<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tak Disangka, Cabai Jawa Punya Nilai Ekonomi Tinggi</title><description>Cabai Jawa (piper retrofractum vahl) merupakan salah satu jenis rempah  asli Indonesia yang masih tidak diketahui oleh banyak masyarakat.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi"/><item><title>Tak Disangka, Cabai Jawa Punya Nilai Ekonomi Tinggi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi</guid><pubDate>Senin 28 September 2020 22:15 WIB</pubDate><dc:creator>Enrico Ngantung</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi-BSgsP67FL9.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Cabai Jawa (Foto: Enrico/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/28/455/2285112/tak-disangka-cabai-jawa-punya-nilai-ekonomi-tinggi-BSgsP67FL9.jpg</image><title>Cabai Jawa (Foto: Enrico/Okezone)</title></images><description>PEKON HENI ARONG - Cabai Jawa (piper retrofractum vahl) merupakan salah satu jenis rempah asli Indonesia yang masih tidak diketahui oleh banyak masyarakat. Padahal, tanaman tersebut memiliki banyak khasiat yang baik untuk tubuh.
Tanaman rempah yang masih berkerabat dengan lada dan kemukus, termasuk dalam suku sirih-sirihan atau piperacea ini kerap dijadikan tanaman tumpang sari yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat Pekon Heni Arong.
Baca Juga: Suasana Berbeda, Milenial Bisa Nikmati Konsep Vintage di Kafe Ini
 
Selain itu, cabai jawa juga memiliki nama lain, yakni cabya atau cabai jamu atau cabe jawa atau juga cabai saja. Buah cabai jawa kering memiliki berbagai macam manfaat untuk tubuh, oleh karena itu, cabai jamu banyak dibutuhkan sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dan obal pil ataupun kapsul modern serta bahan campuran minuman.
Tanaman cabai jamu dapat tumbuh di lahan ketinggian 0 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan curah hujan rata-rata 1.259 hingga 2.500 milimeter per tahun. Karena itu, cabai jenis ini tumbuh subur di Pekon yang berada di kaki Gunung Seminung.
Baca Juga:&amp;nbsp; Sukses Jualan di Era Covid-19, Medsos Jadi Ladang Cuan
 
Biasa hidup sebagai tanaman perambat, masyarakat sekitar pun sudah biasa menggunakan pohon hujan atau pohon kapuk yang tinggi sebagai lanjarannya. Sedangkan untuk rasa pedas yang dimiliki cabai jawa berasal dari senyawa piperin, dengan kandungan sekitar 4,6%.
Diketahui, perawatannya pun tidak serumit seperti menanam cabai pada umumnya. Pemupukan dilakukan pada saat tanaman cabai jamu berusia 3 bulan dari masa tanam. Sedangkan untuk perawatannya sendiri meliputi penyiraman, penyiangan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Untuk masa produktifnya, di mulai dari umur 2 tahun, semakin tua usia  cabai jamu maka semakin banyak pula buah yang dihasilkan. Untuk tanaman  dewasa, hasil produksi mencapai 4 hingga 5 kilogram per tanaman atau  setara 1,5 kilogram buah kering.
Cara pemanennya dapat dilakukan dengan memetik buah satu persatu,  untuk menjangkau buah yang di atas atau tidak terjangkau tangan, salah  satu petani cabai jawa yakni Wildun Janhari biasa menggunakan anak  tangga agar tidak merusak tanaman.
Produk perdagangan cabai jawa adalah untai yang dikeringkan. Setelah  dipanen, untai dijemur selama 4 hari di bawah sinar matahari. Harga jual  pun terbilang cukup tinggi, hal tersebut menjadikan cabai jawa sebagai  tanaman tumpang sari paling menghasilkan di Pekon Heni Arong.</description><content:encoded>PEKON HENI ARONG - Cabai Jawa (piper retrofractum vahl) merupakan salah satu jenis rempah asli Indonesia yang masih tidak diketahui oleh banyak masyarakat. Padahal, tanaman tersebut memiliki banyak khasiat yang baik untuk tubuh.
Tanaman rempah yang masih berkerabat dengan lada dan kemukus, termasuk dalam suku sirih-sirihan atau piperacea ini kerap dijadikan tanaman tumpang sari yang memiliki nilai ekonomis tinggi bagi masyarakat Pekon Heni Arong.
Baca Juga: Suasana Berbeda, Milenial Bisa Nikmati Konsep Vintage di Kafe Ini
 
Selain itu, cabai jawa juga memiliki nama lain, yakni cabya atau cabai jamu atau cabe jawa atau juga cabai saja. Buah cabai jawa kering memiliki berbagai macam manfaat untuk tubuh, oleh karena itu, cabai jamu banyak dibutuhkan sebagai bahan pembuatan jamu tradisional dan obal pil ataupun kapsul modern serta bahan campuran minuman.
Tanaman cabai jamu dapat tumbuh di lahan ketinggian 0 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan curah hujan rata-rata 1.259 hingga 2.500 milimeter per tahun. Karena itu, cabai jenis ini tumbuh subur di Pekon yang berada di kaki Gunung Seminung.
Baca Juga:&amp;nbsp; Sukses Jualan di Era Covid-19, Medsos Jadi Ladang Cuan
 
Biasa hidup sebagai tanaman perambat, masyarakat sekitar pun sudah biasa menggunakan pohon hujan atau pohon kapuk yang tinggi sebagai lanjarannya. Sedangkan untuk rasa pedas yang dimiliki cabai jawa berasal dari senyawa piperin, dengan kandungan sekitar 4,6%.
Diketahui, perawatannya pun tidak serumit seperti menanam cabai pada umumnya. Pemupukan dilakukan pada saat tanaman cabai jamu berusia 3 bulan dari masa tanam. Sedangkan untuk perawatannya sendiri meliputi penyiraman, penyiangan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQzMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Untuk masa produktifnya, di mulai dari umur 2 tahun, semakin tua usia  cabai jamu maka semakin banyak pula buah yang dihasilkan. Untuk tanaman  dewasa, hasil produksi mencapai 4 hingga 5 kilogram per tanaman atau  setara 1,5 kilogram buah kering.
Cara pemanennya dapat dilakukan dengan memetik buah satu persatu,  untuk menjangkau buah yang di atas atau tidak terjangkau tangan, salah  satu petani cabai jawa yakni Wildun Janhari biasa menggunakan anak  tangga agar tidak merusak tanaman.
Produk perdagangan cabai jawa adalah untai yang dikeringkan. Setelah  dipanen, untai dijemur selama 4 hari di bawah sinar matahari. Harga jual  pun terbilang cukup tinggi, hal tersebut menjadikan cabai jawa sebagai  tanaman tumpang sari paling menghasilkan di Pekon Heni Arong.</content:encoded></item></channel></rss>
