<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Memilih Saham di Masa Covid-19</title><description>Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga belum  kembali ke posisi seperti tahun lalu sebelum Novel Coronavirus  menguasai dunia.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19"/><item><title>Memilih Saham di Masa Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19</guid><pubDate>Rabu 07 Oktober 2020 12:10 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19-90Y0w5zn2O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">saham (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/07/278/2289737/memilih-saham-di-masa-covid-19-90Y0w5zn2O.jpg</image><title>saham (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi COVID-19 masih berlangsung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga belum kembali ke posisi seperti tahun lalu sebelum Novel Coronavirus menguasai dunia.

Namun, di setiap situasi, investor dapat terus mencari strategi untuk berinvestasi. Saat harga saham masih rendah seperti sekarang, dapat menjadi waktu bagi investor untuk membeli.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?
Saham yang mengalami potensi kerugian sejak awal tahun bisa menjadi simpanan untuk jangka panjang. Di mana, yang bisa direalisasikan menjadi keuntungan di depan ketika IHSG kembali ke posisi sebelum pandemi.

Saham-saham apa yang bisa dibeli investor saat ini?

Seperti yang disampaikan oleh sejumlah pengelola keuangan, mulailah dengan saham-saham blue chip yang risikonya relatif lebih kecil. Saham blue chip juga merupakan saham perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Miliki 3 Juta Investor, Transaksi Harian Pasar Modal RI Tertinggi di Asean
Sehingga, walaupun emiten blue chip ini terdampak pandemi, akan lebih cepat mengalami recovery. Tentunya sektor usaha ikut mempengaruhi saham mana yang lebih dahulu mengalamirecovery.

Blue chip bisa diartikan sebagai saham lapis satu atau saham dari perusahaan besar yang kinerja keuangannya stabil. Istilah blue chip berasal dari permainan kartu poker. Saat bermain poker, ada tiga keping koin (chip), yaitu yang berwarna merah, putih, dan biru. Yang warna biru nilainya paling besar di antara yang lain.Sehingga, sahambluechip merupakan saham dari perusahaan besar yang kinerja keuangan, termasuk labanya, relatifstabil. Besar dan stabil itu dilihat dari besarnya modal dan aset perusahaan, serta kapitalisasi pasarnya.

Kapitalisasi pasar adalah harga saham perusahaan yang tercantum di bursa, dikalikan dengan jumlah lembar saham yang beredar di pasar.Ada banyak pandangan terkait pengkategorian besar kecilnya kapitalisasi pasar. Salah satunya, kapitalisasi pasar yang besar ada dikategorikan pada kisaran Rp10 triliun ke atas.Sedangkan, jika kapitalisasinya antara Rp500 miliar hingga Rp10 triliun, maka sahamnya dikategorikan sebagai saham lapis dua, dan untuk Rp500 miliar ke bawah, disebut saham lapis ketiga.

Bicara soal keunggulannya, meski terlihat kuat, bukan berarti blue chip pasti untung. Saham-saham yang ada di lapis kedua dan lapis ketiga juga memiliki potensi keuntungan. Namun, secara risiko, blue chip bisa dikatakan relatif lebih aman dari yang lain. Sebab, risiko fluktuasi nilainya lebih rendah ketimbang saham lapis dua dan tiga. Saham lapis dua atau tiga harganya cenderung lebih murah, dan terkadang ada masa-masa di mana valuasi saham lapis dua meningkat signifikan.

Harga saham blue chip per lembar sahamnya relatif lebih tinggi dibanding saham-saham di lapis kedua dan ketiga. Untuk itu, modal yang dibutuhkan untuk berinvestasi di saham blue chip juga relatif lebih tinggi. Oleh sebab itu, disaat ini ketika harga-harga saham sedang turun, investor memiliki kesempatan untuk mengoleksi saham-saham blue chipdengan harga lebih terjangkau.

Saham blue chip juga umumnya sudah lama tercatat di bursa. Faktor jangka waktu bisa membuat sebuah perusahaan mengalami peningkatan laba dan perkembangan yang signifikan. Tetapi, tidak semua saham yang sudah lama tercatat di bursa ujug-ujug menjadi saham blue chip.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/Ek9cDNHjYWQ&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;Likuiditas saham menjadi indikator berikutnya. Maksud dari likuid  adalah banyak diperdagangkan, atau banyak investor perorangan atau  lembaga yang memiliki dan memperdagangkan saham ini. Saham-saham  kategori blue chip juga biasanya masuk ke daftar saham teraktif yang  diperdagangkan di bursa. Di BEI, ada indeks saham LQ45. Indeks saham ini  berisi 45 saham yang paling likuid. Rata-rata saham blue chip ada di  indeks tersebut. Tapi bukan berarti semua yang di LQ45 itu blue chip.

