<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Solusi Bagi Perusahaan Tercatat yang Terdampak Pandemi</title><description>Capital Market Seminar Expo (CMSE) 2020 virtual berlangsung pada 19 &amp;ndash; 24 Oktober 2020.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/26/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/26/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi"/><item><title>Solusi Bagi Perusahaan Tercatat yang Terdampak Pandemi</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/26/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/26/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi</guid><pubDate>Senin 26 Oktober 2020 06:01 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Fajar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/23/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi-EvH0Jv2tYH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">saham (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/23/278/2298417/solusi-bagi-perusahaan-tercatat-yang-terdampak-pandemi-EvH0Jv2tYH.jpg</image><title>saham (Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Capital Market Seminar Expo (CMSE) 2020 virtual berlangsung pada 19 &amp;ndash; 24 Oktober 2020. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan literasi serta inklusi masyarakat terhadap Pasar Modal Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), menyelenggarakan acara CMSE 2020 sebagai rangkaian dari peringatan 43 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?
CMSE 2020 dikemas dalam format serangkaian kegiatan seminar (Summit) dan pameran (Expo) Pasar Modal Indonesia, sebagai sarana untuk menampilkan peran dan fungsi dari seluruh lembaga, profesi, produk, dan layanan di Pasar Modal Indonesia kepada para stakehoders dan publik. Acara dibuka dengan laporan kegiatan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada Opening Ceremony CMSE 2020.

Sebagai pembuka di CMSE 2020, Ketua Dewan Komisioner  OJK Wimboh Santoso memaparkan tiga upaya yang dilakukan otoritas untuk menjadikan aktivitas investasi di pasar modal dapat berkontribusi bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Pertama, memperluas akses keuangan dan mempermudah investasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Miliki 3 Juta Investor, Transaksi Harian Pasar Modal RI Tertinggi di Asean
&quot;Yang terpenting adalah memperluas basis player-nya. Basis investor dan issuer diperbesar jadi tidak tergantung pada sekelompok investor besar saja,&quot; ujar Wimboh dalam paparannya secara virtual.

Yang kedua menurut Wimboh, mempermudah proses memperoleh pendanaan dari pasar modal. Dimana beberapa upaya yang memudahkan pendanaan pasar modal adalah dibuatkannya papan akselerasi untuk Usaha Kecil Menengah, equitycrowdfunding, dan perizinan elektronik terintegrasi.  Ketiga, meningkatkan perlindungan investor untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Menurut Wimboh, regulator akan berupaya membuat kebijakan penanangan fluktuasi pasar, penguatan market conduct dan GCG, serta pengaturan disgorgement fund.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada CMSE 2020 kali ini kegiatan pameran para stakeholders pasar modal, seminar, dan kegiatan edukasi serta sosialisasi pasar modal seluruhnya dilakukan dengan sistem daring alias virtual, selama enam hari berturut-turut. Dalam CMSE 2020, setiap harinya dilaksanakan 2-3 sesi kegiatan seminar dan talk show menghadirkan narasumber di bidang pasar modal. CMSE 2020 ini juga bertujuan mendukung pencapaian target penambahan jumlah Perusahaan Tercatat baru maupun nilai penggalangan dana di Pasar Modal Indonesia. CMSE 2020 ini ditargetkan akan diikuti oleh 10.000 orang peserta yang terdiri dari calon investor, investor, Perusahaan Tercatat, dan calon Perusahaan Tercatat, serta menjadi ajang bertemunya seluruh stakeholders di pasar modal dan masyarakat umum secara virtual.

CMSE 2020 menggunakan aplikasi berbasis website, pada alamat cmse.id, yang dibangun khusus sesuai dengan kebutuhan pengunjung yang akan menghadiri acara ini. Pengunjung dapat mengakses booth/expo secara virtual dan menyaksikan seminar yang sedang berlangsung alamat website CMSE. Kegiatan hari pertama adalah seminar utama hari pertama dengan tema &quot;Perkembangan Ekonomi Terkini dan Ketahanan Sektor Keuangan&quot;, dengan pembicara Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner OJK.

