<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Indonesia Sebentar Lagi Resesi, Simak 9 Faktanya</title><description>Kuartal III-2020 telah dilalui. Saat ini masyarakat sedang menanti-nanti  hasil perekonomian di kuartal penentu resesi ekonomi tersebut.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/03/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/03/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya"/><item><title>Indonesia Sebentar Lagi Resesi, Simak 9 Faktanya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/03/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/03/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya</guid><pubDate>Sabtu 03 Oktober 2020 11:11 WIB</pubDate><dc:creator>Giri Hartomo</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/02/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya-ADqA2L7f4U.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Resesi (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/02/320/2287520/indonesia-sebentar-lagi-resesi-simak-9-faktanya-ADqA2L7f4U.jpg</image><title>Resesi (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Kuartal III-2020 telah dilalui. Saat ini masyarakat sedang menanti-nanti hasil perekonomian di kuartal penentu resesi ekonomi tersebut.

Hal ini dikarenakan, pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia mengalami minus 5,3%. Jika kuartal III masih kontraksi, dipastikan Indonesia masuk ke jurang resesi.

Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (3/10/2020), berikut fakta-fakta mengenai resesi yang sudah di depan mata:
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Indonesia Waspada, Ketidakpastian Kian Tinggi Usai Trump Positif Covid-19
 
1. Pengertian Resesi
Resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Trump Positif Covid-19, Apa Dampaknya ke Pasar Keuangan?
Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.

Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.

 
2. Pengusaha Mal Sudah Rasakan Resesi Terlebih Dahulu
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyatakan, resesi ekonomi sudah dirasakan dalam beberapa bulan terakhir bagi pelaku usaha pusat perbelanjaan.

&quot;Sebetulnya buat kami, resesi sudah dirasakan dari beberapa bulan lalu, jika diumumkan resesi itu memang cuma akumulasi saja&quot; kata Alphonzus.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kapan Covid-19 Berakhir? Sri Mulyani: Tidak Tahu
Menurutnya, resesi ekonomi yang terjadi di Tanah Air tidak bisa dihindari. Sebab, negara lain pun mengalami situasi yang sama.

&quot;Namun, yang perlu diperhatikan bagaimana pemerintah dapat mempersingkat mungkin resesi ini tidak berkepanjangan. Itu yang harus dilakukan pemerintah,&quot; jelasnya.

 
3. Pengusaha Lebih Khawatir Depresi Ekonomi
Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengaku tak terlalu khawatir dengan ancaman resesi tersebut. Yang terpenting kini pemerintah harus fokus menangani pandemi Covid-19 agar mampu memulihkan kembali perekonomian Tanah Air.

&quot;Dengan demikian kita akan memasuki resesi. Dalam beberapa kesempatan kami menyampaikan bahwa pengusaha tidak khawatir dengan resesi, yang dikhawatirkan jika pandemi covid 19 ini berkepanjangan,&quot; kata Sarman dalam keterangan tertulis.

Menurut dia, bila pemerintah tak mampu mengontrol kasus baru Covid-19, maka nantinya buka resesi lagi, melainkan akan berlanjut ke depresi ekonomi.

&quot;Maka pengusaha akan bertumbangan dan akan menimbulkan masalah sosial dan berpotensi kita memasuki depresi ekonomi,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4. Covid-19 Buat Utang Meroket hingga Orang Miskin Baru
Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik  Victoria Kwakwa mengatakan, jika tidak diambil tindakan di berbagai  bidang, maka pandemi ini dapat mengurangi pertumbuhan regional selama  satu dekade yang akan datang sebesar 1 poin presentase per tahun, dengan  dampak terbesarnya dirasakan oleh keluarga miskin, karena mereka  memiliki lebih sedikit akses kepada fasilitas layanan kesehatan,  pendidikan, pekerjaan, dan keuangan.

&quot;Penutupan sekolah akibat Covid-19 dapat menyebabkan hilangnya waktu  untuk penyesuaian belajar setara 0,7 tahun bersekolah, di negara-negara  di kawasan Asia Timur dan Pasifik,&quot; katanya saat video virtual.

Sebagai akibatnya, rata-rata seorang siswa di kawasan ini mungkin  menghadapi penurunan nilai penghasilan sebesar 4% dari yang diharapkan,  setiap tahunnya, kelak pada usia produktif mereka.

Kondisi utang negara dan swasta, seiring dengan menurunnya tingkat  neraca perbankan dan meningkatnya ketidakpastian, menimbulkan risiko  kepada investasi yang dilakukan oleh pihak negara maupun swasta, juga  kepada stabilitas perekonomian di saat di mana kawasan ini justru  membutuhkan keduanya.

