<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Minus 2%, Ini Tanggapan Kemenkeu</title><description>Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan berada pada kisaran -2,0 s.d. -1,6% (year on year).</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu"/><item><title>Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Minus 2%, Ini Tanggapan Kemenkeu</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu</guid><pubDate>Selasa 29 September 2020 15:05 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu-m7i9zs5LpR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik ekonomi (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/09/29/320/2285560/bank-dunia-prediksi-ekonomi-ri-minus-2-ini-tanggapan-kemenkeu-m7i9zs5LpR.jpg</image><title>Grafik ekonomi (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Bank Dunia mempublikasikan East Asia and Pacific Economic Update, October 2020 yang bertema &amp;ldquo;From Containment to Recovery&amp;rdquo; yang menggambarkan kondisi perekonomian terkini negara-negara di kawasan Asia bagian Timur dan Pasifik, termasuk outlook kinerja ekonomi Indonesia. Dalam publikasi tersebut,

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan berada pada kisaran -2,0 s.d. -1,6% (year on year) yang merupakan pertumbuhan negatif pertama kali dalam dua dekade terakhir. Publikasi ini sekaligus merevisi perkiraan Bank Dunia sebelumnya (pada Bulan Juni 2020) sebesar 0,0%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bank Dunia Sebut Pemulihan Ekonomi Indonesia Tak Stabil, Apa Alasannya?
&amp;ldquo;Secara umum, outlook Bank Dunia ini masih sejalan dengan asesmen Pemerintah terkini yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam rentang -1,7% dan -0,6%&amp;rdquo;, ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu di Jakarta, Selasa (29/9/2020.

Di samping World Bank, beberapa institusi internasional lainnya juga telah menyampaikan outlook perekonomian Indonesia 2020 terkini, yakni Bank Pembangunan Asia (ADB) dengan perkirakan sebesar -1,0% , dan OECD sebesar -3,3% .
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pandemi Covid-19 Bikin Utang Meroket hingga Munculnya Orang Miskin Baru
&quot;Bank Dunia menilai berbagai faktor akibat eskalasi pandemi Covid-19. Pemerintah memandang hal ini sebagai catatan dan masukan penting dalam upaya mendorong efektivitas implementasi dan evaluasi program pemulihan ekonomi nasional baik dalam penanganan pandemi maupun implementasi program-program dukungan pemerintah terhadap masyarakat dan dunia usaha,&quot; bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Vice President for East Asia and the Pacific at the World Bank Victoria Kwakwa mengatakan perlu adanya tindakan cepat untuk memastikan pandemi Covid-19 tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya tingkat kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

&amp;ldquo;Covid-19 tidak hanya menyerang orang miskin, tetapi juga menciptakan orang miskin baru. Kawasan ini dihadapkan pada serangkaian tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi pilihan yang sulit,&amp;rdquo; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Bank Dunia mempublikasikan East Asia and Pacific Economic Update, October 2020 yang bertema &amp;ldquo;From Containment to Recovery&amp;rdquo; yang menggambarkan kondisi perekonomian terkini negara-negara di kawasan Asia bagian Timur dan Pasifik, termasuk outlook kinerja ekonomi Indonesia. Dalam publikasi tersebut,

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 akan berada pada kisaran -2,0 s.d. -1,6% (year on year) yang merupakan pertumbuhan negatif pertama kali dalam dua dekade terakhir. Publikasi ini sekaligus merevisi perkiraan Bank Dunia sebelumnya (pada Bulan Juni 2020) sebesar 0,0%.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Bank Dunia Sebut Pemulihan Ekonomi Indonesia Tak Stabil, Apa Alasannya?
&amp;ldquo;Secara umum, outlook Bank Dunia ini masih sejalan dengan asesmen Pemerintah terkini yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada dalam rentang -1,7% dan -0,6%&amp;rdquo;, ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu di Jakarta, Selasa (29/9/2020.

Di samping World Bank, beberapa institusi internasional lainnya juga telah menyampaikan outlook perekonomian Indonesia 2020 terkini, yakni Bank Pembangunan Asia (ADB) dengan perkirakan sebesar -1,0% , dan OECD sebesar -3,3% .
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pandemi Covid-19 Bikin Utang Meroket hingga Munculnya Orang Miskin Baru
&quot;Bank Dunia menilai berbagai faktor akibat eskalasi pandemi Covid-19. Pemerintah memandang hal ini sebagai catatan dan masukan penting dalam upaya mendorong efektivitas implementasi dan evaluasi program pemulihan ekonomi nasional baik dalam penanganan pandemi maupun implementasi program-program dukungan pemerintah terhadap masyarakat dan dunia usaha,&quot; bebernya.

Dalam kesempatan yang sama, Vice President for East Asia and the Pacific at the World Bank Victoria Kwakwa mengatakan perlu adanya tindakan cepat untuk memastikan pandemi Covid-19 tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dan melonjaknya tingkat kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

&amp;ldquo;Covid-19 tidak hanya menyerang orang miskin, tetapi juga menciptakan orang miskin baru. Kawasan ini dihadapkan pada serangkaian tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi pilihan yang sulit,&amp;rdquo; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
