<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Puluhan Tahun Jadi Rumah Kelelawar, Omah Lowo Disulap Incredible</title><description>Hewan ini selalu kembali ke rumah yang dibangun dengan gaya arsitektur art deco dan art nouveau atau bergaya Eropa.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible"/><item><title>Puluhan Tahun Jadi Rumah Kelelawar, Omah Lowo Disulap Incredible</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible</guid><pubDate>Kamis 01 Oktober 2020 10:53 WIB</pubDate><dc:creator>Bramantyo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible-0SSLXaaetu.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Omah Lowo (Foto: Bram/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/01/470/2286601/puluhan-tahun-jadi-rumah-kelelawar-omah-lowo-disulap-incredible-0SSLXaaetu.jpg</image><title>Omah Lowo (Foto: Bram/Okezone)</title></images><description>SOLO - Puluhan tahun sebuah bangunan kuno yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan No 1 Purwosari, Solo ini tak bisa dipisahkan dari hewan Kelelawar atau dalam bahasa Jawa biasa disebut Lowo.
Di sinilah hewan pengerat yang biasa beroperasi malam hari tinggal. Bahkan jumlahnya cukup banyak. Hampir setiap menjelang malam dan menjelang subuh, hewan ini selalu kembali ke rumah yang dibangun dengan gaya arsitektur art deco dan art nouveau atau bergaya Eropa. Tak heran, bila akhirnya bangunan itu dikenal oleh masyarakat Solo sebagai Omah (Rumah) lowo.
Baca Juga: Viral Rumah Purnama, Keren Ada Rooftop-nya
Tapi keberadaan kelelawar atau Lowo di rumah itu kini tinggal kenangan. Pasalnya, kini bangunan kuno yang masuk ke dalam Cagar Budaya itu pun sudah disulap menjadi bangunan direnovasi total oleh pemiliknya. Kesan gelap,kumuh,angker dan bau kelelawar tak ada lagi.
Yang ada kini cahaya lampu terang benderang menghiasi seluruh bangunan tersebut. Ya, hampir 2,5 tahun, pemilik omah lowo, yang kebetulan juga pemilik dari sebuah pabrik batik ternama di Kota Solo telah merehab habis-habisan omah tersebut. Seluruh bangunan yang terbagi dalam tiga bangunan dan diberi label, Gedung A,B,dan C, akan difungsikan sebagai gerai sebuah batik hingga kafe.

Lantas siapa pemilik pertama omah lowo ini?
Lina Tjokrosaputro pemilik rumah Lowo saat ini menceritakan pemilik Omah Lowo ini adalah Sie Djian Ho sekira era 1920-an. Sie Djian Ho merupakan leluhur dari mendiang Suaminya. Sie Djian Ho adalah seorang saudagar yang cukup terpandang di masa itu. Dahulunya Omah Lowo ini difungsikan sebagai tempat tinggal Sie Djian Ho.
&quot;Namun karena banyak faktor,kepemilikan Omah Lowo baru kembali ke keluarga sang suami pada 2016 lalu,&quot;Jelas Lina,Rabu (30/9/2020).
Baca juga: Ingin Rumah Terlihat Luas? Coba Gunakan Rak Gantung
Menurut Lina,Omah Lowo ini terdiri dari tiga bangunan, yakni A (bang&amp;shy;unan utama), B (tengah), C (belakang). Sie Djian Ho ini tinggal di bangunan A dan B. Lina bersyukur, sebelum akhirnya rumah yang pernah ditempati leluhurnya ini, tepat di belakang gedung A dan B, keluarga pengusaha batik ini membeli gedung C terlebih.

Dan akhirnya rumah yang sempat dipakai sebagai gedung kantor veteran ini ditawarkan pada mendiang suaminya. Karena ada nilai historis bagi keluarganya, maka mendiang suaminya membeli kembali rumah tersebut. Dan pada tahun 2014, rumah itu pun didaftarkan sebagai benda cagar budaya dengan kepemilikan Batik Keris.
&amp;ldquo;Waktu suami saya masih sehat, rumah ini memang ditawarkan. Dan karena ada nilai histori dengan suami saya, maka suami saya membelinya kembali. Karena, Opa dan omanya tinggal di sini. Tepat pada Mei 2016 rumah ini kembali ke keluarga suami,&amp;rdquo; imbuhnya.Setelah omah lowo ini kembali pada keluarganya, Suaminya, ungkap  Lina, bercita-cita ingin merenovasi bangunan ini menjadi sebuah rumah  Heritage. Dan kemudian difungsikan sebagai galeri batik dan pusat  kerajinan.
Diakui oleh Lina,untuk merenovasi rumah ini tak semudah dibayangkan.  Dirinya harus menunggu kelelawar itu pergi. Di mana, setiap tahunnya,  kelelawar ini pergi di Bulan Juni dan Juli. Dan pada bulan Juli 2017, di  saat para Kelelawar ini pergi meninggalkan omah lowo, dirinya langsung  memasang jaring raksasa yang menutup semua bangunan rumah.
Fungsi dari jaring raksasa itu, untuk mencegah para kelelawar ini  kembali lagi ke dalam rumah yang saat itu tengah melakukan renovasi. Tak  hanya berjuang untuk menghalau kembalinya kelelawar ke dalam rumah.  Perjuangan berat saat merenovasi bangunan ini, selain kerusakan parah  dinding di gedung B, yaitu membersihkan kotoran pada lantai.

