<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>7 Fakta soal Resesi, Pengertian dan Dampak Mengerikannya</title><description>Perekonomian Indonesia hampir dipastikan bakal masuk ke jurang resesi pada kuartal III-2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/27/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/27/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya"/><item><title>7 Fakta soal Resesi, Pengertian dan Dampak Mengerikannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/27/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/27/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya</guid><pubDate>Minggu 27 September 2020 09:16 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/25/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya-z9DVC7daI1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Resesi (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/25/320/2283755/7-fakta-soal-resesi-pengertian-dan-dampak-mengerikannya-z9DVC7daI1.jpg</image><title>Resesi (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Perekonomian Indonesia hampir dipastikan bakal masuk ke jurang resesi pada kuartal III-2020. Gejolak ekonomi tersebut pun menyebabkan beberapa dampak ekonomi hingga sosial.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa itu resesi. Begitu pula dengan dampaknya.

Terkait hal itu Okezone sudah merangkum beberapa fakta tentang dampak perekonomian Indonesia akan mengalami resesi, Jakarta, Minggu (27/9/2020).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Anak Buah Sri Mulyani: Dampak PSBB Jakarta ke Ekonomi Tak Besar
 
1. Pengertian Resesi
Resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.

Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jika Resesi, Hal-Hal Ini yang Akan Terjadi di Suatu Negara
Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.
 
&amp;nbsp;
 
2.       Terjadi PHK Massal

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja menyatakan dengan adanya resesi nanti maka akan berdampak buruk bagi keuangan perusahaan. Apabila sebuah perseroan tak mempunyai cadangan uang yang cukup maka akan mengeluarkan kebijakan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) para karyawannya.

&quot;Tentu saja dengan adanya resesi pasti terpengaruh juga terhadap aktivitas ekonomi ini. Jadi dengan kata lain kalau pelaku usaha yang tida bisa bertahan, pasti akan adanya penambahan dari segi penggangguran, yang dirumahkan, itu mesti diantisipasi,&quot; kata Shinta saat dihubungi.

 
3.       Penciptaan Lapangan Kerja Sulit

VP Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, ada beberapa hal yang akan terjadi jika suatu negara mengalami resesi ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi negatif dan sulitnya penciptaan lapangan pekerjaan.

&quot;Penciptaan lapangan pekerjaan makin sulit sehingga terindikasi adanya peningkatan dari rasio tingkat pengangguran,&amp;rdquo; ujar Josua dalam acara Market Review IDX Channel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4.       Tingkat Pendapatan Masyarakat Turun
 
&amp;nbsp;
Pengangguran membuat masyarakat kehilangan penghasilannya. Akibatnya,  secara globat tingkat pendapatan masyarakat per kapita mengalami  penurunan.

&amp;ldquo;Dengan adanya peningkatan pengangguran maka ada dampak pada penurunan pendapatan masyarakat secara per kapita,&quot; kata Josua.

 
5.        Daya Beli Menurun

Josua menambahkan, dengan adanya penurunan pendapatan tersebut juga  menyebabkan daya beli masyarakat yang cenderung akan turun dan tentunya  ini akan berimbas juga pada sektor lainnya.

 
6.       Rasio Utang Negara Meningkat

Dari sisi pemerintah, jika suatu negara terkena resesi maka  penerimaan pajak juga akan terhambat seiring dengan adanya penurunan  aktivitas ekonomi.

&quot;Sehingga konsekuensinya adalah defisit fiskalnya melebar dan disaat  bersamaan rasio utang atau utang cenderung akan meningkat,&quot; ucapnya.

 
7.       Permintaan Kredit Melambat

Josua menyebut bahwa kondisi perbankan masih tetap kuat, hal ini  ditunjukkan dengan kondisi permodalan yang trennya meningkat dan dari  sisi likuiditas juga sangat lebih dari cukup.

