<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Gaji Naik Tapi Susah Menabung, Apa yang Salah?</title><description>Angka penghasilan kerap menjadi parameter kesuksesan seseorang.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah"/><item><title>Gaji Naik Tapi Susah Menabung, Apa yang Salah?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah</guid><pubDate>Selasa 06 Oktober 2020 21:16 WIB</pubDate><dc:creator>Safira Fitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah-812bzAYjU4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Mengatur Keuangan (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/06/622/2289428/gaji-naik-tapi-susah-menabung-apa-yang-salah-812bzAYjU4.jpg</image><title>Tips Mengatur Keuangan (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Angka penghasilan kerap menjadi parameter kesuksesan seseorang. Padahal, entah penghasilan tersebut dinilai kecil atau besar, hal tersebut tergantung bagaimana orang tersebut mengelola pendapatannya dengan baik.
Penghasilan naik, namun hidup masih tetap sulit. Pernah merasakannya? Atau justru sedang mengalami? Tandanya, yang bermasalah adalah Anda sebagai pihak pengelola uang tersebut.
Baca Juga: Korban PHK Harus Move On, Yuk Coba Merintis Bisnis
 
Seperti contoh kasus yang dilansir dari buku Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga: Panduan Bagi Ibu Rumah Tangga oleh Wahyuni Indriyani, Jakarta, Selasa (6/10/2020).&amp;nbsp;
Mentari menatap slip gaji milik suaminya, senyumnya pun mengembang lantaran sudah kesekian kalinya angka gaji mengalami kenaikan. Terbayang betapa beban bulanan yang akan terbantu dengan kenaikan gaji suaminya tersebut.
Baca Juga: Investasi yang Aman saat Resesi, dari Deposito hingga Obligasi
 
Namun, akhir-akhir ini dia pun merasa bahwa pengeluaran bulanannya terasa semakin membesar. Utang kartu kredit, bayar arisan yang selalu ambil jatah dapur, belum lagi cicilan kredit tanpa agunan yang setiap bulan harus dibayarkan.
&amp;nbsp;Dia pun berpikir, apa yang keliru? Di mana masalahnya? Padahal penghasilan suaminya sudah meningkat. Nah dari sinilah sudah bisa ditarik kesimpulannya, bahwa permasalahan bukanlah pada angka penghasilan yang naik, melainkan cala mengelolanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Perlunya bijak dalam mengelola arus kas keuangan keluarga serta harus  memiliki rencana keuangan. Sehingga sebenarnya, penghasilan naik atau  tidak, tetap menjadikan hidup stabil dan sejahtera.
Perlunya berhati-hati, sebab uang memang penting. Namun jangan sampai  hidup seolah dikendalikan oleh uang. Kita yang harus mengatur uang agar  bisa menunjang kehidupan dengan memenuhi kebutuhan sehati-hari.
Diri inilah yang harus memutuskan mana yang terbaik bagi keluarga.  Apa yang menjadi kebutuhan, bukan sekedar apa yang menjadi keinginan  semata. Karena kebutuhan dengan keinginan jelas berbeda, hal-hal yang  sifatnya hanya keinginan masih bisa ditunda.</description><content:encoded>JAKARTA - Angka penghasilan kerap menjadi parameter kesuksesan seseorang. Padahal, entah penghasilan tersebut dinilai kecil atau besar, hal tersebut tergantung bagaimana orang tersebut mengelola pendapatannya dengan baik.
Penghasilan naik, namun hidup masih tetap sulit. Pernah merasakannya? Atau justru sedang mengalami? Tandanya, yang bermasalah adalah Anda sebagai pihak pengelola uang tersebut.
Baca Juga: Korban PHK Harus Move On, Yuk Coba Merintis Bisnis
 
Seperti contoh kasus yang dilansir dari buku Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga: Panduan Bagi Ibu Rumah Tangga oleh Wahyuni Indriyani, Jakarta, Selasa (6/10/2020).&amp;nbsp;
Mentari menatap slip gaji milik suaminya, senyumnya pun mengembang lantaran sudah kesekian kalinya angka gaji mengalami kenaikan. Terbayang betapa beban bulanan yang akan terbantu dengan kenaikan gaji suaminya tersebut.
Baca Juga: Investasi yang Aman saat Resesi, dari Deposito hingga Obligasi
 
Namun, akhir-akhir ini dia pun merasa bahwa pengeluaran bulanannya terasa semakin membesar. Utang kartu kredit, bayar arisan yang selalu ambil jatah dapur, belum lagi cicilan kredit tanpa agunan yang setiap bulan harus dibayarkan.
&amp;nbsp;Dia pun berpikir, apa yang keliru? Di mana masalahnya? Padahal penghasilan suaminya sudah meningkat. Nah dari sinilah sudah bisa ditarik kesimpulannya, bahwa permasalahan bukanlah pada angka penghasilan yang naik, melainkan cala mengelolanya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Perlunya bijak dalam mengelola arus kas keuangan keluarga serta harus  memiliki rencana keuangan. Sehingga sebenarnya, penghasilan naik atau  tidak, tetap menjadikan hidup stabil dan sejahtera.
Perlunya berhati-hati, sebab uang memang penting. Namun jangan sampai  hidup seolah dikendalikan oleh uang. Kita yang harus mengatur uang agar  bisa menunjang kehidupan dengan memenuhi kebutuhan sehati-hari.
Diri inilah yang harus memutuskan mana yang terbaik bagi keluarga.  Apa yang menjadi kebutuhan, bukan sekedar apa yang menjadi keinginan  semata. Karena kebutuhan dengan keinginan jelas berbeda, hal-hal yang  sifatnya hanya keinginan masih bisa ditunda.</content:encoded></item></channel></rss>
