<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>8 Sentimen Pengaruhi IHSG Pekan Depan, dari Trump hingga Uni Eropa</title><description>Beberapa sentimen akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan pertama  Oktober 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa"/><item><title>8 Sentimen Pengaruhi IHSG Pekan Depan, dari Trump hingga Uni Eropa</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa</guid><pubDate>Minggu 04 Oktober 2020 17:26 WIB</pubDate><dc:creator>Safira Fitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa-y4wF8FYNTP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/04/278/2288296/8-sentimen-pengaruhi-ihsg-pekan-depan-dari-trump-hingga-uni-eropa-y4wF8FYNTP.jpg</image><title>Indeks Harga Saham Gabungan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Beberapa sentimen akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan pertama  Oktober 2020. IHSG dalam sepekan perkirakan cenderung sideways di range yang lebar dengan dengan support di level 4.881 sampai 4.754 dan resistance di level 4.991 sampai 5.075.
Direktur Investama Hans Kwee menjabarkan, setidaknya ada delapan sentiment yang mempengaruhi gerak IHSG pada pekan depan. Mulai dari kabar positifnya Presiden Donald Trump hingga ketegangan Uni Eropa dan Inggris.
Baca Juga: Siap-Siap, IHSG Diprediksi Melemah Selama Sepekan
 
Berikut adalah 8 sentimen yang pengaruhi laju IHSG pekan depan:
1. Berita Presiden Donald Trump dan Istri terkena virus covid 19 menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Situasi politik AS bisa berubah bila kesehatan Trump memburuk dan masuk ICU. Trump terkena virus covid 19 berpeluang menurunkan popularitasnya karena dianggap terlalu lemah dalam mengatasi pandemi covid 19. Hal ini meningkatkan risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan. Pelaku pasar tidak suka ketidakpastian dan akan bergerak ke aset safe haven seperti emas, Dollar dan Yen.
2. Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan pemulihan. Salah satunya data ketenagakerjaan. Departemen Tenaga Kerja melaporkan nonfarm payrolls hanya meningkat 661.000 pekerjaan bulan September setelah naik 1,489 juta pada Agustus. Data ini di bawah ekspektasi Ekonom yang disurvei Reuters yang memperkirakan 850.000 pekerjaan untuk September. Ini menunjukkan pemulihan pasar tenaga kerja AS melambat pada September. Penciptaan lapangan kerja masih jauh dari 22 juta pekerjaan yang di PHK sejak pandemi Covid 19. Jumlah pengangguran permanen di AS juga mengalami peningkatan.
Baca Juga: Nyaman di Zona Hijau, IHSG Menguat 1% ke 4.919
 
3. DPR Amerika akhirnya menyetujui proposal Partai Demokrat Paket Stimulus Fiskal senilai USD 2,2 triliun untuk memberikan bantuan ekonomi akibat pandemi Covid-19. DPR AS meloloskan proposal ke Senat melalui voting 214-207 pada Kamis malam waktu setempat. Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin masih jauh dari kesepakatan paket bantuan Covid-19 di beberapa bidang utama, setelah diskusi melalui telepon. Hal ini membuka peluang paket stimulus fiskal ini akan kembali terganjal atau gagal di Senat AS. Saat ini ekonomi Amerika Serikat sangat membutuhkan stimulus menyusul pemulihan ekonomi yang melambat. Bila paket Stimulus ini kembali gagal akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yOS80LzEyMjk2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
4. Terlihat indikasi awal terjadi gelombang ke dua virus Covid 19 di Eropa. Prancis melakukan persiapan untuk melakukan siaga maksimum covid-19 mulai Senin. Kemungkinan langkah ini akan memaksa penutupan restoran dan bar dan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada kehidupan publik untuk menghindari penyebaran Covid 19 lebih lanjut. Italia memperpanjang kondisi darurat untuk mencegah penyebaran corona baru hingga Januari. Inggris akan memperpanjang pembatasan lokal di kawasan utara sebagai tanggapan atas lonjakan kasus Covid 19. Di Spanyol khususnya kota Madrid akan menjadi ibu kota Eropa pertama yang kembali melakukan lockdown  untuk menahan lonjakan kasus Covid-19. Wave 2 covid-19 yang di antisipasi dengan langkah pembatasan sosial berpotensi membawa perlambatan ekonomi yang berpeluang menekan pasar keuangan khususnya pasar saham.5. Ketegangan Uni Eropa dengan Inggris semakin meningkat ketika Uni  Eropa akan memulai tindakan hukum terhadap Inggris karena melanggar  ketentuan Perjanjian Penarikan yang mengatur transisi pasca-Brexit. Para  pemimpin Uni Eropa akan menolak untuk menyetujui posisi negosiasi  Inggris saat ini tentang bantuan negara itu ketika masa transisi  berakhir pada akhir tahun. Inggris dan UE tetap terpecah karena masalah  bantuan negara, yang menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan.  UE akan mengambil langkah proses hukum terhadap Inggris karena melanggar  ketentuan Perjanjian Penarikan dari blok tersebut. Kanselir Jerman  Angela Merkel mengatakan tidak memiliki terobosan untuk diumumkan dalam  pembicaraan Uni Eropa dengan Inggris. Tetapi dia tetap optimis bahwa  kesepakatan perdagangan baru masih mungkin dilakukan sebelum akhir  tahun.
