<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Zaman Sudah Berubah, Urus Pertanian Tak Lagi Pakai Sinar Matahari</title><description>Kalangan milenial turut berkontribusi mengenai ketahanan pangan di masa depan.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari"/><item><title>Zaman Sudah Berubah, Urus Pertanian Tak Lagi Pakai Sinar Matahari</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari</guid><pubDate>Sabtu 31 Oktober 2020 18:37 WIB</pubDate><dc:creator>Aditya Pratama</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari-5zuud2auO0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Petani (Foto: Koran Sindo)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/10/31/320/2302088/zaman-sudah-berubah-urus-pertanian-tak-lagi-pakai-sinar-matahari-5zuud2auO0.jpg</image><title>Petani (Foto: Koran Sindo)</title></images><description>JAKARTA - Kalangan milenial turut berkontribusi mengenai ketahanan pangan di masa depan. Salah satu startup yang dibuat oleh milenial di sektor pertanian adalah Sentrafarm.
Co-founder Sentrafarm Mush'ab Nursantio mengatakan, Sentrafarm merupakan agritech startup, di mana pihaknya berfokus pada comercial vertical farming dan beberapa inovasi teknologi di agriculture. Tidak hanya itu, Sentrafarm juga berfokus di bisnis food &amp;amp; beverages (makanan dan minuman) dengan konsepnya menyerupai fast food restaurant di mana pihaknya mengenalkan produk-produk teknologi pangan ke masyarakat.
Baca Juga: FAO dan MNC Trijaya Gelar 'Food Heroes Day' di Tengah Pandemi
&quot;Sentrafarm ini latar belakang pendiriannya ingin mengaddress masalah global food system. Secara general kita melihat masalah demand and supply, di mana ada penambahan jumlah penduduk dan 80 persennya di tahun 2050 akan tinggal di urban area atau perkotaan,&quot; ujar Mush'ab dalam webinar Food Heroes Day, Sabtu (31/10/2020).
Dengan meningkatnya sisi demand dan supply, Mush'ab menyampaikan bahwa pihaknya melihat ada tantangan besar ke depan seperti perubahan iklim, degradasi lahan di mana hampir 40 persen lahan subur di dunia tidak produktif lagi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOC8xLzEyMzQ5NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Selain itu penggunaan resources seperti air di mana 70 persen fresh water global digunakan untuk pertanian
&quot;Ini kita lihat dengan teknologi industry vertical farming ini kita bisa menyelesaikan sebagian dari masalah tersebut, di mana dengan sistem ini kita bisa memproduksi 50 kali lebih banyak dikarenakan kita menggunakan artificial lightning, tidak menggunakan matahari tapi menggunakan panjang cahaya spektrum tertentu dengan menggunakan LED kita bisa menghemat space dengan menumpuk skalanya dengan vertikal,&quot; katanya.Dengan intensitas cahaya yang diterima jauh lebih banyak dibandingkan  pertanian konvensional, tanaman bisa panen jauh lebih cepat. Dari yang  biasanya konvensional pertanian membutuhkan waktu tiga bulan untuk  panen, di sistem ini hanya membutuhkan 25 sampai 30 hari.
&quot;Karena ini di tempat tertutup kita bisa control climatenya di mana  sangat aman, tidak menggunakan pestisida sama sekali dan airnya cycle di  mana kita menggunakan 95 kali lebih sedikit air dibanding pertanian  konvensional,&quot; ucapnya.
Selain itu, di Indonesia, menurutnya, memiliki masalah pada  regenerasi petani, di mana mayoritas petani menginginkan anak-anaknya  agar tidak menjadi petani nantinya.
&quot;Ini yang kita lihat sebagai salah satu yang bisa jadi solusi, yang  kita lihat dari tim internal kita sendiri, kita perusahaan pertanian  tapi yang lulusan pertanian cuma dua orang, kebanyakan engineer dan  software developer, ini yang sudah belajar pertanian malah kariernya di  bidang lain, ini kita yang jelas-jelas bidang lain malah kariernya di  pertanian. Ini salah satu benefit yang kita bisa lihat secara langsung,&quot;  tuturnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Kalangan milenial turut berkontribusi mengenai ketahanan pangan di masa depan. Salah satu startup yang dibuat oleh milenial di sektor pertanian adalah Sentrafarm.
Co-founder Sentrafarm Mush'ab Nursantio mengatakan, Sentrafarm merupakan agritech startup, di mana pihaknya berfokus pada comercial vertical farming dan beberapa inovasi teknologi di agriculture. Tidak hanya itu, Sentrafarm juga berfokus di bisnis food &amp;amp; beverages (makanan dan minuman) dengan konsepnya menyerupai fast food restaurant di mana pihaknya mengenalkan produk-produk teknologi pangan ke masyarakat.
Baca Juga: FAO dan MNC Trijaya Gelar 'Food Heroes Day' di Tengah Pandemi
&quot;Sentrafarm ini latar belakang pendiriannya ingin mengaddress masalah global food system. Secara general kita melihat masalah demand and supply, di mana ada penambahan jumlah penduduk dan 80 persennya di tahun 2050 akan tinggal di urban area atau perkotaan,&quot; ujar Mush'ab dalam webinar Food Heroes Day, Sabtu (31/10/2020).
Dengan meningkatnya sisi demand dan supply, Mush'ab menyampaikan bahwa pihaknya melihat ada tantangan besar ke depan seperti perubahan iklim, degradasi lahan di mana hampir 40 persen lahan subur di dunia tidak produktif lagi.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8xOC8xLzEyMzQ5NS8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Selain itu penggunaan resources seperti air di mana 70 persen fresh water global digunakan untuk pertanian
&quot;Ini kita lihat dengan teknologi industry vertical farming ini kita bisa menyelesaikan sebagian dari masalah tersebut, di mana dengan sistem ini kita bisa memproduksi 50 kali lebih banyak dikarenakan kita menggunakan artificial lightning, tidak menggunakan matahari tapi menggunakan panjang cahaya spektrum tertentu dengan menggunakan LED kita bisa menghemat space dengan menumpuk skalanya dengan vertikal,&quot; katanya.Dengan intensitas cahaya yang diterima jauh lebih banyak dibandingkan  pertanian konvensional, tanaman bisa panen jauh lebih cepat. Dari yang  biasanya konvensional pertanian membutuhkan waktu tiga bulan untuk  panen, di sistem ini hanya membutuhkan 25 sampai 30 hari.
&quot;Karena ini di tempat tertutup kita bisa control climatenya di mana  sangat aman, tidak menggunakan pestisida sama sekali dan airnya cycle di  mana kita menggunakan 95 kali lebih sedikit air dibanding pertanian  konvensional,&quot; ucapnya.
Selain itu, di Indonesia, menurutnya, memiliki masalah pada  regenerasi petani, di mana mayoritas petani menginginkan anak-anaknya  agar tidak menjadi petani nantinya.
&quot;Ini yang kita lihat sebagai salah satu yang bisa jadi solusi, yang  kita lihat dari tim internal kita sendiri, kita perusahaan pertanian  tapi yang lulusan pertanian cuma dua orang, kebanyakan engineer dan  software developer, ini yang sudah belajar pertanian malah kariernya di  bidang lain, ini kita yang jelas-jelas bidang lain malah kariernya di  pertanian. Ini salah satu benefit yang kita bisa lihat secara langsung,&quot;  tuturnya.</content:encoded></item></channel></rss>