&amp;ldquo;Lantainya kotor sekali dengan kotoran kelelawar. Seluruh lantai di  bangunan ini tertutup oleh kotoran kelelawar. Lantainya kami poles  sampai enam kali saking kotornya. Saat polesan ketiga, kami belum ketemu  lantainya, baru polesan keenam terlihat ubinnya (Lantai), ternyata  motifnya bagus sekali. Terus selain kotoran kelelawar, Atap jebol, ya  sudah kami buka sekalian,&amp;rdquo;papar Lina mengutarakan kesulitan saat  merenovasi bangunan ini.
Karena masuk ke dalam Benda Cagar Budaya, dirinya menggandeng banyak  pihak. Mulai dari arsitek hingga sejarawan semuanya digandeng. Tujuannya  agar tidak ada satupun benda cagar budaya yang tak sengaja terusak.  Setelah hampir 2,5 tahun direnovasi, akhirnya, Omah Lowo yang disebut  Lina sebagai benang merah perjalanan Batik yang didirikan bersama  mendiang suaminya itu pun selesai.Rencananya bangunan utama (A) yang terletak paling depan untuk galeri   koleksi Batik kelas premium. Pada bangunan ini setiap ruangnya diberi   nama, misalnya teras Agung (teras depan), ruang Liberty (ruang tengah),   ruang Sekar Jagad (tempat koleksi busana perempuan), dan ruang mulia   (tempat koleksi busana lelaki).
Pada halaman depan terlihat asri dengan rumput hijau dan dipercantik   dengan bunga jengger ayam warna merah tua dan bunga marigold warna   kuning. Kesan mewah pada bangunan ini terlihat dengan keberadaan air   mancur bentuk teratai. Sedangkan pintu masuk pada bagian depan utama   Omah Lowo ini dibiarkan sesuai aslinya.
Bila pada bangunan A untuk koleksi batik kelas Premium, di gedung   bangunan B yang terletak di bagian tengah, difungsikan untuk gerai   koleksi fesyen hingga produk-produk kerajinan usaha mikro, kecil, dan   menengah (UMKM). Aneka produk di Pusat Kerajinan Nusantara yang   ditampilkan adalah dari UMKM yang menjadi mitra Batik Keris.
Dan gedung C yang merupakan gedung terakhir, akan difungsikan kafe.   Dan Cafe itu pun bernama Keris Cafe and Kitchen. Dimana Cafe ini sengaja   mengusung konsep cozy nan Instagramable dan menyuguhkan pilihan menu   asli Solo hingga kopi lokal Indonesia.</description><content:encoded>SOLO - Puluhan tahun sebuah bangunan kuno yang terletak di jalan Perintis Kemerdekaan No 1 Purwosari, Solo ini tak bisa dipisahkan dari hewan Kelelawar atau dalam bahasa Jawa biasa disebut Lowo.
Di sinilah hewan pengerat yang biasa beroperasi malam hari tinggal. Bahkan jumlahnya cukup banyak. Hampir setiap menjelang malam dan menjelang subuh, hewan ini selalu kembali ke rumah yang dibangun dengan gaya arsitektur art deco dan art nouveau atau bergaya Eropa. Tak heran, bila akhirnya bangunan itu dikenal oleh masyarakat Solo sebagai Omah (Rumah) lowo.
Baca Juga: Viral Rumah Purnama, Keren Ada Rooftop-nya
Tapi keberadaan kelelawar atau Lowo di rumah itu kini tinggal kenangan. Pasalnya, kini bangunan kuno yang masuk ke dalam Cagar Budaya itu pun sudah disulap menjadi bangunan direnovasi total oleh pemiliknya. Kesan gelap,kumuh,angker dan bau kelelawar tak ada lagi.
Yang ada kini cahaya lampu terang benderang menghiasi seluruh bangunan tersebut. Ya, hampir 2,5 tahun, pemilik omah lowo, yang kebetulan juga pemilik dari sebuah pabrik batik ternama di Kota Solo telah merehab habis-habisan omah tersebut. Seluruh bangunan yang terbagi dalam tiga bangunan dan diberi label, Gedung A,B,dan C, akan difungsikan sebagai gerai sebuah batik hingga kafe.

