<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>IMF: Krisis Ekonomi Gegara Covid-19 Tak Seburuk Perkiraan tapi...</title><description>International Moneter Fund (IMF) menyatakan bahwa krisis ekonomi 2020  akibat virus Corona atau Covid-19 tak seburuk yang diprediksi.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi"/><item><title>IMF: Krisis Ekonomi Gegara Covid-19 Tak Seburuk Perkiraan tapi...</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi</guid><pubDate>Rabu 07 Oktober 2020 10:43 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi-tShpctd4X3.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Grafik ekonomi (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/07/320/2289688/imf-krisis-ekonomi-gegara-covid-19-tak-seburuk-perkiraan-tapi-tShpctd4X3.jpg</image><title>Grafik ekonomi (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - International Moneter Fund (IMF) menyatakan bahwa krisis ekonomi 2020 akibat virus Corona atau Covid-19 tak seburuk yang diprediksi. Walaupun begitu, pemulihan ekonomi suatu negara menjadi pendakian yang cukup sulit.

&quot;Krisis ekonomi tahun 2020 mungkin tidak seburuk yang diperkirakan IMF, tetapi jalan ke depan akan menjadi &quot;pendakian yang sulit,&quot; kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva seperti dilansir dari CNBC, Rabu (7/10/2020).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ramalan Bank Dunia: Ekonomi Kawasan Asia Pasifik Tumbuh 0,9%, Terendah sejak 1967
Dia mencontohkan, awalnya IMF memproyeksikan pada Juni 2020 terjadi kontraksi sebesar 4,9% dalam PDB global. Namun, ekonomi global pada akhirnya berkinerja lebih baik daripada ekspektasi IMF pada kuartal kedua dan ketiga.

&amp;ldquo;Gambaran hari ini tidak terlalu mengerikan. Kami sekarang memperkirakan bahwa perkembangan pada kuartal kedua dan ketiga agak lebih baik dari yang diharapkan,&amp;rdquo; kata Georgieva.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Sebut Covid-19 Menggerus Ekonomi Global USD8,8 Triliun
Dia menjelaskan bahwa kinerja yang lebih baik dari perkiraan berasal dari langkah kebijakan yang luar biasa yang dijalankan seluruh negara di berbagai belahan dunia.

&amp;ldquo;Pemerintah telah memberikan sekitar USD 12 triliun dukungan fiskal kepada rumah tangga dan perusahaan. Dan tindakan kebijakan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mempertahankan aliran kredit, membantu jutaan perusahaan untuk tetap berbisnis,&amp;rdquo; katanya.

Di sisi lain, kebijakan itu pun akan menimbulkan dampak berupa meningkatnya utang pemerintah. Diprediksi, utang publik global akan mencapai rekor tertinggi 100% dari PDB tahun ini.&amp;ldquo;Risiko tetap tinggi, termasuk dari meningkatnya kebangkrutan dan  valuasi yang meningkat di pasar keuangan. Dan banyak negara menjadi  lebih rentan. Tingkat utang mereka meningkat karena respons fiskal  mereka terhadap krisis dan kerugian besar pada output dan pendapatan,&amp;rdquo;  katanya.

Meski begitu, lanjut dia, IMF tak mengharapkan ekonomi global kembali  ke tingkat sebelum krisis dalam jangka menengah. Namun, ketidakpastian  kapan berakhirnya pandemi ini membuat ke depannya diramalkan bakal  semakin sulit.

&amp;ldquo;Tapi bencana ini masih jauh dari selesai. Pendakian panjang, sulit dan cenderung mengalami kemunduran,&amp;rdquo; ujarnya.

Menurut dia, krisis ekonomi bisa bertambah parah bila jumlah  penderita pandemi di dunia terus mengalami peningkatan. &quot;Tapi bisa juga  bertambah parah, apalagi jika terjadi peningkatan wabah parah yang  signifikan,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - International Moneter Fund (IMF) menyatakan bahwa krisis ekonomi 2020 akibat virus Corona atau Covid-19 tak seburuk yang diprediksi. Walaupun begitu, pemulihan ekonomi suatu negara menjadi pendakian yang cukup sulit.

&quot;Krisis ekonomi tahun 2020 mungkin tidak seburuk yang diperkirakan IMF, tetapi jalan ke depan akan menjadi &quot;pendakian yang sulit,&quot; kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva seperti dilansir dari CNBC, Rabu (7/10/2020).
 
&amp;nbsp;Baca juga: Ramalan Bank Dunia: Ekonomi Kawasan Asia Pasifik Tumbuh 0,9%, Terendah sejak 1967
Dia mencontohkan, awalnya IMF memproyeksikan pada Juni 2020 terjadi kontraksi sebesar 4,9% dalam PDB global. Namun, ekonomi global pada akhirnya berkinerja lebih baik daripada ekspektasi IMF pada kuartal kedua dan ketiga.

&amp;ldquo;Gambaran hari ini tidak terlalu mengerikan. Kami sekarang memperkirakan bahwa perkembangan pada kuartal kedua dan ketiga agak lebih baik dari yang diharapkan,&amp;rdquo; kata Georgieva.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Sri Mulyani Sebut Covid-19 Menggerus Ekonomi Global USD8,8 Triliun
Dia menjelaskan bahwa kinerja yang lebih baik dari perkiraan berasal dari langkah kebijakan yang luar biasa yang dijalankan seluruh negara di berbagai belahan dunia.

&amp;ldquo;Pemerintah telah memberikan sekitar USD 12 triliun dukungan fiskal kepada rumah tangga dan perusahaan. Dan tindakan kebijakan moneter yang belum pernah terjadi sebelumnya telah mempertahankan aliran kredit, membantu jutaan perusahaan untuk tetap berbisnis,&amp;rdquo; katanya.

Di sisi lain, kebijakan itu pun akan menimbulkan dampak berupa meningkatnya utang pemerintah. Diprediksi, utang publik global akan mencapai rekor tertinggi 100% dari PDB tahun ini.&amp;ldquo;Risiko tetap tinggi, termasuk dari meningkatnya kebangkrutan dan  valuasi yang meningkat di pasar keuangan. Dan banyak negara menjadi  lebih rentan. Tingkat utang mereka meningkat karena respons fiskal  mereka terhadap krisis dan kerugian besar pada output dan pendapatan,&amp;rdquo;  katanya.

Meski begitu, lanjut dia, IMF tak mengharapkan ekonomi global kembali  ke tingkat sebelum krisis dalam jangka menengah. Namun, ketidakpastian  kapan berakhirnya pandemi ini membuat ke depannya diramalkan bakal  semakin sulit.

&amp;ldquo;Tapi bencana ini masih jauh dari selesai. Pendakian panjang, sulit dan cenderung mengalami kemunduran,&amp;rdquo; ujarnya.

Menurut dia, krisis ekonomi bisa bertambah parah bila jumlah  penderita pandemi di dunia terus mengalami peningkatan. &quot;Tapi bisa juga  bertambah parah, apalagi jika terjadi peningkatan wabah parah yang  signifikan,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