Seminar utama pada hari kedua mengambil tema &quot;Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional dan Ketahanan Sektor Riil&quot; yang akan disampaikan oleh Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Menteri Perindustrian. Selain seminar utama, pada acara CMSE 2020 juga terdapat kegiatan seminar dan talk show lainnya terkait investasi di pasar modal. Seminar dan talk show CMSE 2020 menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain tokoh dari Perusahaan Tercatat dan investor yang inspiratif, perencana keuangan, profesional, praktisi, dan figur publik di industri pasar modal.Kiat Perusahaan Tercatat Hadapi Pandemi

Salah satu pembahasan yang menarik dalam seminar CMSE hari ketiga  mengangkat tema Restrukturisasi dan Tindakan Korporasi di masa pandemi.  Salah satu pembicaranya adalah Melli Darsa WKU HKHPM, Bidang Eksternal  &amp;amp; Sr. Partner of Melli Darsa &amp;amp; Co. (Member of PwC). Melli  membagi katagori Perusahaan Tercatat di masa Pandemi COVID-19 menjadi  tiga kelompok dalam satu piramida.

Pertama, Perusahaan Tercatat katagori merah yang ada di bagian puncak  piramida dan jumlahnya paling sedikit. Ini adalah kelompok Perusahaan  Tercatat yangsangat terdampak oleh COVID-19 dengan cashflow perusahaan  sangat terganggu. Perusahaan ini membutuhkan likuiditas/PMN  dikombinasikan dengan aksi korporasi yang bisa berupa restrukturisasi  hutang atau perusahaan.

Kedua, Perusahaan Tercatat kategori kuning di bagian tengah piramida,  yang cukup terdampak oleh COVID-19. Perusahaan ini memilikicashflow  yang hanya mencukupi sebagian kebutuhan operasional sehingga membutuhkan  bantuan likuiditas namun belum tentu memerlukan restrukturisasi  perusahaan.
Ketiga, Perusahaan Tercatat katagori hijau di bagian bawah piramida  yang jumlahnya paling besar. Perusahaan-perusahaan yang memiliki  cashflow  masih mencukupi sehingga untuk menghadapi COVID-19 tidak  diperlukan aksi internal korporasi.

Ada empat opsi restrukturisasi yang dipaparkan oleh Melli Darsa.  Pertama, restrukturisasi untuk value creation. Bisa dilakukan melalui  tindakan KSO, Merger, Konsolidasi, Holding atau Sub-Holdingnisasi.  Kedua, restrukturisasi untuk perusahaan memiliki akses ke pasar modal  internasional. Dilakukan dengan cara menerbitkan Global bond, MTN,  Secured Notes, IPO, termasuk repayment dengan pengeluaran bond. Ketiga,  restrukturisasi utang buat Perusahaan Tercatat yang mengalami gangguan  cashflow, dengan cara  meminta loan rescheduling, Security Add dan Debt  to Equity Swap. Keempat, restrukturisasi dalam rangka menarik investor  baru, bisa dilakukan dengan cara akuisisi termasuk LBO. Perusahaan yang  ingin mengetahui secara detail tahapan yang harus dilakukan untuk  menjakankan opsi-opsi tersebut, beserta dasar-dasar hukumnya, bisa  mengakses secara detail pada materi yang ada di website CMSE.

Materi dalam pembahasan yang sama disajikan PT Pemeringkat Efek  Indonesia (PEFINDO). Salyadi Saputra, CEO PEFINDO memaparkan Tahapan  Restrukturisasi Surat Utang Perusahaan dan Dampak COVID-19 terhadap  Kinerja Surat Utang Perusahaan. PEFINDO membagi sektor usaha Perusahaan  Tercatat ke dalam lima golongan dilihat dari dampak yang dialami akibat  Pandemi COVID-19.

Beberapa sektor industri diperkirakan masih akan mengalami tekanan  seiring pandemi yang belum berakhir. Pertama adalah kelompok very high  yang terkena dampak terberat, yakni airport, tourism, restaurant, hotel   dan  transportation.

