<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setahun Jokowi-Ma'ruf, Orang Kaya Banyak Simpan Uang di Bank</title><description>Ada yang menarik pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo  (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang genap 1 tahun.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank"/><item><title>Setahun Jokowi-Ma'ruf, Orang Kaya Banyak Simpan Uang di Bank</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank</guid><pubDate>Selasa 20 Oktober 2020 09:34 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank-sRQSosUN9z.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Rupiah (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/20/622/2296397/setahun-jokowi-ma-ruf-orang-kaya-banyak-simpan-uang-di-bank-sRQSosUN9z.jpg</image><title>Rupiah (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Ada yang menarik pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo  (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang genap 1 tahun. Di mana,  jatuh pada hari ini di tanggal 20 Oktober 2020.
Salah satunya orang kaya banyak menabung di perbankan. Sementara itu masyarakat miskin tidak memiliki cukup tabungan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Saat Covid-19, Dana Orang Tajir Tersimpan Rapi di Perbankan
Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan ketimpangan semakin meningkat  karena orang kaya terus menabung di bank dengan lebih sedikit  membelanjakan uangnya.
&quot;Pasca pandemi ketimpangan aset makin melebar,&quot; kata Bhima saat dihubungi,  Jakarta, Selasa (20/10/2020). 
 
&amp;nbsp;Baca juga: PR Besar Inklusi Keuangan Indonesia
Dia melanjutkan, Neraca dagang mengalami surplus dalam 5 bulan  berturut-turut (Mei-September 2020), tapi surplus yang semu ini  merupakan indikasi buruk bagi ekonomi karena lebih disebabkan oleh total  impor yang terkontraksi -18,1%. Secara spesifik impor bahan baku dan  barang modal yang paling menurun karena industri manufaktur alami  tekanan.
&quot;Impor barang konsumsi juga tertekan sebesar -9,3% dari awal tahun  hingga September. Jadi kinerja perdagangan masih perlu dikritisi karena  ekspor mengalami penurunan -5,81% sepanjang Januari-September 2020,&quot;  katanya.
Dia menambahkan inflasi terlalu rendah karena tekanan daya beli  masyarakat. Deflasi bahkan terjadi dalam beberapa bulan dengan inflasi  inti (core inflation) hanya 1,86% per September 2020. Inflasi yang  rendah berakibat pada harga jual barang yang tidak sesuai dengan ongkos  produksi dari produsen.
&quot;Bahkan tidak sedikit yang menawarkan harga diskon agar stok tahun  sebelumnya bisa habis terjual. Dalam jangka panjang jika inflasi tetap  rendah maka produsen akan alami kerugian bahkan terancam berhenti  beroperasi,&quot; tandasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Ada yang menarik pada Pemerintahan Presiden Joko Widodo  (Jokowi) dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin yang genap 1 tahun. Di mana,  jatuh pada hari ini di tanggal 20 Oktober 2020.
Salah satunya orang kaya banyak menabung di perbankan. Sementara itu masyarakat miskin tidak memiliki cukup tabungan.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Saat Covid-19, Dana Orang Tajir Tersimpan Rapi di Perbankan
Ekonom Indef Bhima Yudistira mengatakan ketimpangan semakin meningkat  karena orang kaya terus menabung di bank dengan lebih sedikit  membelanjakan uangnya.
&quot;Pasca pandemi ketimpangan aset makin melebar,&quot; kata Bhima saat dihubungi,  Jakarta, Selasa (20/10/2020). 
 
&amp;nbsp;Baca juga: PR Besar Inklusi Keuangan Indonesia
Dia melanjutkan, Neraca dagang mengalami surplus dalam 5 bulan  berturut-turut (Mei-September 2020), tapi surplus yang semu ini  merupakan indikasi buruk bagi ekonomi karena lebih disebabkan oleh total  impor yang terkontraksi -18,1%. Secara spesifik impor bahan baku dan  barang modal yang paling menurun karena industri manufaktur alami  tekanan.
&quot;Impor barang konsumsi juga tertekan sebesar -9,3% dari awal tahun  hingga September. Jadi kinerja perdagangan masih perlu dikritisi karena  ekspor mengalami penurunan -5,81% sepanjang Januari-September 2020,&quot;  katanya.
Dia menambahkan inflasi terlalu rendah karena tekanan daya beli  masyarakat. Deflasi bahkan terjadi dalam beberapa bulan dengan inflasi  inti (core inflation) hanya 1,86% per September 2020. Inflasi yang  rendah berakibat pada harga jual barang yang tidak sesuai dengan ongkos  produksi dari produsen.
&quot;Bahkan tidak sedikit yang menawarkan harga diskon agar stok tahun  sebelumnya bisa habis terjual. Dalam jangka panjang jika inflasi tetap  rendah maka produsen akan alami kerugian bahkan terancam berhenti  beroperasi,&quot; tandasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