6. Saat ini diperkirakan Investor akan lebih memperhatikan saham dan  obligasi Asia dibandingkan pasar Amerika Serikat. AS saat ini menghadapi  risiko pemilu dan valuasi yang mahal. Pasar Asia terlihat lebih menarik  karena pemulihan ekonomi dan pendapatan yang kuat dan valuasi yang jauh  lebih murah. Data ekonomi China yang baik di tambah virus covid 19  terkendala di sebagian Negara kawasan Asia seperti di Korea Selatan,  Taiwan dan Hongkong.
7. Sedikit berbeda dengan sebagain kawasan Asia Indonesia dan Filipina  masih belum dapat menjinakkan pandemi covid 19. Chief Economist for East  Asia and Pacific Bank Dunia Aaditya Mattoo menyatakan Indonesia dan  Filipina belum sukses menangani pandemi sehingga tidak akan menunjukkan  tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.
8. Sebelumnya Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi  Indonesia menjadi -1,6 % dari 0,0% di tahun 2020 dan tumbuh 4,4% dari  4,8 % di tahun 2021. Data yang keluar menunjukkan selama tiga bulan  berturut-turut sejak Juli, Agustus hingga September 2020 Indonesia  mengalami Deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi  pada September 2020 di level 0,05%, sehingga terjadi deflasi selama  triwulan III 2020. Pada Juli terjadi deflasi sebesar 0,10% dan Agustus  0,05%. Tingkat inflasi dari tahun kalender berada di angka 0,89% dan  secara tahunan (year on year) tingkat inflasi berada di level 1,42%.  Deflasi merupakan tanda lemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi.</description><content:encoded>JAKARTA - Beberapa sentimen akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan pertama  Oktober 2020. IHSG dalam sepekan perkirakan cenderung sideways di range yang lebar dengan dengan support di level 4.881 sampai 4.754 dan resistance di level 4.991 sampai 5.075.
Direktur Investama Hans Kwee menjabarkan, setidaknya ada delapan sentiment yang mempengaruhi gerak IHSG pada pekan depan. Mulai dari kabar positifnya Presiden Donald Trump hingga ketegangan Uni Eropa dan Inggris.
Baca Juga: Siap-Siap, IHSG Diprediksi Melemah Selama Sepekan
 
Berikut adalah 8 sentimen yang pengaruhi laju IHSG pekan depan:
1. Berita Presiden Donald Trump dan Istri terkena virus covid 19 menimbulkan kekhawatiran pelaku pasar. Situasi politik AS bisa berubah bila kesehatan Trump memburuk dan masuk ICU. Trump terkena virus covid 19 berpeluang menurunkan popularitasnya karena dianggap terlalu lemah dalam mengatasi pandemi covid 19. Hal ini meningkatkan risiko dan ketidakpastian di pasar keuangan. Pelaku pasar tidak suka ketidakpastian dan akan bergerak ke aset safe haven seperti emas, Dollar dan Yen.
2. Data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan pemulihan. Salah satunya data ketenagakerjaan. Departemen Tenaga Kerja melaporkan nonfarm payrolls hanya meningkat 661.000 pekerjaan bulan September setelah naik 1,489 juta pada Agustus. Data ini di bawah ekspektasi Ekonom yang disurvei Reuters yang memperkirakan 850.000 pekerjaan untuk September. Ini menunjukkan pemulihan pasar tenaga kerja AS melambat pada September. Penciptaan lapangan kerja masih jauh dari 22 juta pekerjaan yang di PHK sejak pandemi Covid 19. Jumlah pengangguran permanen di AS juga mengalami peningkatan.