 
5. Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi RI 2020 Minus 2%
Bank Dunia (Word Bank) merilis laporan ekonomi untuk Kawasan Asia  Timur dan Pasifik edisi Oktober, From Containment to Recovery. Dalam  laporannya, Bank Dunia menyebut bahwa ekonomi Indonesia diprediksi  tumbuh negatif 1,6% tahun ini.

Sementara, dalam skenario terburuk (low case), pertumbuhan ekonomi  Indonesia bisa minus hingga 2%. Prediksi tersebut tercantum dalam tabel  yang disajikan Bank Dunia dalam laporannya.

Bank Dunia juga telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa  mencapai 4,4% tahun 2021 mendatang (baseline). Namun dalam skenario  terburuk, pertumbuhannya mungkin hanya 3% saja (low case).

 
6. Indonesia Resesi, Pengangguran dan Orang Miskin Bakal Makin Banyak
Irjen Kemenkeu Sumiyati mengatakan, perekonomian saat ini sudah  terdampak hebat dan diperkirakan pertumbuhannya terus negatif sampai  akhir tahun. Hal ini dipastikan mempengaruhi kondisi sosial ekonomi  masyarakat secara menyeluruh.

&quot;Pengangguran dan juga angka kemiskinan diperkirakan akan naik cukup  signifikan di mana kemiskinan kemungkinan akan naik sekitar 3,02 hingga  5,71 juta orang. Dan pengangguran meningkat kurang lebih 4-5,23 juta  orang,&quot; kata Irjen Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati.

 
7. Indonesia Resesi, 5 Juta Pengangguran Baru Bermunculan
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P  Roeslani memprediksi, jumlah pekerja yang terkena PHK di masa resesi  nanti bakal mencapai 5 juta orang. Kondisi itu terjadi, bila pemerintah  tak bisa memulihkan perekonomian hingga Desember 2020 mendatang.

&quot;Kalau berkepanjangan terus sampai Desember diperkirakan mencapai 5 juta pengangguran baru,&quot; kata Rosan.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/jHz64_FpLtg&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;8. Ekonomi RI Minus, Tapi Tak Separah Negara Lain
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kontraksi ekonomi terjadi pada   perekonomian . di kuartal II dengan pertumbuhan minus 5,32%. Kontraksi   ekonomi pin diperkirakan berlanjut pada kuartal III dengan perkiraan   pemerintahminus 2,9% hingga minus 1%.

Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan, kontraksi ekonomi yang cukup   dalam tak berlebihan rasanya jika patut bersyukur. Sebab, perlambatan   ekonomi Indonesia tidaklah seburuk perekonomian di negara-negara lain.

&quot;Hal ini dilihat di semua advanced economies (negara-negara maju)   maupun di sebagian besar emerging economies (negara-negara berkembang)   yang mayoritas struktur perekonomiannya bergantung pada perdagangan   internasional, &quot; kata Wimboh.

 
9. Persiapan Pelaku Usaha Hadapi Resesi
Menurut Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi)   DKI Jakarta Sarman Simanjorang berbagai program pemulihan ekonomi yang   dijalankan oleh pemerintah bukan hanya semata-mata untuk menahan resesi,   tapi juga memperhatikan faktor kesehatan. Namun, dengan kondisi  ekonomi  global seperti ini seluruh negara terancam resesi. Bahkan sudah  ada  negara lebih dahulu mengalami resesi.

&quot;Akan tetapi ada beberapa cara menghadapinya. Pertama untuk menjaga   daya beli masyarakat, kedua bagaimana agar pelaku usaha mampu bertahan,   ketiga pelaku UMKM dapat bangkit dan menjadi penopang perekonomian. Dan   keempat yang tidak kalah penting walaupun kita masuk resesi akan  tetapi  pertumbuhan ekonomi kita tidak terkontraksi terlalu dalam,&quot; ujar  dia  kepada Okezone.

Sehingga, lanjut dia ketika nantinya pandemi ini selesai Indonesia   cepat tumbuh ke pertumbuhan ekonomi yang positif. &quot;Kita (pelaku usaha),   meyakini bahwa fundamental ekonomi kita masih kuat, sehingga   pemulihannya akan bisa cepat ketika berbagai aktivitas usaha dan bisnis   normal kembali,&quot; ungkap dia.

Pihaknya juga memberikan apresiasi dan mendukung penuh berbagai upaya   dan usaha Menteri BUMN Erick Thohir dalam pengadaan vaksin Covid-19.  Di  mana vaksin ini satu-satunya senjata ampuh untuk mempercepat  pemulihan  ekonomi dan menahan laju resesi.</description><content:encoded>JAKARTA - Kuartal III-2020 telah dilalui. Saat ini masyarakat sedang menanti-nanti hasil perekonomian di kuartal penentu resesi ekonomi tersebut.