Kedua, sektor usaha yang dikatagorikan high, yaitu, Retail trade,  Building construction, Financial institutions, Coal mining, Crude  petroleum &amp;amp; natural gas, land and stone quarrying,  metal &amp;amp;  mineral mining, Non-building construction, Automotive &amp;amp; components,  Cement, Ceramics glass porcelain, Cosmetics and households, Electronics,  Fishery, Footwear, Textile &amp;amp; garment. Ketiga sektor usaha dalam  kelompok moderat yakni Banking, Advertising, printing, media, Houseware,  Tobacco manufacturers, Chemicals, Computer and services, machinery  &amp;amp; heavy equipment, metal &amp;amp; allied products, Wood industry, Pulp  &amp;amp; paper,  Other consumer goods, Plastic packaging  dan Toll road.  Keempat, kelompok dalam katagori Low yaitu, Food &amp;amp; beverages,  Wholesale durable &amp;amp; non-durable goods, Energy, Plantation, Crops,  Animal feed, Animal husbandry, Cable, Harbour.  Kelima, kelompok netral   atau yang paling kecil terkena dampak adalah Healthcare,Pharmaceuticals  dan Telecommunications.

Menurut catatan Pefindo, akibat COVID-19, jumlah perusahaan yang  telah diturunkan peringkatnya selama 1H2020 telah melampaui penurunan  peringkat di tahun 2019 sementara revisi pada outlook telah melampaui  hampir 5x dari tahun 2019. Pada tahun 2020 terjadi kenaikan tingkat  gagal bayar untuk peringkat A dan BBB, masing-masing naik menjadi 5,88%  dan 7,69%. Tingkat gagal bayar peringkat A dan BBB juga terjadi kenaikan  pada tahun 2020, masing-masing menjadi 2,80% dan 6,61%. Sementara itu,  untuk peringkat AA terjadi penurunan menjadi 0,34% di tahun 2020.

Adapun strategi yang disarankan Pefindo untuk dilakukan  perusahaan-perusahaan yang kinerjanya terkena dampak Pandemi COVID-19  adalah efisiensi belanja modal dan biaya operasional. Negosiasi dengan  vendor untuk keringanan pembayaran tagihan investasi selama pandemi.  Asset Sales meningkatkan aktivitas collection penjualan secara discount  restrukturisasi utang bank.Meminta support dari induk perusahaan/group  Sinergi BUMN dan mengusahakan PMN (Penanaman Modal Negara). Langkah  lainnya adalah penerbitan surat utang baru untuk menjaga cashflow  terutama untuk refinancing restrukturisasi surat utang. Langkah  detailnya bisa diunduh pada materi presentasi PEFINDO yang ada website  CMSE 2020. * (TIM BEI)</description><content:encoded>JAKARTA - Capital Market Seminar Expo (CMSE) 2020 virtual berlangsung pada 19 &amp;ndash; 24 Oktober 2020. Acara ini bertujuan untuk meningkatkan literasi serta inklusi masyarakat terhadap Pasar Modal Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), menyelenggarakan acara CMSE 2020 sebagai rangkaian dari peringatan 43 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Investor Pemula Manfaatkan Covid-19 Raup Cuan di Pasar Modal, Caranya?
CMSE 2020 dikemas dalam format serangkaian kegiatan seminar (Summit) dan pameran (Expo) Pasar Modal Indonesia, sebagai sarana untuk menampilkan peran dan fungsi dari seluruh lembaga, profesi, produk, dan layanan di Pasar Modal Indonesia kepada para stakehoders dan publik. Acara dibuka dengan laporan kegiatan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, yang dilanjutkan dengan sambutan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada Opening Ceremony CMSE 2020.

Sebagai pembuka di CMSE 2020, Ketua Dewan Komisioner  OJK Wimboh Santoso memaparkan tiga upaya yang dilakukan otoritas untuk menjadikan aktivitas investasi di pasar modal dapat berkontribusi bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Pertama, memperluas akses keuangan dan mempermudah investasi.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Miliki 3 Juta Investor, Transaksi Harian Pasar Modal RI Tertinggi di Asean
&quot;Yang terpenting adalah memperluas basis player-nya. Basis investor dan issuer diperbesar jadi tidak tergantung pada sekelompok investor besar saja,&quot; ujar Wimboh dalam paparannya secara virtual.

