<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketidakpastiaan akibat Covid-19, Yuk Mulai Atur Pengeluaran</title><description>Pandemi virus corona telah banyak memakan korban baik secara kesehatan maupun secara keuangan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran"/><item><title>Ketidakpastiaan akibat Covid-19, Yuk Mulai Atur Pengeluaran</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran</guid><pubDate>Senin 28 September 2020 13:54 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran-Ue74Y5FWAJ.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/28/622/2284882/ketidakpastiaan-akibat-covid-19-yuk-mulai-atur-pengeluaran-Ue74Y5FWAJ.jpeg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Pandemi virus corona telah banyak memakan korban baik secara kesehatan maupun secara keuangan. Karena selain banyak yang tertular virus corona (covid-19), juga banyak masyarakat yang terkena imbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau pemotongan gaji.
Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan keuangan yang baik dari para pekerja. Sehingga, jika sewaktu-waktu situasi buruk terjadi kepada pekerjaan, sudah memiliki modal untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Cara Mengelola Keuangan Jelang Resesi, Cek di Sini
 
Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan dalam mengelola keuangan, pendapatan harus dibagi ke dalam empat pos. Pertama adalah sisihkan untuk cicilan utang, lalu gang kedua adalah tabungan, kemudian asuransi dan terakhir adalah biaya hidup.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Pengeluaran seseorang itu menjadi empat ya, jadi yang pertama adalah cicilan utang itu prioritas pertama, kedua adalah tabungan dan investasi, ketiga adalah premi asuransi dan keempat adalah biaya hidup,&amp;rdquo; ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (28/9/2020).
Baca Juga: Ingat Ya, Cicilan Tak Boleh Lebih dari 30% Gaji
 
Mengenai besarannya lanjut Safir, dirinya sebenarnya tidak terlalu mematok angka pasti yang artinya bisa lebih fleksibel. Alasannya adalah, kebutuhan masing-masing orang berbeda begitupun dengan pendapatannya.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Nah sekarang pertanyaannya bagaimana cara membaginya? Cara membaginya adalah sebenarnya tidak ada satupun ukuran yang benar karena kalau setiap orang bisa beda-beda,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Akan tetapi, jika harus digambarkan, pos cicilan seharusnya hanya 30% saja dari penghasilan. Lalu untuk pos biaya hidup adalah yang paling besar yakni 50%.
&amp;ldquo;Jadi kalau berapa banyak yang dibutuhkan. Paling maksimal 50% untuk biaya hidup,&amp;rdquo; ucapnya.Namun menurut Safir, untuk pos kebutuhan hidup ini bisa lebih  fleksibel. Karena ada beberapa orang yang justru memiliki cicilan yang  tujuannya juga untuk biaya hidup.&amp;nbsp;
Oleh karena itu, dirinya mematok pos kebutuhan hidup maksimal  adalah 80%. Dengan catatan jika cicilan yang dimiliki digunakan untuk  kebutuhan hidup seperti belanja dengan menggunakan kartu kredit.
&quot;Tapi jangan lupa, ada 30% cicilan utang kan? Nah banyak orang yang  ngutangnya untuk biaya hidup juga. contoh misalnya dia pakai kartu  kredit untuk pergi ke supermarket gitu ya. Supermarket dia belanja pakai  kartu kredit,&quot; jelasnya
Kemudian untuk investasi, alokasi anggarannya adalah sebesar 10% dari  penghasilan. Kemudian untuk asuransi ada baiknya menyiapkan 10% dari  penghasilan setiap bulan.
&quot;Tabungan dan investasi minimal 10%, lebih boleh. Tapi jangan kurang, ada orang yang bisa menabung 30%,&quot; jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pandemi virus corona telah banyak memakan korban baik secara kesehatan maupun secara keuangan. Karena selain banyak yang tertular virus corona (covid-19), juga banyak masyarakat yang terkena imbas Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau pemotongan gaji.
Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan keuangan yang baik dari para pekerja. Sehingga, jika sewaktu-waktu situasi buruk terjadi kepada pekerjaan, sudah memiliki modal untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Cara Mengelola Keuangan Jelang Resesi, Cek di Sini
 
Perencana Keuangan Safir Senduk mengatakan dalam mengelola keuangan, pendapatan harus dibagi ke dalam empat pos. Pertama adalah sisihkan untuk cicilan utang, lalu gang kedua adalah tabungan, kemudian asuransi dan terakhir adalah biaya hidup.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Pengeluaran seseorang itu menjadi empat ya, jadi yang pertama adalah cicilan utang itu prioritas pertama, kedua adalah tabungan dan investasi, ketiga adalah premi asuransi dan keempat adalah biaya hidup,&amp;rdquo; ujarnya saat dihubungi Okezone, Senin (28/9/2020).
Baca Juga: Ingat Ya, Cicilan Tak Boleh Lebih dari 30% Gaji
 
Mengenai besarannya lanjut Safir, dirinya sebenarnya tidak terlalu mematok angka pasti yang artinya bisa lebih fleksibel. Alasannya adalah, kebutuhan masing-masing orang berbeda begitupun dengan pendapatannya.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Nah sekarang pertanyaannya bagaimana cara membaginya? Cara membaginya adalah sebenarnya tidak ada satupun ukuran yang benar karena kalau setiap orang bisa beda-beda,&amp;rdquo; ucapnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Akan tetapi, jika harus digambarkan, pos cicilan seharusnya hanya 30% saja dari penghasilan. Lalu untuk pos biaya hidup adalah yang paling besar yakni 50%.
&amp;ldquo;Jadi kalau berapa banyak yang dibutuhkan. Paling maksimal 50% untuk biaya hidup,&amp;rdquo; ucapnya.Namun menurut Safir, untuk pos kebutuhan hidup ini bisa lebih  fleksibel. Karena ada beberapa orang yang justru memiliki cicilan yang  tujuannya juga untuk biaya hidup.&amp;nbsp;
Oleh karena itu, dirinya mematok pos kebutuhan hidup maksimal  adalah 80%. Dengan catatan jika cicilan yang dimiliki digunakan untuk  kebutuhan hidup seperti belanja dengan menggunakan kartu kredit.
&quot;Tapi jangan lupa, ada 30% cicilan utang kan? Nah banyak orang yang  ngutangnya untuk biaya hidup juga. contoh misalnya dia pakai kartu  kredit untuk pergi ke supermarket gitu ya. Supermarket dia belanja pakai  kartu kredit,&quot; jelasnya
Kemudian untuk investasi, alokasi anggarannya adalah sebesar 10% dari  penghasilan. Kemudian untuk asuransi ada baiknya menyiapkan 10% dari  penghasilan setiap bulan.
&quot;Tabungan dan investasi minimal 10%, lebih boleh. Tapi jangan kurang, ada orang yang bisa menabung 30%,&quot; jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
