<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menkop Teten Minta Perguruan Tinggi Punya Laboratorium Kewirausahaan</title><description>Teten Masduki menekankan peran penting perguruan tinggi untuk memotivasi  dan juga membangun jiwa wirausaha sejak dini kepada mahasiswanya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan"/><item><title>Menkop Teten Minta Perguruan Tinggi Punya Laboratorium Kewirausahaan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan</guid><pubDate>Senin 05 Oktober 2020 18:30 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan-c5sulP3hgL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menkop UKM Teten Masduki (Foto: Setkab)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/05/455/2288798/menkop-teten-minta-perguruan-tinggi-punya-laboratorium-kewirausahaan-c5sulP3hgL.jpg</image><title>Menkop UKM Teten Masduki (Foto: Setkab)</title></images><description>JAKARTA &amp;mdash; Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan peran penting perguruan tinggi untuk memotivasi dan juga membangun jiwa wirausaha sejak dini kepada mahasiswanya. Sebab, menurut Teten, perguruan tinggi tidak hanya berkewajiban menyediakan tenaga terdidik dan terampil untuk dunia usaha, tetapi juga menghasilkan para pengusaha muda.
&amp;ldquo;Dengan cara menjadikan entrepreneurship sebagai program studi kewirausahaan, juga mendirikan laboratorium atau inkubator kewirausahaan,&amp;rdquo; kata Teten dalam acara webinar dengan tema &amp;lsquo;Peran Perguruan Tinggi Membangun Jiwa Wirausaha&amp;rsquo; yang diselenggarakan oleh Universitas Ma'soem di Jakarta, Senin (5/10/2020).
Baca Juga: 6 Cara Budidaya Bayam Merah di Halaman Rumah
Teten mengatakan, rasio kewirausahaan Indonesia baru sekitar 3,47% (data KemenKopUKM, 2018). Rasio kewirausahaan Indonesia tersebut dinilai sangat rendah bila dibandingkan dengan sesama negara ASEAN, seperti Singapura yang mencapai 8,76%, Thailand mencapai 4,26%, serta Malaysia mencapai 4,74%.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Di sisi lain, mayoritas orang Indonesia masih cenderung berpihak pada financial security atau hidup aman, padahal Profesor Kirzner menyampaikan, jika suatu negara ingin maju, jumlah entrepreneur-nya harus banyak. Entrepreneurship is the driving force behind economic growth,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Kisah Sonya, Penjual Kripik yang Terus Berinovasi Saat Pandemi Belum Selesai
Pemerintah telah melakukan upaya berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kewirausahaan melalui berbagai pelatihan kewirausahaan dan juga vokasi, terutama pelatihan yang menyentuh teknologi dan digitalisasi, kemitraan, dan juga pendampingan.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dengan bantuan teknologi, kami berharap mahasiswa maupun anak muda dapat memanfaatkan Informasi Teknologi (IT) untuk peningkatan usahanya, melalui akses pemasaran dan juga permodalan,&amp;rdquo; ujar Teten.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada  Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, dengan lulusan sarjana sebesar  5,67% atau hampir 400 ribu lulusan sarjana menganggur.
Untuk mengatasi hal itu, pihak perguruan tinggi diminta perlu  menerapkan pola pembelajaran kewirausahaan yang konkrit berdasarkan  masukan empiris untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang  bermakna, agar dapat mendorong semangat mahasiswa untuk berwirausaha.
&amp;ldquo;Dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana, diharapkan  dapat mengurangi pertambahan jumlah pengangguran, bahkan menambah jumlah  lapangan pekerjaan,&amp;rdquo; pungkasnya.
Menurut dia, berbagai tantangan zaman ini harus bisa direspons dengan  positif; ia optimis karena mahasiswa yang pemikirannya masih segar  memiliki kreativitas dan daya inovasi lebih tinggi dibandingkan generasi  sebelumnya, ditunjang dengan berbagai kelebihan, seperti memiliki akses  jaringan dan keterampilan kekinian (digital skill) yang tidak  didapatkan oleh generasi sebelumnya.