Yang kedua menurut Wimboh, mempermudah proses memperoleh pendanaan dari pasar modal. Dimana beberapa upaya yang memudahkan pendanaan pasar modal adalah dibuatkannya papan akselerasi untuk Usaha Kecil Menengah, equitycrowdfunding, dan perizinan elektronik terintegrasi.  Ketiga, meningkatkan perlindungan investor untuk menjaga kepercayaan masyarakat. Menurut Wimboh, regulator akan berupaya membuat kebijakan penanangan fluktuasi pasar, penguatan market conduct dan GCG, serta pengaturan disgorgement fund.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pada CMSE 2020 kali ini kegiatan pameran para stakeholders pasar modal, seminar, dan kegiatan edukasi serta sosialisasi pasar modal seluruhnya dilakukan dengan sistem daring alias virtual, selama enam hari berturut-turut. Dalam CMSE 2020, setiap harinya dilaksanakan 2-3 sesi kegiatan seminar dan talk show menghadirkan narasumber di bidang pasar modal. CMSE 2020 ini juga bertujuan mendukung pencapaian target penambahan jumlah Perusahaan Tercatat baru maupun nilai penggalangan dana di Pasar Modal Indonesia. CMSE 2020 ini ditargetkan akan diikuti oleh 10.000 orang peserta yang terdiri dari calon investor, investor, Perusahaan Tercatat, dan calon Perusahaan Tercatat, serta menjadi ajang bertemunya seluruh stakeholders di pasar modal dan masyarakat umum secara virtual.

CMSE 2020 menggunakan aplikasi berbasis website, pada alamat cmse.id, yang dibangun khusus sesuai dengan kebutuhan pengunjung yang akan menghadiri acara ini. Pengunjung dapat mengakses booth/expo secara virtual dan menyaksikan seminar yang sedang berlangsung alamat website CMSE. Kegiatan hari pertama adalah seminar utama hari pertama dengan tema &quot;Perkembangan Ekonomi Terkini dan Ketahanan Sektor Keuangan&quot;, dengan pembicara Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Dewan Komisioner OJK.

Seminar utama pada hari kedua mengambil tema &quot;Strategi Pemulihan Ekonomi Nasional dan Ketahanan Sektor Riil&quot; yang akan disampaikan oleh Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan Menteri Perindustrian. Selain seminar utama, pada acara CMSE 2020 juga terdapat kegiatan seminar dan talk show lainnya terkait investasi di pasar modal. Seminar dan talk show CMSE 2020 menghadirkan pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain tokoh dari Perusahaan Tercatat dan investor yang inspiratif, perencana keuangan, profesional, praktisi, dan figur publik di industri pasar modal.Kiat Perusahaan Tercatat Hadapi Pandemi

Salah satu pembahasan yang menarik dalam seminar CMSE hari ketiga  mengangkat tema Restrukturisasi dan Tindakan Korporasi di masa pandemi.  Salah satu pembicaranya adalah Melli Darsa WKU HKHPM, Bidang Eksternal  &amp;amp; Sr. Partner of Melli Darsa &amp;amp; Co. (Member of PwC). Melli  membagi katagori Perusahaan Tercatat di masa Pandemi COVID-19 menjadi  tiga kelompok dalam satu piramida.

Pertama, Perusahaan Tercatat katagori merah yang ada di bagian puncak  piramida dan jumlahnya paling sedikit. Ini adalah kelompok Perusahaan  Tercatat yangsangat terdampak oleh COVID-19 dengan cashflow perusahaan  sangat terganggu. Perusahaan ini membutuhkan likuiditas/PMN  dikombinasikan dengan aksi korporasi yang bisa berupa restrukturisasi  hutang atau perusahaan.

Kedua, Perusahaan Tercatat kategori kuning di bagian tengah piramida,  yang cukup terdampak oleh COVID-19. Perusahaan ini memilikicashflow  yang hanya mencukupi sebagian kebutuhan operasional sehingga membutuhkan  bantuan likuiditas namun belum tentu memerlukan restrukturisasi  perusahaan.
Ketiga, Perusahaan Tercatat katagori hijau di bagian bawah piramida  yang jumlahnya paling besar. Perusahaan-perusahaan yang memiliki  cashflow  masih mencukupi sehingga untuk menghadapi COVID-19 tidak  diperlukan aksi internal korporasi.