Hal ini dikarenakan, pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia mengalami minus 5,3%. Jika kuartal III masih kontraksi, dipastikan Indonesia masuk ke jurang resesi.

Oleh sebab itu, Jakarta, Sabtu (3/10/2020), berikut fakta-fakta mengenai resesi yang sudah di depan mata:
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ekonomi Indonesia Waspada, Ketidakpastian Kian Tinggi Usai Trump Positif Covid-19
 
1. Pengertian Resesi
Resesi adalah penyebaran penurunan ekonomi yang signifikan di seluruh sektor ekonomi yang berlangsung lebih dari beberapa kuartal.

Menurut garis pemikiran yang dipopulerkan ekonom Julius Shiskin di 1974, istilah resesi biasanya didefinisikan sebagai periode ketika produk domestik bruto (PDB) menurun selama dua kuartal berturut-turut.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Trump Positif Covid-19, Apa Dampaknya ke Pasar Keuangan?
Dalam resesi, kita mungkin merasakan efek gabungan dengan beberapa cara berbeda. Seperti, klaim pengangguran naik, kebiasaan belanja berubah, penjualan melambat, dan peluang ekonomi berkurang.

Jadi dalam praktiknya, resesi ditandai tidak hanya oleh penurunan PDB riil. Akan tetapi juga penurunan pendapatan pribadi riil, penurunan penjualan dan produksi manufaktur, dan kenaikan tingkat pengangguran.

 
2. Pengusaha Mal Sudah Rasakan Resesi Terlebih Dahulu
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menyatakan, resesi ekonomi sudah dirasakan dalam beberapa bulan terakhir bagi pelaku usaha pusat perbelanjaan.

&quot;Sebetulnya buat kami, resesi sudah dirasakan dari beberapa bulan lalu, jika diumumkan resesi itu memang cuma akumulasi saja&quot; kata Alphonzus.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Kapan Covid-19 Berakhir? Sri Mulyani: Tidak Tahu
Menurutnya, resesi ekonomi yang terjadi di Tanah Air tidak bisa dihindari. Sebab, negara lain pun mengalami situasi yang sama.

&quot;Namun, yang perlu diperhatikan bagaimana pemerintah dapat mempersingkat mungkin resesi ini tidak berkepanjangan. Itu yang harus dilakukan pemerintah,&quot; jelasnya.

 
3. Pengusaha Lebih Khawatir Depresi Ekonomi
Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengaku tak terlalu khawatir dengan ancaman resesi tersebut. Yang terpenting kini pemerintah harus fokus menangani pandemi Covid-19 agar mampu memulihkan kembali perekonomian Tanah Air.

&quot;Dengan demikian kita akan memasuki resesi. Dalam beberapa kesempatan kami menyampaikan bahwa pengusaha tidak khawatir dengan resesi, yang dikhawatirkan jika pandemi covid 19 ini berkepanjangan,&quot; kata Sarman dalam keterangan tertulis.

Menurut dia, bila pemerintah tak mampu mengontrol kasus baru Covid-19, maka nantinya buka resesi lagi, melainkan akan berlanjut ke depresi ekonomi.

&quot;Maka pengusaha akan bertumbangan dan akan menimbulkan masalah sosial dan berpotensi kita memasuki depresi ekonomi,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yMi80LzEyMjgyNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;4. Covid-19 Buat Utang Meroket hingga Orang Miskin Baru
Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik  Victoria Kwakwa mengatakan, jika tidak diambil tindakan di berbagai  bidang, maka pandemi ini dapat mengurangi pertumbuhan regional selama  satu dekade yang akan datang sebesar 1 poin presentase per tahun, dengan  dampak terbesarnya dirasakan oleh keluarga miskin, karena mereka  memiliki lebih sedikit akses kepada fasilitas layanan kesehatan,  pendidikan, pekerjaan, dan keuangan.

&quot;Penutupan sekolah akibat Covid-19 dapat menyebabkan hilangnya waktu  untuk penyesuaian belajar setara 0,7 tahun bersekolah, di negara-negara  di kawasan Asia Timur dan Pasifik,&quot; katanya saat video virtual.

Sebagai akibatnya, rata-rata seorang siswa di kawasan ini mungkin  menghadapi penurunan nilai penghasilan sebesar 4% dari yang diharapkan,  setiap tahunnya, kelak pada usia produktif mereka.

Kondisi utang negara dan swasta, seiring dengan menurunnya tingkat  neraca perbankan dan meningkatnya ketidakpastian, menimbulkan risiko  kepada investasi yang dilakukan oleh pihak negara maupun swasta, juga  kepada stabilitas perekonomian di saat di mana kawasan ini justru  membutuhkan keduanya.

