<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ngeri, Dampak Covid-19 Lebih Ganas Dibanding Krisis 1998</title><description>Kementerian Keuangan lagi-lagi memberikan informasi jika krisis yang terjadi pada tahun ini berbeda dari sebelumnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998"/><item><title>Ngeri, Dampak Covid-19 Lebih Ganas Dibanding Krisis 1998</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998</guid><pubDate>Jum'at 02 Oktober 2020 17:34 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998-TOzNuY2jm0.jpeg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/02/320/2287489/ngeri-dampak-covid-19-lebih-ganas-dibanding-krisis-1998-TOzNuY2jm0.jpeg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kementerian Keuangan lagi-lagi memberikan informasi jika krisis yang terjadi pada tahun ini berbeda dari sebelumnya. Mengingat, krisis yang terjadi pada tahun ini akibat dari pandemi virus corona (covid-19).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, krisis akibat pandemi ini memang berbeda dari sebelumnya. Karena pemerintah tidak bisa berhitung kapan krisis tersebut akan berakhirnya.
Baca Juga: Buka-bukaan Pengusaha soal Resesi Ekonomi Lahirkan PHK Massal
 
&quot;Covid-19 ini dampaknya sangat beda. Karakteristik krisisnya beda. Kalau yang global dan Asian financial crisis kita bisa hitung dan perkirakan kapan berakhirnya,&quot; ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (2/10/2020).&amp;nbsp;
Febrio menambahkan, krisis akibat pandemi ini juga berbeda karena dampaknya terasa lebih dalam dari krisis keuangan. Bahkan, krisis akibat pandemi ini juga hampir merata terjadi di semua negara.
Baca Juga: RI Masih Bisa Selamat dari Resesi, Ini 3 Caranya
 
Sementara saat krisis keuangan tahun 1998 dan 2008, tidak semua negara terkena dampaknya. Bahkan negara-negara berkembang justru relatif lebih kecil dampaknya.&amp;nbsp;
&quot;Global financial crisis semua dunia negatifnya kecil tapi waktu itu negara majunya dalam. Negara berkembang termasuk Indonesia responsnya resilient. Tapi itu jadi pelajaran berharga,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Oleh karena itu, pemerintah terus mencoba dengan berbagai cara agar  ekonomi tidak jatuh terlalu dalam. Misalnya dengan memberikan beberapa  insentif dan bantuan sosial kepada masyarakat untuk mendongkrak konsumsi  yang merupakan salah satu pendorong ekonomi nasional.
Dampaknya pun sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit dengan sudah  kembalinya aktivitas perekonomian masyarakat setelah sebelumnya sempat  tertekan akibat pembatasan mobilitas untuk menekan jumlah penyebaran  kasus Covid-19. Meskipun, belum 100% aktivitas bisa berjalan dengan  normal.
Pemerintah memprediksi pertumbuhan kuartal III tahun  ini akan lebih baik dibandingkan kuartal II meskipun masih berada di  zona negatif. Secara tahunan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan  ekonomi RI di 2020 adalah sebesar -1,7 sampai -0,6%.
&quot;Prediksi kita untuk akhir tahun -1,7% sampai -0,6%. Lalu 2021 karena  kita berangkat dari low base di 2020, satu, jadi pasti ada dampaknya,  pertumbuhan kita lebih mudah. Tapi tetap harus reformasi dari 2020 ke  2021, termasuk gimana pastikan investasi harus positif di 2021,&quot;  jelasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kementerian Keuangan lagi-lagi memberikan informasi jika krisis yang terjadi pada tahun ini berbeda dari sebelumnya. Mengingat, krisis yang terjadi pada tahun ini akibat dari pandemi virus corona (covid-19).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu mengatakan, krisis akibat pandemi ini memang berbeda dari sebelumnya. Karena pemerintah tidak bisa berhitung kapan krisis tersebut akan berakhirnya.
Baca Juga: Buka-bukaan Pengusaha soal Resesi Ekonomi Lahirkan PHK Massal
 
&quot;Covid-19 ini dampaknya sangat beda. Karakteristik krisisnya beda. Kalau yang global dan Asian financial crisis kita bisa hitung dan perkirakan kapan berakhirnya,&quot; ujarnya dalam diskusi virtual, Jumat (2/10/2020).&amp;nbsp;
Febrio menambahkan, krisis akibat pandemi ini juga berbeda karena dampaknya terasa lebih dalam dari krisis keuangan. Bahkan, krisis akibat pandemi ini juga hampir merata terjadi di semua negara.
Baca Juga: RI Masih Bisa Selamat dari Resesi, Ini 3 Caranya
 
Sementara saat krisis keuangan tahun 1998 dan 2008, tidak semua negara terkena dampaknya. Bahkan negara-negara berkembang justru relatif lebih kecil dampaknya.&amp;nbsp;
&quot;Global financial crisis semua dunia negatifnya kecil tapi waktu itu negara majunya dalam. Negara berkembang termasuk Indonesia responsnya resilient. Tapi itu jadi pelajaran berharga,&quot; jelasnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Oleh karena itu, pemerintah terus mencoba dengan berbagai cara agar  ekonomi tidak jatuh terlalu dalam. Misalnya dengan memberikan beberapa  insentif dan bantuan sosial kepada masyarakat untuk mendongkrak konsumsi  yang merupakan salah satu pendorong ekonomi nasional.
Dampaknya pun sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit dengan sudah  kembalinya aktivitas perekonomian masyarakat setelah sebelumnya sempat  tertekan akibat pembatasan mobilitas untuk menekan jumlah penyebaran  kasus Covid-19. Meskipun, belum 100% aktivitas bisa berjalan dengan  normal.
Pemerintah memprediksi pertumbuhan kuartal III tahun  ini akan lebih baik dibandingkan kuartal II meskipun masih berada di  zona negatif. Secara tahunan, pemerintah memperkirakan pertumbuhan  ekonomi RI di 2020 adalah sebesar -1,7 sampai -0,6%.
&quot;Prediksi kita untuk akhir tahun -1,7% sampai -0,6%. Lalu 2021 karena  kita berangkat dari low base di 2020, satu, jadi pasti ada dampaknya,  pertumbuhan kita lebih mudah. Tapi tetap harus reformasi dari 2020 ke  2021, termasuk gimana pastikan investasi harus positif di 2021,&quot;  jelasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
