<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Daftar Laporan Keuangan BCA vs Bank BUMN, Mana yang Paling Jagoan?</title><description>Bank BTN, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BCA, Bank BRIsyariah, Bank BTPN dan Bank Permata sampaikan laporan keuangan</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan"/><item><title>Daftar Laporan Keuangan BCA vs Bank BUMN, Mana yang Paling Jagoan?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan</guid><pubDate>Rabu 28 Oktober 2020 17:13 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan-MQngTOB9D3.png" expression="full" type="image/jpeg">Laporan Keuangan Perbankan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/28/278/2300879/daftar-laporan-keuangan-bca-vs-bank-bumn-mana-yang-paling-jagoan-MQngTOB9D3.png</image><title>Laporan Keuangan Perbankan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Sejumlah perusahaan perbankan telah menyampaikan laporan keuangan pada kuartal III-2020. Berbagai perbankan pun mendapatkan hasil kinerja yang beragam di tengah kondisi pandemi Covid-19.
Beberapa perbankan  telah menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2020 di antaranya, Bank BTN, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BCA, Bank BRIsyariah, Bank BTPN dan Bank Permata.
1. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BBTN ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,12 triliun pada kuartal III-2020. Laba bersih tersebut melesat 39,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp801 miliar.
Laba bersih BTN ditopang oleh penurunan beban bunga dan efisiensi. Beban bunga BTN tercatat turun 3,49% menjadi Rp11,95 triliun pada kuartal III 2020. Strategi efisiensi yang dilakukan BTN juga menekan angka Cost to Income Ratio (CIR). Pada September 2020, CIR BTN turun 141 bps dari 57,13% pada September 2019 menjadi 55,72%.
Baca Juga:&amp;nbsp;7 Bank Gagal Belum Berdampak Sistemik
BTN mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 18,66% dari Rp230,35 triliun per kuartal III-2019 menjadi Rp273,33 triliun di periode yang sama tahun ini. Kenaikan DPK ikut menekan Loan to Deposit Ratio (LDR) ke level 93,26% di kuartal III 2020.
2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BMRI ini meraih laba bersih Rp14,02 triliun pada kuartal III-2020 (Juli-September). Perolehan laba tersebut lebih rendah 30,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp20,25 triliun.
Adapun penurunan laba bersih Bank Mandiri sejalan dengan pendapatan operasional yang turun menjadi Rp 62,97 triliun dari Rp64,96 triliun. Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi perseroan mencapai 14,92% secara tahunan, menjadi Rp1.024,2 triliun, di mana komposisi dana murah mencapai 61,9%.
Bank Mandiri pun mampu menjaga kinerja perseroan dengan pencapaian aset konsolidasi yang sebesar Rp1.407 triliun atau meningkat 10,27%. Rasio Non Performing Loan (NPL) secara gross masih terjaga di level 3,33%.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sebelum Corona Datang, 7 Bank Gagal Sudah Terseok-seok
Hal ini guna mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, bank pelat merah itu juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset.
3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BBNI ini meraih laba bersih Rp4,32 triliun hingga September 2020. Perolehan tersebut turun 63,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,97 triliun.
Pendapatan bunga bersih BNI minus 0,8%. Namun, situasi tersebut diimbangi dengan penurunan beban bunga 8%, sehingga net interest margin (NIM) terjaga di level 4,3%, Rasio kecukupan pencadangan (coverage ratio) BNI hingga kuartal III-2020 berada pada level 206,9 persen, lebih besar dibandingkan kuartal III-2019 yang sebesar 159,2%.
Selain itu, CASA BNI berada pada level 65,4% dengan cost of fund 2,86% atau membaik 30 bps dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 3,24%. Sementara penyaluran kredit BNI tumbuh 4,2% menjadi Rp582,4 triliun.


4. PT Bank Central Asia Tbk
Bank dengan kode emiten BBCA ini mencatatkan laba bersih kuartal III-2020 sebesar Rp20,0 triliun atau turun 4,2% dibandingkan dengan Rp20,9 triliun pada tahun sebelumnya disebabkan meningkatnya biaya pencadangan.
Dari sisi pendanaan, BCA berhasil mencatat kinerja yang solid pada sembilan bulan pertama 2020. CASA tumbuh 16,1% yoy mencapai Rp596,6 triliun dan menghasilkan total dana pihak ketiga dengan pertumbuhan sebesar 14,3% yoy menjadi Rp780,7 triliun.
