Masker: Ketiban Untung hingga Kucing-kucingan dengan Satpol PP
 
Di masa pandemi saat ini Mbah Cipto yang sudah berusia 60 tahun mengungkapkan, penjualannya mengalami peningkatan keuntungan hingga 20%. Dalam sehari rata-rata biasa mendapat panggilan dan menjual sebanyak 3 hingga 4 peti mati dengan berbagai jenis, seperti peti mati jenis joglo, limasan, dan kepak.
Bahkan diketahui, toko peti mati Mbah Cipto yang berada di tengah kota Wates, Kulon Progo ini sudah menjadi langganan pesanan dari rumah sakit, salah satunya rumah sakit di daerah Wates, karena siap melayani 24 jam.
Baca Juga: Industri Benang Jahit Tetap Cuan saat Covid-19, Apa Rahasianya?
Salah satu karyawan RSUD Wates, yakni pembeli peti mati Kundori mengatakan, kerap mendatangi toko peti mati Mbah Cipto karena melayani 24 jam dan harga dipasang dengan harga langganan rumah sakit.
&quot;Datang kesini mau beli peti jenazah untuk kebutuhan rumah sakit, biasa pesan disini karena disini siap sewaktu-waktu 24 jam. Harga ya relatif udah langganan rumah sakit,&quot; ujarnya.



Sementara, pembuat peti mati yakni seorang warga Ngento, Jumono mengaku sudah 15 tahun membuat peti mati untuk toko Mbah Cipto.
&quot;Saya awalnya ditawari bikin peti mati, sebelumnya jadi tukang kayu  sekitar 5 tahun. Peti yang dibikin ada tiga macam, jenis peti limasan,  joglo, dan kepak. Ongkos buat sekitar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.  Pembuatan tidak ada kesulitan hanya butuh waktu saja, kalau yang kepak  sehari bisa satu unit, namun kalau yang limasan dan joglo sekitar dua  hari. Pandemi ini tak ada peningkatan, hanya setiap minggu kirim ke  penjual sekitar 4 hingga 6 unit peti mati,&quot; jelasnya.
Sementara, harga peti mati di toko Mbah Cipto per unitnya dibanderol  bervariasi, mulai dari harga Rp550 ribu untuk jenis peti kepak, Rp700  ribu hingga Rp800 ribu untuk jenis limasan, dan Rp1,3 juta untuk jenis  peti mati joglo. (kmj) </description><content:encoded>KULON PROGO - Kematian akibat Covid-19 di berbagai daerah memang terus meningkat, dan menjadi duka bagi keluarga. Namun di sisi lain, ada pula pihak yang justru mendapat berkah, yakni penjual dan perajin peti mati.
Salah satunya adalah Sucipto seorang penjual peti mati dan merupakan warga Driyan, Kapanewon Wates. Di mana, dirinya telah menjalani usaha menjual peti mati selama puluhan tahun.
Baca Juga: Kisah Pedagang Masker: Ketiban Untung hingga Kucing-kucingan dengan Satpol PP
 
Di masa pandemi saat ini Mbah Cipto yang sudah berusia 60 tahun mengungkapkan, penjualannya mengalami peningkatan keuntungan hingga 20%. Dalam sehari rata-rata biasa mendapat panggilan dan menjual sebanyak 3 hingga 4 peti mati dengan berbagai jenis, seperti peti mati jenis joglo, limasan, dan kepak.
Bahkan diketahui, toko peti mati Mbah Cipto yang berada di tengah kota Wates, Kulon Progo ini sudah menjadi langganan pesanan dari rumah sakit, salah satunya rumah sakit di daerah Wates, karena siap melayani 24 jam.
Baca Juga: Industri Benang Jahit Tetap Cuan saat Covid-19, Apa Rahasianya?
Salah satu karyawan RSUD Wates, yakni pembeli peti mati Kundori mengatakan, kerap mendatangi toko peti mati Mbah Cipto karena melayani 24 jam dan harga dipasang dengan harga langganan rumah sakit.
&quot;Datang kesini mau beli peti jenazah untuk kebutuhan rumah sakit, biasa pesan disini karena disini siap sewaktu-waktu 24 jam. Harga ya relatif udah langganan rumah sakit,&quot; ujarnya.



Sementara, pembuat peti mati yakni seorang warga Ngento, Jumono mengaku sudah 15 tahun membuat peti mati untuk toko Mbah Cipto.
&quot;Saya awalnya ditawari bikin peti mati, sebelumnya jadi tukang kayu  sekitar 5 tahun. Peti yang dibikin ada tiga macam, jenis peti limasan,  joglo, dan kepak. Ongkos buat sekitar Rp100 ribu hingga Rp125 ribu.  Pembuatan tidak ada kesulitan hanya butuh waktu saja, kalau yang kepak  sehari bisa satu unit, namun kalau yang limasan dan joglo sekitar dua  hari. Pandemi ini tak ada peningkatan, hanya setiap minggu kirim ke  penjual sekitar 4 hingga 6 unit peti mati,&quot; jelasnya.
Sementara, harga peti mati di toko Mbah Cipto per unitnya dibanderol  bervariasi, mulai dari harga Rp550 ribu untuk jenis peti kepak, Rp700  ribu hingga Rp800 ribu untuk jenis limasan, dan Rp1,3 juta untuk jenis  peti mati joglo. (kmj) </content:encoded></item></channel></rss>
