<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jaga Daya Beli Masyarakat RI dengan BLT Cs</title><description>Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani  menilai rendahnya inflasi pada tahun ini disebabkan oleh masih lemahnya permintaan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs"/><item><title>Jaga Daya Beli Masyarakat RI dengan BLT Cs</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs</guid><pubDate>Kamis 22 Oktober 2020 20:16 WIB</pubDate><dc:creator>Rina Anggraeni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs-LGqupUlfzP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/22/320/2298020/jaga-daya-beli-masyarakat-ri-dengan-blt-cs-LGqupUlfzP.jpg</image><title>Uang Rupiah (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani  menilai rendahnya inflasi pada tahun ini disebabkan oleh masih lemahnya permintaan. Di sisi konsumsi memang terjadi penurunan akibat pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2020.
Rinciannya, konsumsi masyarakat pada kuartal II lalu mengalami kontraksi lebih dari 5,5% sehingga membuat ekonomi turun. Pada saat bersamaan konsumsi pemerintah juga mengalami tekanan hingga 6,9%.
Baca Juga: Jokowi Minta Inflasi Jangan Terlalu Rendah, Kenapa?
 
&quot;Oleh karena itu, dalam tugas kita di 2020, dengan dilihat angka inflasi lebih lemah atau rendah dari ditargetkan, itu menggambarkan bahwa sisi permintaan perlu harus didorong,&quot; kata dia dalam diskusi virtual, Kamis (22/10/2020).&amp;nbsp;
Saat ini pemerintah melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dengan total alokasi anggaran mencapai Rp695,2 triliun, program PEN sudah terealisasi sebesar Rp344,43 triliun atau 49,5% untuk mendorong permintaan.
&quot;Pelaksanaan program PEN yang sangat menentukan tidak hanya sisi daya beli masyarakat yang pada akhirnya diterjemahkan dalam bentuk konsumsi. Namun juga dari sisi ekonomi dunia usaha, yaitu dari sisi investasi,&quot; jelas dia.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMC8zMS8xLzExNzAwMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia menambahkan, pemerintah memberikan berbagai insentif bagi dunia usaha termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam program PEN. Pemberian stimulus ini diharapkan bisa membantu upaya pemulihan ekonomi nasional dari dampak negatif pandemi covid-19.
&quot;Apabila demand mulai meningkat, maka kita juga harus berfokus pada sisi supply-nya. Sehingga pada akhirnya target inflasi akan tetap pada tingkat yang kita inginkan, yaitu yang memberikan insentif pada dunia usaha atau sektor produksi kerana adanya kepastian harga yang stabil, dan bagi sisi sektor permintaan karena mereka anggap daya belinya terjadi,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani  menilai rendahnya inflasi pada tahun ini disebabkan oleh masih lemahnya permintaan. Di sisi konsumsi memang terjadi penurunan akibat pandemi covid-19 yang terjadi di Indonesia sejak Maret 2020.
Rinciannya, konsumsi masyarakat pada kuartal II lalu mengalami kontraksi lebih dari 5,5% sehingga membuat ekonomi turun. Pada saat bersamaan konsumsi pemerintah juga mengalami tekanan hingga 6,9%.
Baca Juga: Jokowi Minta Inflasi Jangan Terlalu Rendah, Kenapa?
 
&quot;Oleh karena itu, dalam tugas kita di 2020, dengan dilihat angka inflasi lebih lemah atau rendah dari ditargetkan, itu menggambarkan bahwa sisi permintaan perlu harus didorong,&quot; kata dia dalam diskusi virtual, Kamis (22/10/2020).&amp;nbsp;
Saat ini pemerintah melaksanakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Dengan total alokasi anggaran mencapai Rp695,2 triliun, program PEN sudah terealisasi sebesar Rp344,43 triliun atau 49,5% untuk mendorong permintaan.
&quot;Pelaksanaan program PEN yang sangat menentukan tidak hanya sisi daya beli masyarakat yang pada akhirnya diterjemahkan dalam bentuk konsumsi. Namun juga dari sisi ekonomi dunia usaha, yaitu dari sisi investasi,&quot; jelas dia.&amp;nbsp;
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAxOC8xMC8zMS8xLzExNzAwMC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Dia menambahkan, pemerintah memberikan berbagai insentif bagi dunia usaha termasuk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dalam program PEN. Pemberian stimulus ini diharapkan bisa membantu upaya pemulihan ekonomi nasional dari dampak negatif pandemi covid-19.
&quot;Apabila demand mulai meningkat, maka kita juga harus berfokus pada sisi supply-nya. Sehingga pada akhirnya target inflasi akan tetap pada tingkat yang kita inginkan, yaitu yang memberikan insentif pada dunia usaha atau sektor produksi kerana adanya kepastian harga yang stabil, dan bagi sisi sektor permintaan karena mereka anggap daya belinya terjadi,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