Sementara itu, deposito berjangka meningkat sebesar 8,8% yoy mencapai Rp184,1 triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid tersebut telah mendukung pertumbuhan total aset BCA menembus level seribu triliun atau tepatnya Rp1.003,6 Triliun, meningkat 12,3% yoy.
5. PT Bank BRIsyariah Tbk
Bank dengan kode emiten BRIS ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang impresif pada kuartal III-2020 sebesar 238 persen menjadi Rp190,5 miliar dibandingkan kuartal III-2019. Di sisi aset, BRIsyariah tercatat sebesar Rp56 triliun pada kuartal III-2020, meningkat 51,40% dibandingkan kuartal III-2019.
Tidak hanya mencatat pertumbuhan laba, pertumbuhan pembiayaan dan dana murah Perseroan juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga kuartal III-2020 BRIsyariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp40 triliun, tumbuh mencapai 57,90% year-on-year (yoy). Pertumbuhan pembiayaan yang signifikan ditopang oleh segmen Ritel (SME, Mikro dan Konsumer) untuk memberikan imbal hasil yang lebih optimal.
Di sisi dana pihak ketiga (DPK), BRIsyariah mencatat pertumbuhan sebesar 72,7%. Dalam penghimpunan dana, BRIsyariah fokus dalam meningkatkan dana murah (CASA). Pada triwulan III 2020, BRIsyariah mampu meningkatkan CASA sebesar 135% yoy. Peningkatan CASA ini bertujuan agar BRIsyariah dapat mengendalikan biaya dana (Cost of Fund).
Penyaluran pembiayaan mikro BRIsyariah tercatat sebesar Rp10,9 triliun, tumbuh sebesar 185% year on year. Pembiayaan KUR yang masuk di segmen mikro mencatat pertumbuhan positif. Penyaluran KUR BRIsyariah di bulan September 2020 telah mencapai 95% dari target total di tahun 2020.6. PT Bank BTPN Tbk
Bank dengan kode emiten BTPN ini mencatatkan peningkatan biaya CKPN sebesar 84% menjadi Rp1,95 triliun. Selain itu, net interest income turun 2% menjadi Rp7,9 triliun dengan ada penurunan yield seiring penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan restrukturisasi kredit. Kenaikan biaya CKPN dan tekanan di pendapatan bunga bersih Bank menyebabkan laba bersih Bank turun sebesar 21 persen menjadi Rp1,5 triliun sepanjang periode Januari-September tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perseroan juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang sehat serta menjaga fundamental tetap baik pada akhir kuartal III-2020. Sepanjang kuartal III, BTPN menyalurkan kredit sebesar Rp148,8 triliun. Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh segmen korporasi yang meningkat 21% menjadi Rp 89,3 triliun pada akhir kuartal III-2020.
Selain itu, kualitas kredit Bank BTPN tetap terjaga sehat, tercermin dari gross NPL yang berada di level 1,10% pada akhir September 2020. Angka ini masih relatif rendah dibandingkan NPL industri perbankan yang pada akhir Agustus 2020 tercatat sebesar 3,22%. Dengan realisasi penyaluran kredit dan pendanaan tersebut, rasio likuiditas dan pendanaan berada di tingkat yang sehat, LCR (Liquidity Coverage Ratio) berada di 246,45%, sementara NSFR (Net Stable Funding Ratio) di 113,13% per posisi akhir September 2020.
7. PT Bank Permata Tbk
Bank dengan kode emiten BNLI ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp429,76 atau turun 60,67% dari perolehan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,09 triliun. Penurunan kinerja disebabkan menurunnya pendapatan bunga sebesar 2,59% menjadi Rp 8,43 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,65 triliun.
Bank Permata juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan sebesar Rp2,6 triliun atau tumbuh 20,4% year on year (yoy) didukung dengan posisi permodalan yang sangat kuat dan likuiditas yang terjaga optimal.
Sementara itu, posisi likuiditas bank terjaga dengan baik dengan rasio likuiditas Loan-to-Deposit Ratio (LDR) optimum sebesar 74,5% di bulan September 2020 dan rasio CASA (dana murah, current account and saving account) tercatat sebesar 50,8% atau meningkat 103 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Total dana simpanan masyarakat (dana pihak ketiga/DPK) tumbuh sebesar 11,1 persen yoy, kontribusi terbesar dari pertumbuhan produk giro sebesar 18,3%, diikuti oleh tabungan dan deposito masing-masing 8,2% dan 8,9% yoy.</description><content:encoded>JAKARTA - Sejumlah perusahaan perbankan telah menyampaikan laporan keuangan pada kuartal III-2020. Berbagai perbankan pun mendapatkan hasil kinerja yang beragam di tengah kondisi pandemi Covid-19.
