<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gagal Cuan, 2 BUMN Farmasi Justru Rugi Karena Corona</title><description>Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi mencatatkan kinerja keuangan hingga kuartal II tahun ini mencapai Rp5,7 triliun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona"/><item><title>Gagal Cuan, 2 BUMN Farmasi Justru Rugi Karena Corona</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona</guid><pubDate>Senin 05 Oktober 2020 17:09 WIB</pubDate><dc:creator>Suparjo Ramalan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona-P9YTVIYnuN.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/05/320/2288753/gagal-cuan-2-bumn-farmasi-justru-rugi-karena-corona-P9YTVIYnuN.jpg</image><title>Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi yakni PT Bio Farma (Persero) dan anggota holdingnya, PT Indofarma Tbk, mencatat laba yang kurang menguntungkan sepanjang semester II 2020. Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi mencatatkan kinerja keuangan hingga kuartal II tahun ini mencapai Rp5,7 triliun.
Angka ini menurun signifikan bila dibandingkan dengan periode yang sama 2019 yang mencapai Rp13,3 triliun.
Baca Juga: Cek Harga Vaksin Covid-19, Paling Mahal Rp2 Juta
 
Sementara itu, Indofarma sebagai anggota holding meraih laba bersih pada kuartal II sebesar Rp4,7 miliar. Angka ini juga menurun signifikan bila dibandingkan kuartal II 2019 yang menorehkan keuntungan di angka Rp7,96 miliar. Meski begitu, Indofarma menargetkan keuntungan perseroan hingga akhir 2020 sebesar Rp22,3 miliar.
Direktur utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, laba perseroan yang terkontraksi negatif disebabkan perlambatan impor bahan baku kesehatan selama pandemi Covid-19. Dia menilai, awal periode pandemi banyak negara membatasi impor dan bahkan merebutkan bahan baku kesehatan. Hal itu menyebabkan terjadinya penurunan produksi.
Baca Juga: Nasib Ekonomi RI Bergantung Penemuan Vaksin Covid-19
 
&quot;Permasalahan kita adalah bahan baku karena Covid-19. Bahan baku di Indonesia 90% impor, saat pandemi terjadi rebutan supply bahan baku, negara-negara lain juga membatasi ekspornya untuk ketahanan negara masing-masing,&quot; ujar Honesti saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR secara virtual Jakarta, Senin (5/10/2020).&amp;nbsp;
Pembatasan impor bahan baku juga menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Honesti menyebut, kenaikan harga bahan baku itu terjadi lima kali lipat dari harga normal. Hal itulah yang mempengaruhi laba holding BUMN farmasi sepanjang semester I tahun ini.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wMy80LzEyMzA0NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Meski begitu, manajemen Bio Farma optimis bila hingga semester II tahun ini perseroan tidak mengalami kerugian. &quot;Tapi laba bersih agak berat karena ada biaya-biaya akibat pandemi. Pendapatan kita optimistis tidak akan rugi tapi memang tidak sama saat kondisi normal,&quot; kata dia.&amp;nbsp;
Dalam kesempatan itu, Honesti meluruskan persepsi yang menilai bahwa industri kesehatan dan farmasi menjadi salah satu sektor yang tidak terdampak pandemi Covid-19. Honesti bilang, meski tidak separah sektor bisnis lainnya, bisnis farmasi pun cukup terdampak akibat penyebaran Covid-19.Sementara itu, Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto menyebut,  ada konsumsi produk farma atau obat-obatan yang mengalami kenaikan sejak  terjadinya penyebaran Covid-19. Meski begitu, ada jenis farma yang  tidak terkait dengan virus justru mengalami penurunan.
&quot;Farma yang terkait dengan covid-19 mengalami kenaikan, tapi yang tidak terkait dengan covid-19 mengalami penurunan,&quot; kata dia.
Karenanya, Arief dan manajemen perseroan lainnya akan melakukan  penyeimbangan antara konsumsi farma yang menurun dan konsumsi farma yang  mengalami kenaikan. &quot;Kita berharap masih bisa mengimbangi penurunan  dari yang non Covid-19, mudah-mudahan bisa dibantu dari kenaikan yang  sifatnya terkait covid-19. Baik yang farma maupun yang di alkes,&quot; kata  dia.
Dia juga mengatakan, penurunan pendapatan juga disebabkan karena  ketergantungan dengan tender. Jadi begitu tendernya ada yang hilang,  maka Indofarma otomatis ikut kehilangan pendapatan.</description><content:encoded>JAKARTA - Holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi yakni PT Bio Farma (Persero) dan anggota holdingnya, PT Indofarma Tbk, mencatat laba yang kurang menguntungkan sepanjang semester II 2020. Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi mencatatkan kinerja keuangan hingga kuartal II tahun ini mencapai Rp5,7 triliun.
Angka ini menurun signifikan bila dibandingkan dengan periode yang sama 2019 yang mencapai Rp13,3 triliun.
Baca Juga: Cek Harga Vaksin Covid-19, Paling Mahal Rp2 Juta
 