&amp;ldquo;Pada era globalisasi seperti saat ini, persaingan pasar kerja  semakin ketat, oleh karena itu, para anak muda juga harus bisa mengubah  pola pikir, dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan lapangan  pekerjaan,&amp;rdquo; tukas Teten.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;mdash; Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan peran penting perguruan tinggi untuk memotivasi dan juga membangun jiwa wirausaha sejak dini kepada mahasiswanya. Sebab, menurut Teten, perguruan tinggi tidak hanya berkewajiban menyediakan tenaga terdidik dan terampil untuk dunia usaha, tetapi juga menghasilkan para pengusaha muda.
&amp;ldquo;Dengan cara menjadikan entrepreneurship sebagai program studi kewirausahaan, juga mendirikan laboratorium atau inkubator kewirausahaan,&amp;rdquo; kata Teten dalam acara webinar dengan tema &amp;lsquo;Peran Perguruan Tinggi Membangun Jiwa Wirausaha&amp;rsquo; yang diselenggarakan oleh Universitas Ma'soem di Jakarta, Senin (5/10/2020).
Baca Juga: 6 Cara Budidaya Bayam Merah di Halaman Rumah
Teten mengatakan, rasio kewirausahaan Indonesia baru sekitar 3,47% (data KemenKopUKM, 2018). Rasio kewirausahaan Indonesia tersebut dinilai sangat rendah bila dibandingkan dengan sesama negara ASEAN, seperti Singapura yang mencapai 8,76%, Thailand mencapai 4,26%, serta Malaysia mencapai 4,74%.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Di sisi lain, mayoritas orang Indonesia masih cenderung berpihak pada financial security atau hidup aman, padahal Profesor Kirzner menyampaikan, jika suatu negara ingin maju, jumlah entrepreneur-nya harus banyak. Entrepreneurship is the driving force behind economic growth,&amp;rdquo; katanya.
Baca Juga: Kisah Sonya, Penjual Kripik yang Terus Berinovasi Saat Pandemi Belum Selesai
Pemerintah telah melakukan upaya berkelanjutan untuk mendukung peningkatan kewirausahaan melalui berbagai pelatihan kewirausahaan dan juga vokasi, terutama pelatihan yang menyentuh teknologi dan digitalisasi, kemitraan, dan juga pendampingan.&amp;nbsp;
&amp;ldquo;Dengan bantuan teknologi, kami berharap mahasiswa maupun anak muda dapat memanfaatkan Informasi Teknologi (IT) untuk peningkatan usahanya, melalui akses pemasaran dan juga permodalan,&amp;rdquo; ujar Teten.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOS8wMS80LzEyMjQyNy8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada  Agustus 2019 berjumlah 7,05 juta orang, dengan lulusan sarjana sebesar  5,67% atau hampir 400 ribu lulusan sarjana menganggur.
Untuk mengatasi hal itu, pihak perguruan tinggi diminta perlu  menerapkan pola pembelajaran kewirausahaan yang konkrit berdasarkan  masukan empiris untuk membekali mahasiswa dengan pengetahuan yang  bermakna, agar dapat mendorong semangat mahasiswa untuk berwirausaha.
&amp;ldquo;Dengan meningkatnya wirausahawan dari kalangan sarjana, diharapkan  dapat mengurangi pertambahan jumlah pengangguran, bahkan menambah jumlah  lapangan pekerjaan,&amp;rdquo; pungkasnya.
Menurut dia, berbagai tantangan zaman ini harus bisa direspons dengan  positif; ia optimis karena mahasiswa yang pemikirannya masih segar  memiliki kreativitas dan daya inovasi lebih tinggi dibandingkan generasi  sebelumnya, ditunjang dengan berbagai kelebihan, seperti memiliki akses  jaringan dan keterampilan kekinian (digital skill) yang tidak  didapatkan oleh generasi sebelumnya.
&amp;ldquo;Pada era globalisasi seperti saat ini, persaingan pasar kerja  semakin ketat, oleh karena itu, para anak muda juga harus bisa mengubah  pola pikir, dari mencari pekerjaan menjadi menciptakan lapangan  pekerjaan,&amp;rdquo; tukas Teten.</content:encoded></item></channel></rss>