Beberapa perbankan  telah menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2020 di antaranya, Bank BTN, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BCA, Bank BRIsyariah, Bank BTPN dan Bank Permata.
1. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BBTN ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp1,12 triliun pada kuartal III-2020. Laba bersih tersebut melesat 39,72% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp801 miliar.
Laba bersih BTN ditopang oleh penurunan beban bunga dan efisiensi. Beban bunga BTN tercatat turun 3,49% menjadi Rp11,95 triliun pada kuartal III 2020. Strategi efisiensi yang dilakukan BTN juga menekan angka Cost to Income Ratio (CIR). Pada September 2020, CIR BTN turun 141 bps dari 57,13% pada September 2019 menjadi 55,72%.
Baca Juga:&amp;nbsp;7 Bank Gagal Belum Berdampak Sistemik
BTN mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 18,66% dari Rp230,35 triliun per kuartal III-2019 menjadi Rp273,33 triliun di periode yang sama tahun ini. Kenaikan DPK ikut menekan Loan to Deposit Ratio (LDR) ke level 93,26% di kuartal III 2020.
2. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BMRI ini meraih laba bersih Rp14,02 triliun pada kuartal III-2020 (Juli-September). Perolehan laba tersebut lebih rendah 30,73% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp20,25 triliun.
Adapun penurunan laba bersih Bank Mandiri sejalan dengan pendapatan operasional yang turun menjadi Rp 62,97 triliun dari Rp64,96 triliun. Selain itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) konsolidasi perseroan mencapai 14,92% secara tahunan, menjadi Rp1.024,2 triliun, di mana komposisi dana murah mencapai 61,9%.
Bank Mandiri pun mampu menjaga kinerja perseroan dengan pencapaian aset konsolidasi yang sebesar Rp1.407 triliun atau meningkat 10,27%. Rasio Non Performing Loan (NPL) secara gross masih terjaga di level 3,33%.
Baca Juga:&amp;nbsp;Sebelum Corona Datang, 7 Bank Gagal Sudah Terseok-seok
Hal ini guna mengantisipasi potensi ketidakpastian ekonomi ke depan, bank pelat merah itu juga membangun pencadangan untuk memastikan terjaganya kualitas aset.
3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
Bank dengan kode emiten BBNI ini meraih laba bersih Rp4,32 triliun hingga September 2020. Perolehan tersebut turun 63,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp11,97 triliun.
Pendapatan bunga bersih BNI minus 0,8%. Namun, situasi tersebut diimbangi dengan penurunan beban bunga 8%, sehingga net interest margin (NIM) terjaga di level 4,3%, Rasio kecukupan pencadangan (coverage ratio) BNI hingga kuartal III-2020 berada pada level 206,9 persen, lebih besar dibandingkan kuartal III-2019 yang sebesar 159,2%.
Selain itu, CASA BNI berada pada level 65,4% dengan cost of fund 2,86% atau membaik 30 bps dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 3,24%. Sementara penyaluran kredit BNI tumbuh 4,2% menjadi Rp582,4 triliun.


4. PT Bank Central Asia Tbk
Bank dengan kode emiten BBCA ini mencatatkan laba bersih kuartal III-2020 sebesar Rp20,0 triliun atau turun 4,2% dibandingkan dengan Rp20,9 triliun pada tahun sebelumnya disebabkan meningkatnya biaya pencadangan.
Dari sisi pendanaan, BCA berhasil mencatat kinerja yang solid pada sembilan bulan pertama 2020. CASA tumbuh 16,1% yoy mencapai Rp596,6 triliun dan menghasilkan total dana pihak ketiga dengan pertumbuhan sebesar 14,3% yoy menjadi Rp780,7 triliun.
Sementara itu, deposito berjangka meningkat sebesar 8,8% yoy mencapai Rp184,1 triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga yang solid tersebut telah mendukung pertumbuhan total aset BCA menembus level seribu triliun atau tepatnya Rp1.003,6 Triliun, meningkat 12,3% yoy.
