<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Lapar Mata Berinvestasi Jelang Resesi</title><description>Berinvestasi saat ekonomi di ambang resesi memang diperbolehkan karena bisa menjadi tabungan di masa mendatang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi"/><item><title>Jangan Lapar Mata Berinvestasi Jelang Resesi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi</guid><pubDate>Kamis 24 September 2020 11:33 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi-HdccxYDtGO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Personal Finance (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/24/622/2282915/jangan-lapar-mata-berinvestasi-jelang-resesi-HdccxYDtGO.jpg</image><title>Personal Finance (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Berinvestasi saat ekonomi di ambang resesi memang diperbolehkan karena bisa menjadi tabungan di masa mendatang. Namun, saat investasi juga harus memiliki strategi agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan keuangan bisa tetap aman.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan, salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan tidak menginvestasikan seluruh uang hasil kerjanya. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerugian akibat penurunan saham atau aset pada instrumen investasi yang dimiliki.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Strategi Investasi di saat Resesi, Diversifikasi Solusinya
Menurut Mike, ada baiknya, pendapatan yang dimiliki dibagi ke dalam beberapa pos. Misalnya adalah dengan membagi pos pengeluaran ke dalam 4 bagian yakni untuk investasi, kebutuhan sehari-hari, asuransi hingga dana darurat.

Menurut Mike, dana darurat ini sangat penting untuk mengcover kebutuhan yang tak bisa dipenuhi dengan asuransi. Kemudian yang kedua adalah untuk investasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investasi di Infrastruktur Harus Bisa Menjawab Tantangan Ekonomi saat Ini
Namun, dalam menginvestasikan ini juga perlu berhati-hati dan harus memilih yang sifatnya konservatif agar lebih aman. Misalnya adalah dengan memilih jenis instrumen investasi seperti emas hingga deposito.Lalu jangan lupa untuk menyiapkan asuransi. Khususnya asuransi yang  bisa mengcover risiko keuangan tertentu seperti kesehatan dan kematian.

&quot;Jadi kalau mau balance kita harus mendiversifikasi. Jadi punya namun  tetap sesuai dengan profil risiko investasi kita. Nah contohnya begini,  karena ingin balance dan terdiversifikasi dengan baik anda harus  investasi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (24/9/2020).

Khusus Investasi,  agar risiko tersebut bisa diminimalisir, ada  baiknya untuk membagi rata uang yang akan diinvestasikan. Misalnya,  dengan uang Rp1 juta, maka agar tingkat risikonya rendah maka dibagi ke  dalam beberapa instrumen.

&quot;Kalau kita bicara balance, kalau dalam investasi itu sebenarnya  terdiversifikasi dengan baik sebenarnya. Maksudnya gini, kalau kita  hanya beli saham saja, menjaga likuiditas saja, kita kan tidak  mendeversifikasi kita hanya berkonsentrasi,&quot; ucapnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Berinvestasi saat ekonomi di ambang resesi memang diperbolehkan karena bisa menjadi tabungan di masa mendatang. Namun, saat investasi juga harus memiliki strategi agar tidak jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan keuangan bisa tetap aman.

Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini mengatakan, salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah dengan tidak menginvestasikan seluruh uang hasil kerjanya. Hal ini untuk mencegah terjadinya kerugian akibat penurunan saham atau aset pada instrumen investasi yang dimiliki.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Strategi Investasi di saat Resesi, Diversifikasi Solusinya
Menurut Mike, ada baiknya, pendapatan yang dimiliki dibagi ke dalam beberapa pos. Misalnya adalah dengan membagi pos pengeluaran ke dalam 4 bagian yakni untuk investasi, kebutuhan sehari-hari, asuransi hingga dana darurat.

Menurut Mike, dana darurat ini sangat penting untuk mengcover kebutuhan yang tak bisa dipenuhi dengan asuransi. Kemudian yang kedua adalah untuk investasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investasi di Infrastruktur Harus Bisa Menjawab Tantangan Ekonomi saat Ini
Namun, dalam menginvestasikan ini juga perlu berhati-hati dan harus memilih yang sifatnya konservatif agar lebih aman. Misalnya adalah dengan memilih jenis instrumen investasi seperti emas hingga deposito.Lalu jangan lupa untuk menyiapkan asuransi. Khususnya asuransi yang  bisa mengcover risiko keuangan tertentu seperti kesehatan dan kematian.

&quot;Jadi kalau mau balance kita harus mendiversifikasi. Jadi punya namun  tetap sesuai dengan profil risiko investasi kita. Nah contohnya begini,  karena ingin balance dan terdiversifikasi dengan baik anda harus  investasi,&quot; ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (24/9/2020).

Khusus Investasi,  agar risiko tersebut bisa diminimalisir, ada  baiknya untuk membagi rata uang yang akan diinvestasikan. Misalnya,  dengan uang Rp1 juta, maka agar tingkat risikonya rendah maka dibagi ke  dalam beberapa instrumen.

&quot;Kalau kita bicara balance, kalau dalam investasi itu sebenarnya  terdiversifikasi dengan baik sebenarnya. Maksudnya gini, kalau kita  hanya beli saham saja, menjaga likuiditas saja, kita kan tidak  mendeversifikasi kita hanya berkonsentrasi,&quot; ucapnya.</content:encoded></item></channel></rss>
