<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>UMKM Naik Kelas, Ini Bocorannya</title><description>Pemerintah  perlu segera merealisasikan pembentukan pusat satu data  Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ekosistem digital.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya"/><item><title>UMKM Naik Kelas, Ini Bocorannya</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya</guid><pubDate>Rabu 04 November 2020 12:52 WIB</pubDate><dc:creator>Michelle Natalia</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya-mewR7BbDKR.jpg" expression="full" type="image/jpeg">UMKM (Foto: Okezone.com)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/04/455/2303974/umkm-naik-kelas-ini-bocorannya-mewR7BbDKR.jpg</image><title>UMKM (Foto: Okezone.com)</title></images><description>JAKARTA - Pemerintah  perlu segera merealisasikan pembentukan pusat satu data Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ekosistem digital. Ini akan menjadi pintu masuk untuk pemberdayaan dan mendorong pelaku usaha agar dapat naik kelas guna mempercepat permulihan ekonomi di sektor tersebut.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, mengatakan pembentukan pusat satu data merupakan langkah yang tepat, untuk membangun ekosistem UMKM jauh lebih sehat dan termonitor setiap perkembangan dan pertumbuhan usahanya.
Baca Juga: Terdampak Covid-19, UMKM Tak Ingin Gaptek
 
&amp;ldquo;Membuat satu data bagi sektor usaha mikro, merupakan sebuah terobosan yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha UMKM. Karena dapat membantu kebutuhan dan persoalan-persoalan yang dihadapi UMKM dalam menumbuh kembangkan usahanya,&amp;rdquo; jelas Enny di Jakarta, Rabu (4/11/2020).
Menurut Enny, masalah UMKM di Indonesia selama ini adalah sulit untuk naik kelas. Hampir 99% tidak ada perubahan komposisi dari sektor ultra mikro, kecil dan menengah menengah. &amp;ldquo;Selama ini ada beberapa persoalan klasik yang melingkupi mereka, kemampuan tidak bisa naik kelas itu artinya kan&amp;hellip; tidak berkembang, stagnan, usaha hanya untuk bertahan saja,&amp;rdquo; tegas Enny.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8zMS80LzEyMzk0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Ada beberapa yang berkembang, tambahnya, tapi mereka tetap berada di sektor UKM karena fasilitas yang ada kebanyakan diberikan untuk yang skala besar. &amp;ldquo;Akibatnya UMKM  selalu tertinggal terus. Contohnya, pembiayaan KUR hanya untuk UKM, sementara yang besar dapatnya insentif fiskal, kemudahan ekspor dan impor,&quot; tambahnya.
Enny menilai hal ini perlu dievaluasi dan dipetakan kembali beberapa kebijakan pemerintah, termasuk salah satu yang diusulkan adalah melakukan redefinisi UKM dan IKM (industri kecil menengah).
&amp;ldquo;Kalau sekarang definisinya UKM di skala Rp5 miliar. Padahal untuk beli peralatan teknologi tinggi (modal kerja) saja saja sudah tidak mencukupi. Saat ini sedang disusun kebijakan turunan Omnibus Law, terkait kategori UMKM dan ultra mikro,&quot; tandasnya.Masalah lain yang membuat UMKM sulit naik kelas karena berbagai akses  yang  terbatas, seperti pembiayaan dan pasar. Karena tidak ada satu  pusat data UMKM, sehingga yang mendapatkan akses pembiayaan seringkali  dia lagi, dia lagi. Akses pasar juga begitu terkooptasi, karena dikuasai  satu jaringan konglomerasi besar.
&quot;Sehingga meski mereka dapat subsidi bunga dan bisa berproduksi,  kalau pasar terbatas KO (knock out) juga, tidak bisa berkembang. Ini  yang harus dilakukan perubahan ke depannya,&quot; imbuh Enny.
Enny menegaskan, UMKM ini serba terbatas. Untuk itu, harus dibangun  ekosistem yang bisa dimulai dengan adanya pusat satu data mengenai UMKM.  &amp;ldquo;Misal, BRI sudah kasih pembiayaan, nanti siapa yang bantu akses  pemasarannya, kemudian akses untuk meningkatkan mutu. Minimal membuat  kemasan yang baik untuk UMKM kita gar tidak kalah bersaing,&quot; ungkapnya.
Menurut Enny, pembentukan pusat satu data di sektor ultra mikro  pernah disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Pembuatan satu data  ini untuk mengintegrasikan ekosistem yang ada. &amp;ldquo;Istilahnya, jangan hanya  berikan masyarakat kecil kail, karena percuma jika ikannya tidak ada.  Makanya, harus dikasih juga ikannya. Lalu bagaimana agar ikannya tidak  langsung digoreng? Berilah kolam agar hidup dan berkembang. Nah, pusat  data ini menjadi pintu membuat kolam atau iklim usaha yang sehat bagi  UMKM,&quot; papar Enny.
Ekonom senior itu mengapresiasi Kementerian BUMN  berkomitmen untuk  mendukung para pelaku ultra mikro dan UMKM melalui tiga aspek utama  yaitu infrastruktur, pendanaan, dan akses pasar.
Sebelumnya  Erick mengatakan, terkait pendanaan, pihak kementerian  akan terus meningkatkan aksesnya melalui sinergi antar BUMN seperti PT  Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Pegadaian (Persero), dan PNM dijadikan  satu data bagi sektor usaha mikro (Umi).
Menurut Enny, selama ini sudah banyak komitmen BUMN kepada UMKM  seperti Pertamina, dan BUMN besar lainnya. Namun bentuknya masih sebatas  binaan yang disalurkan melalui corporate social responsibility (CSR),  seperti misalnya bantuan pendanaan, sarana dan prasarana, bukan  infrastruktur.
