<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Resesi dan Daya Beli Lesu, Peritel: Jangan Ditambah Boikot Produk</title><description>Belakangan ini jagad dunia media sosial kian ramai menyerukan pemboikotan pembelian barang asal Prancis.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk"/><item><title>Resesi dan Daya Beli Lesu, Peritel: Jangan Ditambah Boikot Produk</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk</guid><pubDate>Kamis 05 November 2020 09:02 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk-NMMygkfIux.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Minimarket (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/05/320/2304449/resesi-dan-daya-beli-lesu-peritel-jangan-ditambah-boikot-produk-NMMygkfIux.jpg</image><title>Minimarket (Foto: Shutterstock)</title></images><description>JAKARTA - Belakangan ini jagad dunia media sosial kian ramai menyerukan pemboikotan pembelian barang asal Prancis. Hal tersebut menyusul adanya pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menghina umat Islam.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel seluruh Indonesia (APRINDO) Roy N Mandey mengaku khawatir bila gerakan itu kian masif, karena akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Tanah Air.  Pasalnya, banyak produk asal Prancis itu termasuk ke sektor ritel.
Baca Juga: Produk Prancis Diboikot, 4,5 Juta Pekerja di Sektor Ritel Terancam
 
&quot;Ya, saat ini memang belum memengaruhi, tapi mestinya jangan diperbesar, sehingga kalau jadi besar, maka akan memengaruhi,&quot; kata Roy kepada Okezone, Kamis (5/11/2020).
Apabila salah satu produk ritel ada yang diboikot, maka nantinya akan memengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga. Padahal, kini akibat pandemi Covid-19, nilainya pun sudah minus.
&quot;Sekarang saatnya lagi pandemi, ketika konsumsi kita rendah dan bahkan masih minus, jangan ditambah dengan hal-hal seperti ini,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMi82LzEyNDAwNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurut dia, bila angka konsumsi rumah tangga masih terkontraksi, maka bisa dipastikan perekonomian akan terus berada pada posisi minus. Sebab, sektor itu merupakan penyumbang terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
&quot;Kalau ini diboikot, akhirnya masyarakat tidak bisa membeli produk yang mereka butuh akan memengaruhi nilai konsumsi, ujungnya memengaruhi kesejahteraan masyarakat,&quot; kata dia.</description><content:encoded>JAKARTA - Belakangan ini jagad dunia media sosial kian ramai menyerukan pemboikotan pembelian barang asal Prancis. Hal tersebut menyusul adanya pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dinilai telah menghina umat Islam.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel seluruh Indonesia (APRINDO) Roy N Mandey mengaku khawatir bila gerakan itu kian masif, karena akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Tanah Air.  Pasalnya, banyak produk asal Prancis itu termasuk ke sektor ritel.
Baca Juga: Produk Prancis Diboikot, 4,5 Juta Pekerja di Sektor Ritel Terancam
 
&quot;Ya, saat ini memang belum memengaruhi, tapi mestinya jangan diperbesar, sehingga kalau jadi besar, maka akan memengaruhi,&quot; kata Roy kepada Okezone, Kamis (5/11/2020).
Apabila salah satu produk ritel ada yang diboikot, maka nantinya akan memengaruhi tingkat konsumsi rumah tangga. Padahal, kini akibat pandemi Covid-19, nilainya pun sudah minus.
&quot;Sekarang saatnya lagi pandemi, ketika konsumsi kita rendah dan bahkan masih minus, jangan ditambah dengan hal-hal seperti ini,&quot; ujarnya.
&amp;lt;div class=&quot;vicon&quot;&amp;gt;&amp;lt;iframe width=&quot;100%&quot; height=&quot;340&quot; src=&quot;https://video.okezone.com/embed/MjAyMC8xMS8wMi82LzEyNDAwNC8wLw==&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen&amp;gt;&amp;lt;/iframe&amp;gt;&amp;lt;/div&amp;gt;&amp;nbsp;
Menurut dia, bila angka konsumsi rumah tangga masih terkontraksi, maka bisa dipastikan perekonomian akan terus berada pada posisi minus. Sebab, sektor itu merupakan penyumbang terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
&quot;Kalau ini diboikot, akhirnya masyarakat tidak bisa membeli produk yang mereka butuh akan memengaruhi nilai konsumsi, ujungnya memengaruhi kesejahteraan masyarakat,&quot; kata dia.</content:encoded></item></channel></rss>
