<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bisnis Kripik Kelapa Online, Mila Cicipi Rp15 Juta Selama Pandemi</title><description>Berbagai sektor usaha terdampak signifikan sejak mewabahnya pandemi Covid-19, termasuk para pelaku UMKM.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi"/><item><title>Bisnis Kripik Kelapa Online, Mila Cicipi Rp15 Juta Selama Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi</guid><pubDate>Selasa 20 Oktober 2020 22:08 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi-wxAzpJoQm7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keripik Kelapa (Foto: Subhan/Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/20/455/2296605/bisnis-kripik-kelapa-online-mila-cicipi-rp15-juta-selama-pandemi-wxAzpJoQm7.jpg</image><title>Keripik Kelapa (Foto: Subhan/Okezone)</title></images><description>MANADO - Berbagai sektor usaha terdampak signifikan sejak mewabahnya pandemi Covid-19, termasuk para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tak jarang banyak dari mereka yang mengalami penurunan pemasukan hingga kehabisan modal usaha.
Namun, pandemi Covid-19 tak membuat seorang pelaku UMKM asal Manado, Mila Amelia (43) patah semangat. Pemilik UMKM Dapur Aisyah ini justru meraup untung besar dari jualan keripik kelapa secara online.
Baca Juga: Terkuak, Ini Kontribusi UMKM bagi Perekonomian Indonesia
 
Mila sebelumnya memproduksi sambal roa dan abon ikan cakalang. Di awal tahun 2020, dia mulai mencoba membuat keripik kelapa dan berani lempar kepasaran pas mulai Covid-19. Dan mendapat respons yang sangat baik dari masyarakat, sayangnya ketika pandemi melanda, penjualan anjlok bahkan tidak ada permintaan sama sekali.&amp;nbsp;
&quot;Memang berpengaruh secara offline, menurun sampai 80%, dibeberapa toko oleh-oleh semenjak Covid-19 tidak ada permintaan sama sekali kepada kami,&quot; ujar Mila, Selasa (20/10/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wNS82LzEyMzEwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia kemudian merubah strategi, berjualan secara online dengan menawarkan berbagai diskon. Justru dengan strategi itulah, penjualannya meningkat tajam. Perbulan dia bisa memproduksi 200 sampai 300 bungkus keripik kentang.&amp;nbsp;
&quot;Tergantung permintaan, kalau memang ada permintaan lebih banyak kita produksi lebih. Omzet rata-rata Rp15 juta per bulan,&quot; kata Dia.
Pembeli keripik kelapa sendiri bukan hanya berasal dari Manado saja,  permintaan datang paling banyak datang dari Jakarta, ada juga dari  Sumatera, Kalimantan, bahkan dari Merauke dia sudah memiliki pelanggan.
&quot;Justru sebelum PSBB itulah puncak dari penghasilan saya selama berjualan online. Justru meningkat secara online,&quot; terang dia.
Keripik kelapa buatannya menggunakan bahan baku yang melimpah di  Sulawesi Utara yakni kelapa. Untuk membuat keripik kelapa, dia memakai  kelapa yang masih mengkal.
&quot;Selama ini hanya dimanfaatkan kelapa muda untuk klapertart dan  kelapa tua untuk VCO, maka saya memanfaatkan kelapa mengkal untuk buat  keripik,&quot; tambahnya.
Keripik kelapa buatan Mila diberi nama Badonci yang artinya menari.  Pemberian nama Badonci menurutnya sedikit untuk mengedukasi bahwa  badonci merupakan bahasa Manado yang artinya menari
&quot;Secara tidak langsung, turis yang membawa oleh-oleh ini teredukasi bahasa Manado, badonci itu adalah,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>MANADO - Berbagai sektor usaha terdampak signifikan sejak mewabahnya pandemi Covid-19, termasuk para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tak jarang banyak dari mereka yang mengalami penurunan pemasukan hingga kehabisan modal usaha.
Namun, pandemi Covid-19 tak membuat seorang pelaku UMKM asal Manado, Mila Amelia (43) patah semangat. Pemilik UMKM Dapur Aisyah ini justru meraup untung besar dari jualan keripik kelapa secara online.
Baca Juga: Terkuak, Ini Kontribusi UMKM bagi Perekonomian Indonesia
 
Mila sebelumnya memproduksi sambal roa dan abon ikan cakalang. Di awal tahun 2020, dia mulai mencoba membuat keripik kelapa dan berani lempar kepasaran pas mulai Covid-19. Dan mendapat respons yang sangat baik dari masyarakat, sayangnya ketika pandemi melanda, penjualan anjlok bahkan tidak ada permintaan sama sekali.&amp;nbsp;
&quot;Memang berpengaruh secara offline, menurun sampai 80%, dibeberapa toko oleh-oleh semenjak Covid-19 tidak ada permintaan sama sekali kepada kami,&quot; ujar Mila, Selasa (20/10/2020).
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8wNS82LzEyMzEwMi8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia kemudian merubah strategi, berjualan secara online dengan menawarkan berbagai diskon. Justru dengan strategi itulah, penjualannya meningkat tajam. Perbulan dia bisa memproduksi 200 sampai 300 bungkus keripik kentang.&amp;nbsp;
&quot;Tergantung permintaan, kalau memang ada permintaan lebih banyak kita produksi lebih. Omzet rata-rata Rp15 juta per bulan,&quot; kata Dia.
Pembeli keripik kelapa sendiri bukan hanya berasal dari Manado saja,  permintaan datang paling banyak datang dari Jakarta, ada juga dari  Sumatera, Kalimantan, bahkan dari Merauke dia sudah memiliki pelanggan.
&quot;Justru sebelum PSBB itulah puncak dari penghasilan saya selama berjualan online. Justru meningkat secara online,&quot; terang dia.
Keripik kelapa buatannya menggunakan bahan baku yang melimpah di  Sulawesi Utara yakni kelapa. Untuk membuat keripik kelapa, dia memakai  kelapa yang masih mengkal.
&quot;Selama ini hanya dimanfaatkan kelapa muda untuk klapertart dan  kelapa tua untuk VCO, maka saya memanfaatkan kelapa mengkal untuk buat  keripik,&quot; tambahnya.
Keripik kelapa buatan Mila diberi nama Badonci yang artinya menari.  Pemberian nama Badonci menurutnya sedikit untuk mengedukasi bahwa  badonci merupakan bahasa Manado yang artinya menari
&quot;Secara tidak langsung, turis yang membawa oleh-oleh ini teredukasi bahasa Manado, badonci itu adalah,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
