<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Besar Kecilnya Penghasilan Bukan Alasan Tak Bisa Menabung</title><description>Tidak sedikit orang yang mengeluhkan, sudah lama bekerja, menerima penghasilan tapi tidak juga memiliki tabungan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung"/><item><title>Besar Kecilnya Penghasilan Bukan Alasan Tak Bisa Menabung</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung</guid><pubDate>Rabu 07 Oktober 2020 12:38 WIB</pubDate><dc:creator>Safira Fitri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung-7FHuW9XBgd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/07/622/2289750/besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung-7FHuW9XBgd.jpg</image><title>Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Tidak sedikit orang yang mengeluhkan, sudah lama bekerja, menerima penghasilan tapi tidak juga memiliki tabungan. Sebenarnya, bukan masalah berapa lama atau bahkan berapa puluh tahun lama bekerja.
Melainkan, yang harusnya lebih dipahami adalah bagaimana mengelola penghasilan tersebut. Kemana saja alokasi dana penghasilan yang didapat? Apakah kebutuhan prioritas sudah lebih dulu terpenuhi?
Baca Juga:&amp;nbsp;Menabung saat Resesi, 5 Mindset Ini Wajib Dihilangkan&amp;nbsp;
Seperti dilansir dari buku Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga: Panduan Bagi Ibu Rumah Tangga oleh Wahyuni Indriyani, Jakarta, Selasa (6/10/2020), terdapat contoh kasus nyata seorang pekerja yang telah bekerja di perusahaan farmasi selama 6 tahun.
Ia bekerja dengan memegang jabatan sebagai kepala laboratorium dan memiliki gaji yang lumayan besar setiap bulannya. Namun, disadari bahwa selama bertahun-tahun bekerja, ia sama sekali tidak memiliki tabungan.
Baca Juga: Korban PHK Harus Move On, Yuk Coba Merintis Bisnis
Uang di rekening banknya selalu saja nyaris habis setiap bulannya. Sebenarnya ia sudah pernah bertekad untuk menabung namun dirinya selalu tidak dapat menahan diri dari hasrat belanja setiap melihat tanda sale atau diskon di mall atau di marketplace androidnya.
Selain itu juga terdapat sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan rutin setiap bulannya. Namun jika uang direkeningnya tidak mencukupi, ia dengan mudahnya menggesek kartu kredit untuk memenuhi hal tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Fenomena seperti inilah yang banyak terjadi, terutama pada seseorang  yang masih lajang atau belum menikah. Sudah lama bekerja namun tidak  punya tabungan. Hal lain yang menjadi penyebab juga kurangnya motivasi,  belum memiliki kewajiban untuk menafkahi, menganggap menabung itu tidak  terlalu penting, terlalu banyak keinginan, dan sikap yang selalu  menunda.
Namun, penghasilan bisa saja terlalu besar atau pun terlalu kecil.  Hal tersebut tergantung dari mana memandang dan bagaimana membandingkan  antara usaha dengan hasil yang diterima.
Pasalnya, nominal tidak bisa dijadikan parameter apakah penghasilan  terlalu besar atau kecil. Pola hidup dan emosilah yang menentukan cukup  atau kurang dengan apa yang telah dimiliki.
Jika berada seperti pada kasus di atas, janganlah mengabaikan  pengeluaran dan pemasukan yang kecil. Mulailah memberi perhatian pada  pemasukan dan pengeluaran yang kecil, sebab pemasukan kecil bisa  mendukung dan berpartisipasi dalam kekayaan pribadi.</description><content:encoded>JAKARTA - Tidak sedikit orang yang mengeluhkan, sudah lama bekerja, menerima penghasilan tapi tidak juga memiliki tabungan. Sebenarnya, bukan masalah berapa lama atau bahkan berapa puluh tahun lama bekerja.
Melainkan, yang harusnya lebih dipahami adalah bagaimana mengelola penghasilan tersebut. Kemana saja alokasi dana penghasilan yang didapat? Apakah kebutuhan prioritas sudah lebih dulu terpenuhi?
Baca Juga:&amp;nbsp;Menabung saat Resesi, 5 Mindset Ini Wajib Dihilangkan&amp;nbsp;
Seperti dilansir dari buku Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga: Panduan Bagi Ibu Rumah Tangga oleh Wahyuni Indriyani, Jakarta, Selasa (6/10/2020), terdapat contoh kasus nyata seorang pekerja yang telah bekerja di perusahaan farmasi selama 6 tahun.
Ia bekerja dengan memegang jabatan sebagai kepala laboratorium dan memiliki gaji yang lumayan besar setiap bulannya. Namun, disadari bahwa selama bertahun-tahun bekerja, ia sama sekali tidak memiliki tabungan.
Baca Juga: Korban PHK Harus Move On, Yuk Coba Merintis Bisnis
Uang di rekening banknya selalu saja nyaris habis setiap bulannya. Sebenarnya ia sudah pernah bertekad untuk menabung namun dirinya selalu tidak dapat menahan diri dari hasrat belanja setiap melihat tanda sale atau diskon di mall atau di marketplace androidnya.
Selain itu juga terdapat sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan rutin setiap bulannya. Namun jika uang direkeningnya tidak mencukupi, ia dengan mudahnya menggesek kartu kredit untuk memenuhi hal tersebut.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8wOC8yMi80LzEyMjIzNi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;Fenomena seperti inilah yang banyak terjadi, terutama pada seseorang  yang masih lajang atau belum menikah. Sudah lama bekerja namun tidak  punya tabungan. Hal lain yang menjadi penyebab juga kurangnya motivasi,  belum memiliki kewajiban untuk menafkahi, menganggap menabung itu tidak  terlalu penting, terlalu banyak keinginan, dan sikap yang selalu  menunda.
Namun, penghasilan bisa saja terlalu besar atau pun terlalu kecil.  Hal tersebut tergantung dari mana memandang dan bagaimana membandingkan  antara usaha dengan hasil yang diterima.
Pasalnya, nominal tidak bisa dijadikan parameter apakah penghasilan  terlalu besar atau kecil. Pola hidup dan emosilah yang menentukan cukup  atau kurang dengan apa yang telah dimiliki.
Jika berada seperti pada kasus di atas, janganlah mengabaikan  pengeluaran dan pemasukan yang kecil. Mulailah memberi perhatian pada  pemasukan dan pengeluaran yang kecil, sebab pemasukan kecil bisa  mendukung dan berpartisipasi dalam kekayaan pribadi.</content:encoded></item></channel></rss>