&quot;Padahal seharusnya BUMN bersinergi dan menyiasati dukungan untuk  UMKM dapat naik kelas dengan membangun teknologi digital dan  ekosistemnya,&quot; pungkasnya.</description><content:encoded>JAKARTA - Pemerintah  perlu segera merealisasikan pembentukan pusat satu data Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan ekosistem digital. Ini akan menjadi pintu masuk untuk pemberdayaan dan mendorong pelaku usaha agar dapat naik kelas guna mempercepat permulihan ekonomi di sektor tersebut.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati, mengatakan pembentukan pusat satu data merupakan langkah yang tepat, untuk membangun ekosistem UMKM jauh lebih sehat dan termonitor setiap perkembangan dan pertumbuhan usahanya.
Baca Juga: Terdampak Covid-19, UMKM Tak Ingin Gaptek
 
&amp;ldquo;Membuat satu data bagi sektor usaha mikro, merupakan sebuah terobosan yang sangat dibutuhkan oleh pelaku usaha UMKM. Karena dapat membantu kebutuhan dan persoalan-persoalan yang dihadapi UMKM dalam menumbuh kembangkan usahanya,&amp;rdquo; jelas Enny di Jakarta, Rabu (4/11/2020).
Menurut Enny, masalah UMKM di Indonesia selama ini adalah sulit untuk naik kelas. Hampir 99% tidak ada perubahan komposisi dari sektor ultra mikro, kecil dan menengah menengah. &amp;ldquo;Selama ini ada beberapa persoalan klasik yang melingkupi mereka, kemampuan tidak bisa naik kelas itu artinya kan&amp;hellip; tidak berkembang, stagnan, usaha hanya untuk bertahan saja,&amp;rdquo; tegas Enny.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMC8zMS80LzEyMzk0My8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;
Ada beberapa yang berkembang, tambahnya, tapi mereka tetap berada di sektor UKM karena fasilitas yang ada kebanyakan diberikan untuk yang skala besar. &amp;ldquo;Akibatnya UMKM  selalu tertinggal terus. Contohnya, pembiayaan KUR hanya untuk UKM, sementara yang besar dapatnya insentif fiskal, kemudahan ekspor dan impor,&quot; tambahnya.
Enny menilai hal ini perlu dievaluasi dan dipetakan kembali beberapa kebijakan pemerintah, termasuk salah satu yang diusulkan adalah melakukan redefinisi UKM dan IKM (industri kecil menengah).
&amp;ldquo;Kalau sekarang definisinya UKM di skala Rp5 miliar. Padahal untuk beli peralatan teknologi tinggi (modal kerja) saja saja sudah tidak mencukupi. Saat ini sedang disusun kebijakan turunan Omnibus Law, terkait kategori UMKM dan ultra mikro,&quot; tandasnya.Masalah lain yang membuat UMKM sulit naik kelas karena berbagai akses  yang  terbatas, seperti pembiayaan dan pasar. Karena tidak ada satu  pusat data UMKM, sehingga yang mendapatkan akses pembiayaan seringkali  dia lagi, dia lagi. Akses pasar juga begitu terkooptasi, karena dikuasai  satu jaringan konglomerasi besar.
&quot;Sehingga meski mereka dapat subsidi bunga dan bisa berproduksi,  kalau pasar terbatas KO (knock out) juga, tidak bisa berkembang. Ini  yang harus dilakukan perubahan ke depannya,&quot; imbuh Enny.
Enny menegaskan, UMKM ini serba terbatas. Untuk itu, harus dibangun  ekosistem yang bisa dimulai dengan adanya pusat satu data mengenai UMKM.  &amp;ldquo;Misal, BRI sudah kasih pembiayaan, nanti siapa yang bantu akses  pemasarannya, kemudian akses untuk meningkatkan mutu. Minimal membuat  kemasan yang baik untuk UMKM kita gar tidak kalah bersaing,&quot; ungkapnya.
Menurut Enny, pembentukan pusat satu data di sektor ultra mikro  pernah disampaikan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Pembuatan satu data  ini untuk mengintegrasikan ekosistem yang ada. &amp;ldquo;Istilahnya, jangan hanya  berikan masyarakat kecil kail, karena percuma jika ikannya tidak ada.  Makanya, harus dikasih juga ikannya. Lalu bagaimana agar ikannya tidak  langsung digoreng? Berilah kolam agar hidup dan berkembang. Nah, pusat  data ini menjadi pintu membuat kolam atau iklim usaha yang sehat bagi  UMKM,&quot; papar Enny.
Ekonom senior itu mengapresiasi Kementerian BUMN  berkomitmen untuk  mendukung para pelaku ultra mikro dan UMKM melalui tiga aspek utama  yaitu infrastruktur, pendanaan, dan akses pasar.
Sebelumnya  Erick mengatakan, terkait pendanaan, pihak kementerian  akan terus meningkatkan aksesnya melalui sinergi antar BUMN seperti PT  Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Pegadaian (Persero), dan PNM dijadikan  satu data bagi sektor usaha mikro (Umi).
Menurut Enny, selama ini sudah banyak komitmen BUMN kepada UMKM  seperti Pertamina, dan BUMN besar lainnya. Namun bentuknya masih sebatas  binaan yang disalurkan melalui corporate social responsibility (CSR),  seperti misalnya bantuan pendanaan, sarana dan prasarana, bukan  infrastruktur.
&quot;Padahal seharusnya BUMN bersinergi dan menyiasati dukungan untuk  UMKM dapat naik kelas dengan membangun teknologi digital dan  ekosistemnya,&quot; pungkasnya.</content:encoded></item></channel></rss>