Baca Juga: Nyaman di Zona Hijau, IHSG Menguat 1% ke 4.919
 
3. DPR Amerika akhirnya menyetujui proposal Partai Demokrat Paket Stimulus Fiskal senilai USD 2,2 triliun untuk memberikan bantuan ekonomi akibat pandemi Covid-19. DPR AS meloloskan proposal ke Senat melalui voting 214-207 pada Kamis malam waktu setempat. Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin masih jauh dari kesepakatan paket bantuan Covid-19 di beberapa bidang utama, setelah diskusi melalui telepon. Hal ini membuka peluang paket stimulus fiskal ini akan kembali terganjal atau gagal di Senat AS. Saat ini ekonomi Amerika Serikat sangat membutuhkan stimulus menyusul pemulihan ekonomi yang melambat. Bila paket Stimulus ini kembali gagal akan menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8yOS80LzEyMjk2Ny8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
4. Terlihat indikasi awal terjadi gelombang ke dua virus Covid 19 di Eropa. Prancis melakukan persiapan untuk melakukan siaga maksimum covid-19 mulai Senin. Kemungkinan langkah ini akan memaksa penutupan restoran dan bar dan memberlakukan pembatasan lebih lanjut pada kehidupan publik untuk menghindari penyebaran Covid 19 lebih lanjut. Italia memperpanjang kondisi darurat untuk mencegah penyebaran corona baru hingga Januari. Inggris akan memperpanjang pembatasan lokal di kawasan utara sebagai tanggapan atas lonjakan kasus Covid 19. Di Spanyol khususnya kota Madrid akan menjadi ibu kota Eropa pertama yang kembali melakukan lockdown  untuk menahan lonjakan kasus Covid-19. Wave 2 covid-19 yang di antisipasi dengan langkah pembatasan sosial berpotensi membawa perlambatan ekonomi yang berpeluang menekan pasar keuangan khususnya pasar saham.5. Ketegangan Uni Eropa dengan Inggris semakin meningkat ketika Uni  Eropa akan memulai tindakan hukum terhadap Inggris karena melanggar  ketentuan Perjanjian Penarikan yang mengatur transisi pasca-Brexit. Para  pemimpin Uni Eropa akan menolak untuk menyetujui posisi negosiasi  Inggris saat ini tentang bantuan negara itu ketika masa transisi  berakhir pada akhir tahun. Inggris dan UE tetap terpecah karena masalah  bantuan negara, yang menjadi poin penting dalam negosiasi perdagangan.  UE akan mengambil langkah proses hukum terhadap Inggris karena melanggar  ketentuan Perjanjian Penarikan dari blok tersebut. Kanselir Jerman  Angela Merkel mengatakan tidak memiliki terobosan untuk diumumkan dalam  pembicaraan Uni Eropa dengan Inggris. Tetapi dia tetap optimis bahwa  kesepakatan perdagangan baru masih mungkin dilakukan sebelum akhir  tahun.
6. Saat ini diperkirakan Investor akan lebih memperhatikan saham dan  obligasi Asia dibandingkan pasar Amerika Serikat. AS saat ini menghadapi  risiko pemilu dan valuasi yang mahal. Pasar Asia terlihat lebih menarik  karena pemulihan ekonomi dan pendapatan yang kuat dan valuasi yang jauh  lebih murah. Data ekonomi China yang baik di tambah virus covid 19  terkendala di sebagian Negara kawasan Asia seperti di Korea Selatan,  Taiwan dan Hongkong.
7. Sedikit berbeda dengan sebagain kawasan Asia Indonesia dan Filipina  masih belum dapat menjinakkan pandemi covid 19. Chief Economist for East  Asia and Pacific Bank Dunia Aaditya Mattoo menyatakan Indonesia dan  Filipina belum sukses menangani pandemi sehingga tidak akan menunjukkan  tanda-tanda pemulihan ekonomi dalam waktu dekat.
8. Sebelumnya Bank Dunia merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi  Indonesia menjadi -1,6 % dari 0,0% di tahun 2020 dan tumbuh 4,4% dari  4,8 % di tahun 2021. Data yang keluar menunjukkan selama tiga bulan  berturut-turut sejak Juli, Agustus hingga September 2020 Indonesia  mengalami Deflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi deflasi  pada September 2020 di level 0,05%, sehingga terjadi deflasi selama  triwulan III 2020. Pada Juli terjadi deflasi sebesar 0,10% dan Agustus  0,05%. Tingkat inflasi dari tahun kalender berada di angka 0,89% dan  secara tahunan (year on year) tingkat inflasi berada di level 1,42%.  Deflasi merupakan tanda lemahnya daya beli masyarakat akibat pandemi.</content:encoded></item></channel></rss>