Ada empat opsi restrukturisasi yang dipaparkan oleh Melli Darsa.  Pertama, restrukturisasi untuk value creation. Bisa dilakukan melalui  tindakan KSO, Merger, Konsolidasi, Holding atau Sub-Holdingnisasi.  Kedua, restrukturisasi untuk perusahaan memiliki akses ke pasar modal  internasional. Dilakukan dengan cara menerbitkan Global bond, MTN,  Secured Notes, IPO, termasuk repayment dengan pengeluaran bond. Ketiga,  restrukturisasi utang buat Perusahaan Tercatat yang mengalami gangguan  cashflow, dengan cara  meminta loan rescheduling, Security Add dan Debt  to Equity Swap. Keempat, restrukturisasi dalam rangka menarik investor  baru, bisa dilakukan dengan cara akuisisi termasuk LBO. Perusahaan yang  ingin mengetahui secara detail tahapan yang harus dilakukan untuk  menjakankan opsi-opsi tersebut, beserta dasar-dasar hukumnya, bisa  mengakses secara detail pada materi yang ada di website CMSE.

Materi dalam pembahasan yang sama disajikan PT Pemeringkat Efek  Indonesia (PEFINDO). Salyadi Saputra, CEO PEFINDO memaparkan Tahapan  Restrukturisasi Surat Utang Perusahaan dan Dampak COVID-19 terhadap  Kinerja Surat Utang Perusahaan. PEFINDO membagi sektor usaha Perusahaan  Tercatat ke dalam lima golongan dilihat dari dampak yang dialami akibat  Pandemi COVID-19.

Beberapa sektor industri diperkirakan masih akan mengalami tekanan  seiring pandemi yang belum berakhir. Pertama adalah kelompok very high  yang terkena dampak terberat, yakni airport, tourism, restaurant, hotel   dan  transportation.

Kedua, sektor usaha yang dikatagorikan high, yaitu, Retail trade,  Building construction, Financial institutions, Coal mining, Crude  petroleum &amp;amp; natural gas, land and stone quarrying,  metal &amp;amp;  mineral mining, Non-building construction, Automotive &amp;amp; components,  Cement, Ceramics glass porcelain, Cosmetics and households, Electronics,  Fishery, Footwear, Textile &amp;amp; garment. Ketiga sektor usaha dalam  kelompok moderat yakni Banking, Advertising, printing, media, Houseware,  Tobacco manufacturers, Chemicals, Computer and services, machinery  &amp;amp; heavy equipment, metal &amp;amp; allied products, Wood industry, Pulp  &amp;amp; paper,  Other consumer goods, Plastic packaging  dan Toll road.  Keempat, kelompok dalam katagori Low yaitu, Food &amp;amp; beverages,  Wholesale durable &amp;amp; non-durable goods, Energy, Plantation, Crops,  Animal feed, Animal husbandry, Cable, Harbour.  Kelima, kelompok netral   atau yang paling kecil terkena dampak adalah Healthcare,Pharmaceuticals  dan Telecommunications.

Menurut catatan Pefindo, akibat COVID-19, jumlah perusahaan yang  telah diturunkan peringkatnya selama 1H2020 telah melampaui penurunan  peringkat di tahun 2019 sementara revisi pada outlook telah melampaui  hampir 5x dari tahun 2019. Pada tahun 2020 terjadi kenaikan tingkat  gagal bayar untuk peringkat A dan BBB, masing-masing naik menjadi 5,88%  dan 7,69%. Tingkat gagal bayar peringkat A dan BBB juga terjadi kenaikan  pada tahun 2020, masing-masing menjadi 2,80% dan 6,61%. Sementara itu,  untuk peringkat AA terjadi penurunan menjadi 0,34% di tahun 2020.

Adapun strategi yang disarankan Pefindo untuk dilakukan  perusahaan-perusahaan yang kinerjanya terkena dampak Pandemi COVID-19  adalah efisiensi belanja modal dan biaya operasional. Negosiasi dengan  vendor untuk keringanan pembayaran tagihan investasi selama pandemi.  Asset Sales meningkatkan aktivitas collection penjualan secara discount  restrukturisasi utang bank.Meminta support dari induk perusahaan/group  Sinergi BUMN dan mengusahakan PMN (Penanaman Modal Negara). Langkah  lainnya adalah penerbitan surat utang baru untuk menjaga cashflow  terutama untuk refinancing restrukturisasi surat utang. Langkah  detailnya bisa diunduh pada materi presentasi PEFINDO yang ada website  CMSE 2020. * (TIM BEI)</content:encoded></item></channel></rss>