&quot;Itu juga ditopang oleh kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang  merelaksasi atau pun melakukan ekspansi di operasi moneter. Tapi memang  di saat bersamaan yang kita lihat adalah karena tadi aktivitas ekonomi  belum cukup bergerak dengan normal tentu permintaan kredit cenderung  melambat dan kita lihat fungsi intermediasi perbankan juga akhirnya  tidak cukup optimal,&quot; tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Perekonomian Indonesia hampir dipastikan bakal masuk ke jurang resesi pada kuartal III-2020. Gejolak ekonomi tersebut pun menyebabkan beberapa dampak ekonomi hingga sosial.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui apa itu resesi. Begitu pula dengan dampaknya.

Terkait hal itu Okezone sudah merangkum beberapa fakta tentang dampak perekonomian Indonesia akan mengalami resesi, Jakarta, Minggu (27/9/2020).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Anak Buah Sri Mulyani: Dampak PSBB Jakarta ke Ekonomi Tak Besar
 
1. Pengertian Resesi
Resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.

Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Jika Resesi, Hal-Hal Ini yang Akan Terjadi di Suatu Negara
Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.
 
&amp;nbsp;
 
2.       Terjadi PHK Massal

Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja menyatakan dengan adanya resesi nanti maka akan berdampak buruk bagi keuangan perusahaan. Apabila sebuah perseroan tak mempunyai cadangan uang yang cukup maka akan mengeluarkan kebijakan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) para karyawannya.

&quot;Tentu saja dengan adanya resesi pasti terpengaruh juga terhadap aktivitas ekonomi ini. Jadi dengan kata lain kalau pelaku usaha yang tida bisa bertahan, pasti akan adanya penambahan dari segi penggangguran, yang dirumahkan, itu mesti diantisipasi,&quot; kata Shinta saat dihubungi.

 
3.       Penciptaan Lapangan Kerja Sulit

VP Economist Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, ada beberapa hal yang akan terjadi jika suatu negara mengalami resesi ekonomi, seperti pertumbuhan ekonomi negatif dan sulitnya penciptaan lapangan pekerjaan.

&quot;Penciptaan lapangan pekerjaan makin sulit sehingga terindikasi adanya peningkatan dari rasio tingkat pengangguran,&amp;rdquo; ujar Josua dalam acara Market Review IDX Channel.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4.       Tingkat Pendapatan Masyarakat Turun
 
&amp;nbsp;
Pengangguran membuat masyarakat kehilangan penghasilannya. Akibatnya,  secara globat tingkat pendapatan masyarakat per kapita mengalami  penurunan.

&amp;ldquo;Dengan adanya peningkatan pengangguran maka ada dampak pada penurunan pendapatan masyarakat secara per kapita,&quot; kata Josua.

 
5.        Daya Beli Menurun

Josua menambahkan, dengan adanya penurunan pendapatan tersebut juga  menyebabkan daya beli masyarakat yang cenderung akan turun dan tentunya  ini akan berimbas juga pada sektor lainnya.

 
6.       Rasio Utang Negara Meningkat

Dari sisi pemerintah, jika suatu negara terkena resesi maka  penerimaan pajak juga akan terhambat seiring dengan adanya penurunan  aktivitas ekonomi.

&quot;Sehingga konsekuensinya adalah defisit fiskalnya melebar dan disaat  bersamaan rasio utang atau utang cenderung akan meningkat,&quot; ucapnya.

 
7.       Permintaan Kredit Melambat

Josua menyebut bahwa kondisi perbankan masih tetap kuat, hal ini  ditunjukkan dengan kondisi permodalan yang trennya meningkat dan dari  sisi likuiditas juga sangat lebih dari cukup.

&quot;Itu juga ditopang oleh kebijakan-kebijakan Bank Indonesia yang  merelaksasi atau pun melakukan ekspansi di operasi moneter. Tapi memang  di saat bersamaan yang kita lihat adalah karena tadi aktivitas ekonomi  belum cukup bergerak dengan normal tentu permintaan kredit cenderung  melambat dan kita lihat fungsi intermediasi perbankan juga akhirnya  tidak cukup optimal,&quot; tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