Sementara itu, Indofarma sebagai anggota holding meraih laba bersih pada kuartal II sebesar Rp4,7 miliar. Angka ini juga menurun signifikan bila dibandingkan kuartal II 2019 yang menorehkan keuntungan di angka Rp7,96 miliar. Meski begitu, Indofarma menargetkan keuntungan perseroan hingga akhir 2020 sebesar Rp22,3 miliar.
Direktur utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, laba perseroan yang terkontraksi negatif disebabkan perlambatan impor bahan baku kesehatan selama pandemi Covid-19. Dia menilai, awal periode pandemi banyak negara membatasi impor dan bahkan merebutkan bahan baku kesehatan. Hal itu menyebabkan terjadinya penurunan produksi.
Baca Juga: Nasib Ekonomi RI Bergantung Penemuan Vaksin Covid-19
 
&quot;Permasalahan kita adalah bahan baku karena Covid-19. Bahan baku di Indonesia 90% impor, saat pandemi terjadi rebutan supply bahan baku, negara-negara lain juga membatasi ekspornya untuk ketahanan negara masing-masing,&quot; ujar Honesti saat rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR secara virtual Jakarta, Senin (5/10/2020).&amp;nbsp;
Pembatasan impor bahan baku juga menyebabkan terjadinya kenaikan harga. Honesti menyebut, kenaikan harga bahan baku itu terjadi lima kali lipat dari harga normal. Hal itulah yang mempengaruhi laba holding BUMN farmasi sepanjang semester I tahun ini.
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wMy80LzEyMzA0NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Meski begitu, manajemen Bio Farma optimis bila hingga semester II tahun ini perseroan tidak mengalami kerugian. &quot;Tapi laba bersih agak berat karena ada biaya-biaya akibat pandemi. Pendapatan kita optimistis tidak akan rugi tapi memang tidak sama saat kondisi normal,&quot; kata dia.&amp;nbsp;
Dalam kesempatan itu, Honesti meluruskan persepsi yang menilai bahwa industri kesehatan dan farmasi menjadi salah satu sektor yang tidak terdampak pandemi Covid-19. Honesti bilang, meski tidak separah sektor bisnis lainnya, bisnis farmasi pun cukup terdampak akibat penyebaran Covid-19.Sementara itu, Direktur Utama Indofarma Arief Pramuhanto menyebut,  ada konsumsi produk farma atau obat-obatan yang mengalami kenaikan sejak  terjadinya penyebaran Covid-19. Meski begitu, ada jenis farma yang  tidak terkait dengan virus justru mengalami penurunan.
&quot;Farma yang terkait dengan covid-19 mengalami kenaikan, tapi yang tidak terkait dengan covid-19 mengalami penurunan,&quot; kata dia.
Karenanya, Arief dan manajemen perseroan lainnya akan melakukan  penyeimbangan antara konsumsi farma yang menurun dan konsumsi farma yang  mengalami kenaikan. &quot;Kita berharap masih bisa mengimbangi penurunan  dari yang non Covid-19, mudah-mudahan bisa dibantu dari kenaikan yang  sifatnya terkait covid-19. Baik yang farma maupun yang di alkes,&quot; kata  dia.
Dia juga mengatakan, penurunan pendapatan juga disebabkan karena  ketergantungan dengan tender. Jadi begitu tendernya ada yang hilang,  maka Indofarma otomatis ikut kehilangan pendapatan.</content:encoded></item></channel></rss>
