<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>20 Tahun Bisnis Keripik Singkong Mulai Goyang akibat Covid-19</title><description>Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir berdampak pada sentra usaha pengrajin keripik singkong di Dusun Krajan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19"/><item><title>20 Tahun Bisnis Keripik Singkong Mulai Goyang akibat Covid-19</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19</guid><pubDate>Selasa 13 Oktober 2020 13:52 WIB</pubDate><dc:creator>Eddie Prayitno</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19-sYVTCgFd9q.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keripik Singkong (Foto: Kaskus)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/13/455/2292857/20-tahun-bisnis-keripik-singkong-mulai-goyang-akibat-covid-19-sYVTCgFd9q.jpg</image><title>Keripik Singkong (Foto: Kaskus)</title></images><description>KENDAL - Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir berdampak pada sentra usaha pengrajin keripik singkong di Dusun Krajan. Selain pesanan yang terus menurun drastis, sejumlah pengrajin terpaksa menghentikan usahanya karena barang yang diproduksi tidak terjual.
Di samping itu, salah satu pengrajin keripik singkong di Dusun Krajan yang masih bertahan ialah usaha milik Rubiah. Bersama sang suami dan anaknya, Rubiah yang telah berusia 52 tahun, merintis usaha ceriping singkong jumbo untuk memutar roda perekonomian keluarga.
Baca Juga: Begini Cara Mengatur Keuangan saat Indonesia Resesi
 
Namun dengan adanya pandemi, usaha yang telah dirintisnya selama 20 tahun ini pun mulai goyah, hingga beberapa pekan ini produksi keripik singkong miliknya terpaksa berhenti total karena tidak ada pesanan.
Padahal, sebelum menyebarnya wabah virus Covid-19, setiap hari warga asli Dusun Krajan tersebut mampu memproduksi keripik singkong hingga satu ton.
Baca Juga: Jelang Resesi, Mulai Nabung 10% dari Gaji Buat Dana Darurat
 
&quot;Sekarang satu hari hanya produksi 3 kuintal keripik singkong. Itu kalau ada pesanan dari para pelanggan,&quot; kata dia, Selasa (13/10/2020).
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wNS82LzEyMzEwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sementara, untuk keripik singkong jumbo yang diproduksinya memiliki rasa gurih dan renyah. Di jual dengan harga Rp20.000 per kilonya.
Biasanya, jajanan ini diambil langsung oleh sejumlah pedagang dari berbagai wilayah seperti Semarang, Solo, Jogjakarta, hingga Bandung.</description><content:encoded>KENDAL - Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir berdampak pada sentra usaha pengrajin keripik singkong di Dusun Krajan. Selain pesanan yang terus menurun drastis, sejumlah pengrajin terpaksa menghentikan usahanya karena barang yang diproduksi tidak terjual.
Di samping itu, salah satu pengrajin keripik singkong di Dusun Krajan yang masih bertahan ialah usaha milik Rubiah. Bersama sang suami dan anaknya, Rubiah yang telah berusia 52 tahun, merintis usaha ceriping singkong jumbo untuk memutar roda perekonomian keluarga.
Baca Juga: Begini Cara Mengatur Keuangan saat Indonesia Resesi
 
Namun dengan adanya pandemi, usaha yang telah dirintisnya selama 20 tahun ini pun mulai goyah, hingga beberapa pekan ini produksi keripik singkong miliknya terpaksa berhenti total karena tidak ada pesanan.
Padahal, sebelum menyebarnya wabah virus Covid-19, setiap hari warga asli Dusun Krajan tersebut mampu memproduksi keripik singkong hingga satu ton.
Baca Juga: Jelang Resesi, Mulai Nabung 10% dari Gaji Buat Dana Darurat
 
&quot;Sekarang satu hari hanya produksi 3 kuintal keripik singkong. Itu kalau ada pesanan dari para pelanggan,&quot; kata dia, Selasa (13/10/2020).
&amp;nbsp;&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wNS82LzEyMzEwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Sementara, untuk keripik singkong jumbo yang diproduksinya memiliki rasa gurih dan renyah. Di jual dengan harga Rp20.000 per kilonya.
Biasanya, jajanan ini diambil langsung oleh sejumlah pedagang dari berbagai wilayah seperti Semarang, Solo, Jogjakarta, hingga Bandung.</content:encoded></item></channel></rss>
