<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PSBB Jakarta Diperpanjang, Pendapatan Pengusaha Properti Diprediksi Turun</title><description>Pandemi virus corona membuat sektor properti terkena dampaknya.&amp;nbsp;</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun"/><item><title>PSBB Jakarta Diperpanjang, Pendapatan Pengusaha Properti Diprediksi Turun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun</guid><pubDate>Jum'at 25 September 2020 10:02 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun-GOeKpW60R9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rumah (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/25/470/2283443/psbb-jakarta-diperpanjang-pendapatan-pengusaha-properti-diprediksi-turun-GOeKpW60R9.jpg</image><title>Rumah (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi virus corona membuat sektor properti terkena  dampaknya. Apalagi dengan diberlakukannya kembali kebijakan Pembatasan  Sosial Berskala Besar (PSBB).

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry  Salanto mengatakan sejak PSBB fase pertama, sudah ada perlambatan dan  penurunan trafik pengunjung di pusat perbelanjaan. Hal ini juga  berdampak pada penurunan penjualan pada sebagian besar toko.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Industri Properti Lesu, Banyak Masyarakat Tunda Beli Rumah
&quot;Sejak PSBB fase pertama, kami telah melihat perlambatan atau  penurunan trafik dari pengunjung pusat perbelanjaan yang berujung pada  penurunan penjualan yang mempengaruhi sebagian besar toko,&quot; ujarnya  kepada Okezone, Jumat (25/9/2020).

Dengan adanya kebijakan PSBB tahap kedua ini, akan menjadi tantangan  berikutnya. Karena diperkirakan akan pendapatan toko dari penjualan akan  kembali mengalami penurunan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BI Prediksi Harga Properti Kuartal III Bakal Anjlok Jadi 1,19%
&quot;Dengan adanya rem darurat dari Pemprov DKI Jakarta, ini bukan  kondisi yang ideal bagi industri properti, karena akan terjadi penurunan  penjualan dan pendapatan,&quot; jelasnya.

Sebenarnya lanjut Ferry, pada masa transisi beberapa waktu lalu,  jumlah pengunjung pusat perbelanjaan memang mulai perlahan naik.  Meskipun hal tersebut masih belum bisa menutupi kerugian yang diterima  para pelaku usaha pada masa PSBB tahap pertama.&quot;Ritel merupakan salah satu sektor yang juga cukup terpengaruh sejak  awal selama masa transisi, lalu lintas banyak sekali, meski tidak  cukup,&quot; kata Ferry.

Menurut Ferry, dengan adanya kembali kebijakan PSBB akan semakin  membuat sektor ritel ini pulih dengan cepat. Sebab menurutnya, agar  suatu pusat perbelanjaan memiliki kinerja yang baik, maka okupansi  pengunjungnya harus tinggi agar bisa terjadi proses transaksi.

&quot;Kini dengan PSBB fase kedua, ritel akan kesulitan. Dengan adanya  sejumlah ketentuan yang berlaku untuk pusat perbelanjaan atau retail,  dapat mempersulit kinerja sektor ini pulih dengan cepat,&quot; kata Ferry.</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi virus corona membuat sektor properti terkena  dampaknya. Apalagi dengan diberlakukannya kembali kebijakan Pembatasan  Sosial Berskala Besar (PSBB).

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry  Salanto mengatakan sejak PSBB fase pertama, sudah ada perlambatan dan  penurunan trafik pengunjung di pusat perbelanjaan. Hal ini juga  berdampak pada penurunan penjualan pada sebagian besar toko.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Industri Properti Lesu, Banyak Masyarakat Tunda Beli Rumah
&quot;Sejak PSBB fase pertama, kami telah melihat perlambatan atau  penurunan trafik dari pengunjung pusat perbelanjaan yang berujung pada  penurunan penjualan yang mempengaruhi sebagian besar toko,&quot; ujarnya  kepada Okezone, Jumat (25/9/2020).

Dengan adanya kebijakan PSBB tahap kedua ini, akan menjadi tantangan  berikutnya. Karena diperkirakan akan pendapatan toko dari penjualan akan  kembali mengalami penurunan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: BI Prediksi Harga Properti Kuartal III Bakal Anjlok Jadi 1,19%
&quot;Dengan adanya rem darurat dari Pemprov DKI Jakarta, ini bukan  kondisi yang ideal bagi industri properti, karena akan terjadi penurunan  penjualan dan pendapatan,&quot; jelasnya.

Sebenarnya lanjut Ferry, pada masa transisi beberapa waktu lalu,  jumlah pengunjung pusat perbelanjaan memang mulai perlahan naik.  Meskipun hal tersebut masih belum bisa menutupi kerugian yang diterima  para pelaku usaha pada masa PSBB tahap pertama.&quot;Ritel merupakan salah satu sektor yang juga cukup terpengaruh sejak  awal selama masa transisi, lalu lintas banyak sekali, meski tidak  cukup,&quot; kata Ferry.

Menurut Ferry, dengan adanya kembali kebijakan PSBB akan semakin  membuat sektor ritel ini pulih dengan cepat. Sebab menurutnya, agar  suatu pusat perbelanjaan memiliki kinerja yang baik, maka okupansi  pengunjungnya harus tinggi agar bisa terjadi proses transaksi.

&quot;Kini dengan PSBB fase kedua, ritel akan kesulitan. Dengan adanya  sejumlah ketentuan yang berlaku untuk pusat perbelanjaan atau retail,  dapat mempersulit kinerja sektor ini pulih dengan cepat,&quot; kata Ferry.</content:encoded></item></channel></rss>