Bisa saja ada saham yang saat itu karena sektornya lagi ramai,  sehingga banyak ditransaksikan, dan bukan karena laba perusahaannya  sedang menanjak. Konstituen saham yang masuk perhitungan indeks LQ45  direviu setiap enam bulan sekali. Jadi, bisa ada saham yang saat ini ada  dalam daftar LQ45, dan ada yang kemudian berganti.

Untuk membayangkan perusahaan seperti apa yang masuk kategori saham  blue chip, investor dapat melihat tolak ukurnya dari 20 emiten yang  paling banyak disebut sebagai emiten blue chip dalam riset-riset yang  dibuat perusahaan sekuritas yang dipublikasikan oleh media massa.Contoh  20 saham tersebut, antara lain, perusahaan sektor konstruksi Adhi Karya  (Persero) Tbk (ADHI), perusahaan semen, Semen Indonesia Tbk  (SMGR),sektor petambangan, yaitu Adaro Energy Tbk (ADRO), Aneka Tambang  Tbk (ANTM) dan Bumi Resource Tbk (BUMI), perusahaan logistik AKR  Corporindo Tbk (AKRA), grup usaha otomotif Astra International Tbk  (ASII). Selain itu, sektor makanan, Indofood CBP Sukses Makmur Tbk  (ICBP), sektor kimia, Barito Pasific Tbk (BRPT), sektor telekomunikasi,  Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (TLKM), sektor alat berat United  Tractors Tbk (UNTR), sektor rokok, Gudang Garam Tbk (GGRM) dan HM  Sampoerna Tbk (HMSP). Sektor properti diwakili oleh Bumi Serpong Damai  Tbk (BSDE), sektor media massa, Global Mediacom Tbk (BMTR). Yang paling  banyak adalah sektor perbankan,antara lain, Bank Central Asa Tbk (BBCA),  Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),  Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN), dan Bank Mandiri Persero Tbk  (BMRI). Sebagian besar saham-saham ini ada di daftar saham LQ45.

Ketika hendak memilih saham-saham blue chip ini, pastikan investor  juga memahami sektor usaha masing-masing. Investor juga perlu  melihatkembali tujuan investasi saham. Belilah saham untuk tujuan  investasi jangka panjang untuk meminimalkan risiko investasi. Semakin  banyak jenis saham yang dipilih (prinsip diversifikasi) juga semakin  baik, walaupun membutuhkan modal yang besar. Diversifikasi mampu  mengurangi risiko investasi.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Pandemi COVID-19 masih berlangsung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) juga belum kembali ke posisi seperti tahun lalu sebelum Novel Coronavirus menguasai dunia.

Namun, di setiap situasi, investor dapat terus mencari strategi untuk berinvestasi. Saat harga saham masih rendah seperti sekarang, dapat menjadi waktu bagi investor untuk membeli.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?
Saham yang mengalami potensi kerugian sejak awal tahun bisa menjadi simpanan untuk jangka panjang. Di mana, yang bisa direalisasikan menjadi keuntungan di depan ketika IHSG kembali ke posisi sebelum pandemi.

Saham-saham apa yang bisa dibeli investor saat ini?

Seperti yang disampaikan oleh sejumlah pengelola keuangan, mulailah dengan saham-saham blue chip yang risikonya relatif lebih kecil. Saham blue chip juga merupakan saham perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang baik.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Miliki 3 Juta Investor, Transaksi Harian Pasar Modal RI Tertinggi di Asean
Sehingga, walaupun emiten blue chip ini terdampak pandemi, akan lebih cepat mengalami recovery. Tentunya sektor usaha ikut mempengaruhi saham mana yang lebih dahulu mengalamirecovery.

Blue chip bisa diartikan sebagai saham lapis satu atau saham dari perusahaan besar yang kinerja keuangannya stabil. Istilah blue chip berasal dari permainan kartu poker. Saat bermain poker, ada tiga keping koin (chip), yaitu yang berwarna merah, putih, dan biru. Yang warna biru nilainya paling besar di antara yang lain.Sehingga, sahambluechip merupakan saham dari perusahaan besar yang kinerja keuangan, termasuk labanya, relatifstabil. Besar dan stabil itu dilihat dari besarnya modal dan aset perusahaan, serta kapitalisasi pasarnya.

Kapitalisasi pasar adalah harga saham perusahaan yang tercantum di bursa, dikalikan dengan jumlah lembar saham yang beredar di pasar.Ada banyak pandangan terkait pengkategorian besar kecilnya kapitalisasi pasar. Salah satunya, kapitalisasi pasar yang besar ada dikategorikan pada kisaran Rp10 triliun ke atas.Sedangkan, jika kapitalisasinya antara Rp500 miliar hingga Rp10 triliun, maka sahamnya dikategorikan sebagai saham lapis dua, dan untuk Rp500 miliar ke bawah, disebut saham lapis ketiga.