Lantas siapa pemilik pertama omah lowo ini?
Lina Tjokrosaputro pemilik rumah Lowo saat ini menceritakan pemilik Omah Lowo ini adalah Sie Djian Ho sekira era 1920-an. Sie Djian Ho merupakan leluhur dari mendiang Suaminya. Sie Djian Ho adalah seorang saudagar yang cukup terpandang di masa itu. Dahulunya Omah Lowo ini difungsikan sebagai tempat tinggal Sie Djian Ho.
&quot;Namun karena banyak faktor,kepemilikan Omah Lowo baru kembali ke keluarga sang suami pada 2016 lalu,&quot;Jelas Lina,Rabu (30/9/2020).
Baca juga: Ingin Rumah Terlihat Luas? Coba Gunakan Rak Gantung
Menurut Lina,Omah Lowo ini terdiri dari tiga bangunan, yakni A (bang&amp;shy;unan utama), B (tengah), C (belakang). Sie Djian Ho ini tinggal di bangunan A dan B. Lina bersyukur, sebelum akhirnya rumah yang pernah ditempati leluhurnya ini, tepat di belakang gedung A dan B, keluarga pengusaha batik ini membeli gedung C terlebih.

Dan akhirnya rumah yang sempat dipakai sebagai gedung kantor veteran ini ditawarkan pada mendiang suaminya. Karena ada nilai historis bagi keluarganya, maka mendiang suaminya membeli kembali rumah tersebut. Dan pada tahun 2014, rumah itu pun didaftarkan sebagai benda cagar budaya dengan kepemilikan Batik Keris.
&amp;ldquo;Waktu suami saya masih sehat, rumah ini memang ditawarkan. Dan karena ada nilai histori dengan suami saya, maka suami saya membelinya kembali. Karena, Opa dan omanya tinggal di sini. Tepat pada Mei 2016 rumah ini kembali ke keluarga suami,&amp;rdquo; imbuhnya.Setelah omah lowo ini kembali pada keluarganya, Suaminya, ungkap  Lina, bercita-cita ingin merenovasi bangunan ini menjadi sebuah rumah  Heritage. Dan kemudian difungsikan sebagai galeri batik dan pusat  kerajinan.
Diakui oleh Lina,untuk merenovasi rumah ini tak semudah dibayangkan.  Dirinya harus menunggu kelelawar itu pergi. Di mana, setiap tahunnya,  kelelawar ini pergi di Bulan Juni dan Juli. Dan pada bulan Juli 2017, di  saat para Kelelawar ini pergi meninggalkan omah lowo, dirinya langsung  memasang jaring raksasa yang menutup semua bangunan rumah.
Fungsi dari jaring raksasa itu, untuk mencegah para kelelawar ini  kembali lagi ke dalam rumah yang saat itu tengah melakukan renovasi. Tak  hanya berjuang untuk menghalau kembalinya kelelawar ke dalam rumah.  Perjuangan berat saat merenovasi bangunan ini, selain kerusakan parah  dinding di gedung B, yaitu membersihkan kotoran pada lantai.

&amp;ldquo;Lantainya kotor sekali dengan kotoran kelelawar. Seluruh lantai di  bangunan ini tertutup oleh kotoran kelelawar. Lantainya kami poles  sampai enam kali saking kotornya. Saat polesan ketiga, kami belum ketemu  lantainya, baru polesan keenam terlihat ubinnya (Lantai), ternyata  motifnya bagus sekali. Terus selain kotoran kelelawar, Atap jebol, ya  sudah kami buka sekalian,&amp;rdquo;papar Lina mengutarakan kesulitan saat  merenovasi bangunan ini.
Karena masuk ke dalam Benda Cagar Budaya, dirinya menggandeng banyak  pihak. Mulai dari arsitek hingga sejarawan semuanya digandeng. Tujuannya  agar tidak ada satupun benda cagar budaya yang tak sengaja terusak.  Setelah hampir 2,5 tahun direnovasi, akhirnya, Omah Lowo yang disebut  Lina sebagai benang merah perjalanan Batik yang didirikan bersama  mendiang suaminya itu pun selesai.Rencananya bangunan utama (A) yang terletak paling depan untuk galeri   koleksi Batik kelas premium. Pada bangunan ini setiap ruangnya diberi   nama, misalnya teras Agung (teras depan), ruang Liberty (ruang tengah),   ruang Sekar Jagad (tempat koleksi busana perempuan), dan ruang mulia   (tempat koleksi busana lelaki).
Pada halaman depan terlihat asri dengan rumput hijau dan dipercantik   dengan bunga jengger ayam warna merah tua dan bunga marigold warna   kuning. Kesan mewah pada bangunan ini terlihat dengan keberadaan air   mancur bentuk teratai. Sedangkan pintu masuk pada bagian depan utama   Omah Lowo ini dibiarkan sesuai aslinya.
Bila pada bangunan A untuk koleksi batik kelas Premium, di gedung   bangunan B yang terletak di bagian tengah, difungsikan untuk gerai   koleksi fesyen hingga produk-produk kerajinan usaha mikro, kecil, dan   menengah (UMKM). Aneka produk di Pusat Kerajinan Nusantara yang   ditampilkan adalah dari UMKM yang menjadi mitra Batik Keris.
Dan gedung C yang merupakan gedung terakhir, akan difungsikan kafe.   Dan Cafe itu pun bernama Keris Cafe and Kitchen. Dimana Cafe ini sengaja   mengusung konsep cozy nan Instagramable dan menyuguhkan pilihan menu   asli Solo hingga kopi lokal Indonesia.</content:encoded></item></channel></rss>