 
5. Skenario Terburuk Bank Dunia, Ekonomi RI 2020 Minus 2%
Bank Dunia (Word Bank) merilis laporan ekonomi untuk Kawasan Asia  Timur dan Pasifik edisi Oktober, From Containment to Recovery. Dalam  laporannya, Bank Dunia menyebut bahwa ekonomi Indonesia diprediksi  tumbuh negatif 1,6% tahun ini.

Sementara, dalam skenario terburuk (low case), pertumbuhan ekonomi  Indonesia bisa minus hingga 2%. Prediksi tersebut tercantum dalam tabel  yang disajikan Bank Dunia dalam laporannya.

Bank Dunia juga telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa  mencapai 4,4% tahun 2021 mendatang (baseline). Namun dalam skenario  terburuk, pertumbuhannya mungkin hanya 3% saja (low case).

 
6. Indonesia Resesi, Pengangguran dan Orang Miskin Bakal Makin Banyak
Irjen Kemenkeu Sumiyati mengatakan, perekonomian saat ini sudah  terdampak hebat dan diperkirakan pertumbuhannya terus negatif sampai  akhir tahun. Hal ini dipastikan mempengaruhi kondisi sosial ekonomi  masyarakat secara menyeluruh.

&quot;Pengangguran dan juga angka kemiskinan diperkirakan akan naik cukup  signifikan di mana kemiskinan kemungkinan akan naik sekitar 3,02 hingga  5,71 juta orang. Dan pengangguran meningkat kurang lebih 4-5,23 juta  orang,&quot; kata Irjen Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Sumiyati.

 
7. Indonesia Resesi, 5 Juta Pengangguran Baru Bermunculan
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P  Roeslani memprediksi, jumlah pekerja yang terkena PHK di masa resesi  nanti bakal mencapai 5 juta orang. Kondisi itu terjadi, bila pemerintah  tak bisa memulihkan perekonomian hingga Desember 2020 mendatang.

&quot;Kalau berkepanjangan terus sampai Desember diperkirakan mencapai 5 juta pengangguran baru,&quot; kata Rosan.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/jHz64_FpLtg&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;8. Ekonomi RI Minus, Tapi Tak Separah Negara Lain
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kontraksi ekonomi terjadi pada   perekonomian . di kuartal II dengan pertumbuhan minus 5,32%. Kontraksi   ekonomi pin diperkirakan berlanjut pada kuartal III dengan perkiraan   pemerintahminus 2,9% hingga minus 1%.

Ketua OJK Wimboh Santoso mengatakan, kontraksi ekonomi yang cukup   dalam tak berlebihan rasanya jika patut bersyukur. Sebab, perlambatan   ekonomi Indonesia tidaklah seburuk perekonomian di negara-negara lain.

&quot;Hal ini dilihat di semua advanced economies (negara-negara maju)   maupun di sebagian besar emerging economies (negara-negara berkembang)   yang mayoritas struktur perekonomiannya bergantung pada perdagangan   internasional, &quot; kata Wimboh.

 
9. Persiapan Pelaku Usaha Hadapi Resesi
Menurut Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi)   DKI Jakarta Sarman Simanjorang berbagai program pemulihan ekonomi yang   dijalankan oleh pemerintah bukan hanya semata-mata untuk menahan resesi,   tapi juga memperhatikan faktor kesehatan. Namun, dengan kondisi  ekonomi  global seperti ini seluruh negara terancam resesi. Bahkan sudah  ada  negara lebih dahulu mengalami resesi.

&quot;Akan tetapi ada beberapa cara menghadapinya. Pertama untuk menjaga   daya beli masyarakat, kedua bagaimana agar pelaku usaha mampu bertahan,   ketiga pelaku UMKM dapat bangkit dan menjadi penopang perekonomian. Dan   keempat yang tidak kalah penting walaupun kita masuk resesi akan  tetapi  pertumbuhan ekonomi kita tidak terkontraksi terlalu dalam,&quot; ujar  dia  kepada Okezone.

Sehingga, lanjut dia ketika nantinya pandemi ini selesai Indonesia   cepat tumbuh ke pertumbuhan ekonomi yang positif. &quot;Kita (pelaku usaha),   meyakini bahwa fundamental ekonomi kita masih kuat, sehingga   pemulihannya akan bisa cepat ketika berbagai aktivitas usaha dan bisnis   normal kembali,&quot; ungkap dia.

Pihaknya juga memberikan apresiasi dan mendukung penuh berbagai upaya   dan usaha Menteri BUMN Erick Thohir dalam pengadaan vaksin Covid-19.  Di  mana vaksin ini satu-satunya senjata ampuh untuk mempercepat  pemulihan  ekonomi dan menahan laju resesi.</content:encoded></item></channel></rss>