Bicara soal keunggulannya, meski terlihat kuat, bukan berarti blue chip pasti untung. Saham-saham yang ada di lapis kedua dan lapis ketiga juga memiliki potensi keuntungan. Namun, secara risiko, blue chip bisa dikatakan relatif lebih aman dari yang lain. Sebab, risiko fluktuasi nilainya lebih rendah ketimbang saham lapis dua dan tiga. Saham lapis dua atau tiga harganya cenderung lebih murah, dan terkadang ada masa-masa di mana valuasi saham lapis dua meningkat signifikan.

Harga saham blue chip per lembar sahamnya relatif lebih tinggi dibanding saham-saham di lapis kedua dan ketiga. Untuk itu, modal yang dibutuhkan untuk berinvestasi di saham blue chip juga relatif lebih tinggi. Oleh sebab itu, disaat ini ketika harga-harga saham sedang turun, investor memiliki kesempatan untuk mengoleksi saham-saham blue chipdengan harga lebih terjangkau.

Saham blue chip juga umumnya sudah lama tercatat di bursa. Faktor jangka waktu bisa membuat sebuah perusahaan mengalami peningkatan laba dan perkembangan yang signifikan. Tetapi, tidak semua saham yang sudah lama tercatat di bursa ujug-ujug menjadi saham blue chip.
&amp;lt;iframe width=&quot;560&quot; height=&quot;315&quot; src=&quot;https://www.youtube.com/embed/Ek9cDNHjYWQ&quot; frameborder=&quot;0&quot; allow=&quot;accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;Likuiditas saham menjadi indikator berikutnya. Maksud dari likuid  adalah banyak diperdagangkan, atau banyak investor perorangan atau  lembaga yang memiliki dan memperdagangkan saham ini. Saham-saham  kategori blue chip juga biasanya masuk ke daftar saham teraktif yang  diperdagangkan di bursa. Di BEI, ada indeks saham LQ45. Indeks saham ini  berisi 45 saham yang paling likuid. Rata-rata saham blue chip ada di  indeks tersebut. Tapi bukan berarti semua yang di LQ45 itu blue chip.

Bisa saja ada saham yang saat itu karena sektornya lagi ramai,  sehingga banyak ditransaksikan, dan bukan karena laba perusahaannya  sedang menanjak. Konstituen saham yang masuk perhitungan indeks LQ45  direviu setiap enam bulan sekali. Jadi, bisa ada saham yang saat ini ada  dalam daftar LQ45, dan ada yang kemudian berganti.

Untuk membayangkan perusahaan seperti apa yang masuk kategori saham  blue chip, investor dapat melihat tolak ukurnya dari 20 emiten yang  paling banyak disebut sebagai emiten blue chip dalam riset-riset yang  dibuat perusahaan sekuritas yang dipublikasikan oleh media massa.Contoh  20 saham tersebut, antara lain, perusahaan sektor konstruksi Adhi Karya  (Persero) Tbk (ADHI), perusahaan semen, Semen Indonesia Tbk  (SMGR),sektor petambangan, yaitu Adaro Energy Tbk (ADRO), Aneka Tambang  Tbk (ANTM) dan Bumi Resource Tbk (BUMI), perusahaan logistik AKR  Corporindo Tbk (AKRA), grup usaha otomotif Astra International Tbk  (ASII). Selain itu, sektor makanan, Indofood CBP Sukses Makmur Tbk  (ICBP), sektor kimia, Barito Pasific Tbk (BRPT), sektor telekomunikasi,  Telekomunikasi Indonesia Persero Tbk (TLKM), sektor alat berat United  Tractors Tbk (UNTR), sektor rokok, Gudang Garam Tbk (GGRM) dan HM  Sampoerna Tbk (HMSP). Sektor properti diwakili oleh Bumi Serpong Damai  Tbk (BSDE), sektor media massa, Global Mediacom Tbk (BMTR). Yang paling  banyak adalah sektor perbankan,antara lain, Bank Central Asa Tbk (BBCA),  Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI),  Bank Tabungan Negara Persero Tbk (BBTN), dan Bank Mandiri Persero Tbk  (BMRI). Sebagian besar saham-saham ini ada di daftar saham LQ45.

Ketika hendak memilih saham-saham blue chip ini, pastikan investor  juga memahami sektor usaha masing-masing. Investor juga perlu  melihatkembali tujuan investasi saham. Belilah saham untuk tujuan  investasi jangka panjang untuk meminimalkan risiko investasi. Semakin  banyak jenis saham yang dipilih (prinsip diversifikasi) juga semakin  baik, walaupun membutuhkan modal yang besar. Diversifikasi mampu  mengurangi risiko investasi.</content:encoded></item></channel></rss>