5. PT Bank BRIsyariah Tbk
Bank dengan kode emiten BRIS ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang impresif pada kuartal III-2020 sebesar 238 persen menjadi Rp190,5 miliar dibandingkan kuartal III-2019. Di sisi aset, BRIsyariah tercatat sebesar Rp56 triliun pada kuartal III-2020, meningkat 51,40% dibandingkan kuartal III-2019.
Tidak hanya mencatat pertumbuhan laba, pertumbuhan pembiayaan dan dana murah Perseroan juga mengalami peningkatan yang signifikan. Hingga kuartal III-2020 BRIsyariah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp40 triliun, tumbuh mencapai 57,90% year-on-year (yoy). Pertumbuhan pembiayaan yang signifikan ditopang oleh segmen Ritel (SME, Mikro dan Konsumer) untuk memberikan imbal hasil yang lebih optimal.
Di sisi dana pihak ketiga (DPK), BRIsyariah mencatat pertumbuhan sebesar 72,7%. Dalam penghimpunan dana, BRIsyariah fokus dalam meningkatkan dana murah (CASA). Pada triwulan III 2020, BRIsyariah mampu meningkatkan CASA sebesar 135% yoy. Peningkatan CASA ini bertujuan agar BRIsyariah dapat mengendalikan biaya dana (Cost of Fund).
Penyaluran pembiayaan mikro BRIsyariah tercatat sebesar Rp10,9 triliun, tumbuh sebesar 185% year on year. Pembiayaan KUR yang masuk di segmen mikro mencatat pertumbuhan positif. Penyaluran KUR BRIsyariah di bulan September 2020 telah mencapai 95% dari target total di tahun 2020.6. PT Bank BTPN Tbk
Bank dengan kode emiten BTPN ini mencatatkan peningkatan biaya CKPN sebesar 84% menjadi Rp1,95 triliun. Selain itu, net interest income turun 2% menjadi Rp7,9 triliun dengan ada penurunan yield seiring penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia dan restrukturisasi kredit. Kenaikan biaya CKPN dan tekanan di pendapatan bunga bersih Bank menyebabkan laba bersih Bank turun sebesar 21 persen menjadi Rp1,5 triliun sepanjang periode Januari-September tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perseroan juga berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang sehat serta menjaga fundamental tetap baik pada akhir kuartal III-2020. Sepanjang kuartal III, BTPN menyalurkan kredit sebesar Rp148,8 triliun. Pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh segmen korporasi yang meningkat 21% menjadi Rp 89,3 triliun pada akhir kuartal III-2020.
Selain itu, kualitas kredit Bank BTPN tetap terjaga sehat, tercermin dari gross NPL yang berada di level 1,10% pada akhir September 2020. Angka ini masih relatif rendah dibandingkan NPL industri perbankan yang pada akhir Agustus 2020 tercatat sebesar 3,22%. Dengan realisasi penyaluran kredit dan pendanaan tersebut, rasio likuiditas dan pendanaan berada di tingkat yang sehat, LCR (Liquidity Coverage Ratio) berada di 246,45%, sementara NSFR (Net Stable Funding Ratio) di 113,13% per posisi akhir September 2020.
7. PT Bank Permata Tbk
Bank dengan kode emiten BNLI ini mencatatkan laba bersih sebesar Rp429,76 atau turun 60,67% dari perolehan di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,09 triliun. Penurunan kinerja disebabkan menurunnya pendapatan bunga sebesar 2,59% menjadi Rp 8,43 triliun dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp8,65 triliun.
Bank Permata juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan sebesar Rp2,6 triliun atau tumbuh 20,4% year on year (yoy) didukung dengan posisi permodalan yang sangat kuat dan likuiditas yang terjaga optimal.
Sementara itu, posisi likuiditas bank terjaga dengan baik dengan rasio likuiditas Loan-to-Deposit Ratio (LDR) optimum sebesar 74,5% di bulan September 2020 dan rasio CASA (dana murah, current account and saving account) tercatat sebesar 50,8% atau meningkat 103 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Total dana simpanan masyarakat (dana pihak ketiga/DPK) tumbuh sebesar 11,1 persen yoy, kontribusi terbesar dari pertumbuhan produk giro sebesar 18,3%, diikuti oleh tabungan dan deposito masing-masing 8,2% dan 8,9% yoy.</content:encoded></item></channel></rss>
