<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Resesi, Ekonomi RI 2020 Diprediksi Minus 2%</title><description>Indonesia segera menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi karena pandemi virus corona</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2"/><item><title>Resesi, Ekonomi RI 2020 Diprediksi Minus 2%</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2</guid><pubDate>Kamis 24 September 2020 13:48 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2-FrLh9XAoA5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Terancam Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/24/320/2283021/resesi-ekonomi-ri-2020-diprediksi-minus-2-FrLh9XAoA5.jpg</image><title>Indonesia Terancam Resesi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Indonesia segera menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi karena pandemi virus corona. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 2% sampai 3%.
&amp;ldquo;Kalau kita lihat bisa minus 2% hingga minus 3% di kuartal III. Lalu kami memperkirakan pertumbuhan full-year ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada pada kisaran minus 1% sampai minus 2%,&quot;  Chief Economist Group Bank Mandiri Andry Asmoro, dalam diskusi virtual, Kamis (24/9/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Indonesia Resesi, Tak Sedalam Malaysia hingga Singapura
Menurut dia, penanganan Covid-19 menjadi kunci pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan penanganan dan penerapan protokol Covid-19 yang benar, Indonesia berpeluang mendapatkan porsi yang besar dari pemulihan ekonomi global.
&amp;ldquo;Jika kita bisa, maka peluang besar kita peroleh karena likuiditas cukup besar, suku bunga masih relatif rendah, dan ada permintaan yang tertahan,&amp;rdquo; sambungnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Resesi Tak Terhindarkan meski Data Ekonomi Membaik
Ditambahkannya, faktor-faktor positif yang terus menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah angka-angka retail sudah melewati level terendahnya di April dan Mei, suku bunga acuan Bank Indonesia masih rendah hingga 1-2 tahun ke depan, transfer dana atau bantuan sosial yang lebih besar di semester II tahun ini, serta omnibus law.
Namun, beberapa faktor negatifnya kasus Covid-19 yang terus naik dan belum terlihat peaknya dan berdampak pada diterapkannya kembali PSBB di provinsi besar
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Pertumbuhan PDB yang mungkin terkontraksi di kuartal III dan IV, kurva stagnan dari proses pemulihan sisi permintaan, serta aliran modal masih dapat berbalik jika risiko meningkat,&quot; katanya.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV masih kontraksi, namun bisa berpeluang positif apabila ada dorongan belanja modal negara dan masyarakat.
&amp;ldquo;Kami lihat ada kontraksi minus 1% sampai dengan minus 2% sampai akhir tahun ini,&amp;rdquo; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Indonesia segera menjadi negara selanjutnya yang mengalami resesi karena pandemi virus corona. Diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2020 minus 2% sampai 3%.
&amp;ldquo;Kalau kita lihat bisa minus 2% hingga minus 3% di kuartal III. Lalu kami memperkirakan pertumbuhan full-year ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada pada kisaran minus 1% sampai minus 2%,&quot;  Chief Economist Group Bank Mandiri Andry Asmoro, dalam diskusi virtual, Kamis (24/9/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Indonesia Resesi, Tak Sedalam Malaysia hingga Singapura
Menurut dia, penanganan Covid-19 menjadi kunci pemulihan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan penanganan dan penerapan protokol Covid-19 yang benar, Indonesia berpeluang mendapatkan porsi yang besar dari pemulihan ekonomi global.
&amp;ldquo;Jika kita bisa, maka peluang besar kita peroleh karena likuiditas cukup besar, suku bunga masih relatif rendah, dan ada permintaan yang tertahan,&amp;rdquo; sambungnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Resesi Tak Terhindarkan meski Data Ekonomi Membaik
Ditambahkannya, faktor-faktor positif yang terus menggerakkan pertumbuhan ekonomi adalah angka-angka retail sudah melewati level terendahnya di April dan Mei, suku bunga acuan Bank Indonesia masih rendah hingga 1-2 tahun ke depan, transfer dana atau bantuan sosial yang lebih besar di semester II tahun ini, serta omnibus law.
Namun, beberapa faktor negatifnya kasus Covid-19 yang terus naik dan belum terlihat peaknya dan berdampak pada diterapkannya kembali PSBB di provinsi besar
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&quot;Pertumbuhan PDB yang mungkin terkontraksi di kuartal III dan IV, kurva stagnan dari proses pemulihan sisi permintaan, serta aliran modal masih dapat berbalik jika risiko meningkat,&quot; katanya.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV masih kontraksi, namun bisa berpeluang positif apabila ada dorongan belanja modal negara dan masyarakat.
&amp;ldquo;Kami lihat ada kontraksi minus 1% sampai dengan minus 2% sampai akhir tahun ini,&amp;rdquo; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
