<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Covid-19 Catat Sejarah Baru Ritel Modern, Mal Tutup 3 Bulan</title><description>kerugian terus dialami pengusaha mal setelah Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/16/320/2294820/covid-19-catat-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/16/320/2294820/covid-19-catat-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan"/><item><title>Covid-19 Catat Sejarah Baru Ritel Modern, Mal Tutup 3 Bulan</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/16/320/2294820/covid-19-catat-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/16/320/2294820/covid-19-catat-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan</guid><pubDate>Jum'at 16 Oktober 2020 17:08 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/16/320/2294820/covid-19-bikin-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan-UYgFFpd1SW.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pengusaha Mal Ungkap Kerugian Selama Covid-19. (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/16/320/2294820/covid-19-bikin-sejarah-baru-ritel-modern-mal-tutup-3-bulan-UYgFFpd1SW.jpg</image><title>Pengusaha Mal Ungkap Kerugian Selama Covid-19. (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi pengusaha mal sepanjang pandemi Covid-19. Menurut Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja, kerugian terus dialami setelah Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020.
&quot;Pandemi ini membuat sejarah baru bagi industri ritel modern di Indonesia. Pasalnya pusat perbelanjaan (mal) mengalami penutupan hingga 3 bulan dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah guna menekan transmisi virus,&quot; ujar dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (16/10/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Ada Demo UU Ciptaker, Mal Grand Indonesia Tutup Lebih Cepat
Dia menjelaskan, sekalipun pemerintah telah kembali mengizinkan mal beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan, akan tetapi sektor ini belum bisa pulih.
&quot;Karena tekanan terus terjadi disepanjang pandemi, mulai dari daya beli hingga penurunan tingkat kunjungan,&quot; ungkap dia.
Baca Juga:&amp;nbsp;PSBB Transisi Bisa Kembalikan Pekerja yang Sempat Dirumahkan
Dia menambahkan, kehati-hatian terhadap Covid-19 sangat tinggi terjadi pada masyarakat kelas menengah ke atas, membuat tingkat kunjungan ke mal pun sangat rendah.
&quot;Padahal masyarakat kelas ini yang daya belinya cukup terjaga saat pandemi. Di sisi lain, masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki tingkat kehati-hatian yang lebih rendah terhadap Covid-19, sehingga kunjungan ke mal memang cukup tinggi. Tapi, masyarakat kelas ini memiliki kemampuan daya beli yang cukup lemah,&quot; tandas dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengungkapkan beberapa tantangan yang dihadapi pengusaha mal sepanjang pandemi Covid-19. Menurut Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja, kerugian terus dialami setelah Covid-19 masuk ke Indonesia pada Maret 2020.
&quot;Pandemi ini membuat sejarah baru bagi industri ritel modern di Indonesia. Pasalnya pusat perbelanjaan (mal) mengalami penutupan hingga 3 bulan dengan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilakukan pemerintah guna menekan transmisi virus,&quot; ujar dia dalam diskusi virtual di Jakarta, Jumat (16/10/2020).
Baca Juga:&amp;nbsp;Ada Demo UU Ciptaker, Mal Grand Indonesia Tutup Lebih Cepat
Dia menjelaskan, sekalipun pemerintah telah kembali mengizinkan mal beroperasi dengan penerapan protokol kesehatan, akan tetapi sektor ini belum bisa pulih.
&quot;Karena tekanan terus terjadi disepanjang pandemi, mulai dari daya beli hingga penurunan tingkat kunjungan,&quot; ungkap dia.
Baca Juga:&amp;nbsp;PSBB Transisi Bisa Kembalikan Pekerja yang Sempat Dirumahkan
Dia menambahkan, kehati-hatian terhadap Covid-19 sangat tinggi terjadi pada masyarakat kelas menengah ke atas, membuat tingkat kunjungan ke mal pun sangat rendah.
&quot;Padahal masyarakat kelas ini yang daya belinya cukup terjaga saat pandemi. Di sisi lain, masyarakat kelas menengah ke bawah memiliki tingkat kehati-hatian yang lebih rendah terhadap Covid-19, sehingga kunjungan ke mal memang cukup tinggi. Tapi, masyarakat kelas ini memiliki kemampuan daya beli yang cukup lemah,&quot; tandas dia.</content:encoded></item></channel></rss>
