<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>   RI Resesi Lagi sejak 1998, Begini Nasib Ekonomi di Akhir Tahun</title><description>Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus 3,49% secara yoy.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun"/><item><title>   RI Resesi Lagi sejak 1998, Begini Nasib Ekonomi di Akhir Tahun</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun</guid><pubDate>Jum'at 06 November 2020 13:57 WIB</pubDate><dc:creator>Kunthi Fahmar Shandy</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun-dKy6H5Pp2m.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Indonesia Resesi (Foto: Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/06/320/2305266/ri-resesi-lagi-sejak-1998-begini-nasib-ekonomi-di-akhir-tahun-dKy6H5Pp2m.jpg</image><title>Indonesia Resesi (Foto: Shutterstock)</title></images><description> 
JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus 3,49% secara yoy. Hal ini membuat Indonesia masuk resesi, setelah pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia minus 5,32%. Hal ini menegaskan Indonesia mengalami resesi pertama sejak krisis ekonomi 1997-1998.
Krisis karena pandemi covid-19 sangat merusak baik sisi permintaan maupun penawaran ekonomi. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai pemulihan ekonomi akan bertahap ke depannya.
&quot;Kami melihat perekonomian Indonesia akan terus berlanjut membaik di kuartal IV 2020 meskipun kontraksi ekonomi masih cenderung terjadi,&quot; kata Asmo saat dihubungi di Jakarta, Jumat (6/11/2020).
&amp;nbsp;
Akan tetapi, kontraksi diperkirakan akan mereda karena ekonomi telah mencapai titik terendah di kuartal II 2020 ketika PSBB ketat tingkat nasional dilaksanakan. Hal ini terlihat dari beberapa indikator utama yang menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Pertama adanya pelonggaran penerapan kembali PSBB sejak 20 Oktober di beberapa wilayah penting, termasuk wilayah Jabodetabek. &quot;Ini bisa meningkatkan transportasi dan aktivitas ritel. Investasi langsung dan perdagangan eksternal juga menguat,&quot; katanya.
Kedua, dukungan dari percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)  meski hingga kuartal III 2020 realisasinya masih di bawah 50%. Meski  begitu, menurut Asmo, jika gelombang kedua Pandemi terjadi maka akan  memaksa pemerintah Indonesia untuk memperketat kembali PSBB.
&quot;Tapi ekonomi pada kuartal IV 2020 kinerjanya tidak banyak berubah  dari kuartal III 2020. Dan risiko lain juga dapat muncul saat pemerintah  mencairkan paket stimulus tidak secepat yang diharapkan. Karenanya,  kami memperkirakan bahwa ekonomi dalam setahun penuh 2020 bisa kira-kira  berkisar dari -2,21% menjadi -1,50%,&quot; ujar dia.
Ke depan, Indonesia perlu mempertahankan beberapa tingkat PSBB sampai  vaksin Covid 19 tersedia tersedia secara luas. Bahkan ini bisa  berlangsung hingga semester I 2021 dan bisa memberikan beberapa  tantangan bagi perekonomian untuk hidup kembali lebih cepat.
Selain itu, Omnibus Law yang diharapkan dapat mendorong investasi  juga membutuhkan berbagai peraturan pelaksana sebelum diberlakukan  secara efektif. &quot;Dengan demikian kami memperkirakan ekonomi untuk  meningkat secara bertahap sebesar 4,43% pada tahun 2021,&quot; imbuhnya.</description><content:encoded> 
JAKARTA - Ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus 3,49% secara yoy. Hal ini membuat Indonesia masuk resesi, setelah pada kuartal II-2020 ekonomi Indonesia minus 5,32%. Hal ini menegaskan Indonesia mengalami resesi pertama sejak krisis ekonomi 1997-1998.
Krisis karena pandemi covid-19 sangat merusak baik sisi permintaan maupun penawaran ekonomi. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai pemulihan ekonomi akan bertahap ke depannya.
&quot;Kami melihat perekonomian Indonesia akan terus berlanjut membaik di kuartal IV 2020 meskipun kontraksi ekonomi masih cenderung terjadi,&quot; kata Asmo saat dihubungi di Jakarta, Jumat (6/11/2020).
&amp;nbsp;
Akan tetapi, kontraksi diperkirakan akan mereda karena ekonomi telah mencapai titik terendah di kuartal II 2020 ketika PSBB ketat tingkat nasional dilaksanakan. Hal ini terlihat dari beberapa indikator utama yang menunjukkan tanda-tanda perbaikan.
Pertama adanya pelonggaran penerapan kembali PSBB sejak 20 Oktober di beberapa wilayah penting, termasuk wilayah Jabodetabek. &quot;Ini bisa meningkatkan transportasi dan aktivitas ritel. Investasi langsung dan perdagangan eksternal juga menguat,&quot; katanya.
Kedua, dukungan dari percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)  meski hingga kuartal III 2020 realisasinya masih di bawah 50%. Meski  begitu, menurut Asmo, jika gelombang kedua Pandemi terjadi maka akan  memaksa pemerintah Indonesia untuk memperketat kembali PSBB.
&quot;Tapi ekonomi pada kuartal IV 2020 kinerjanya tidak banyak berubah  dari kuartal III 2020. Dan risiko lain juga dapat muncul saat pemerintah  mencairkan paket stimulus tidak secepat yang diharapkan. Karenanya,  kami memperkirakan bahwa ekonomi dalam setahun penuh 2020 bisa kira-kira  berkisar dari -2,21% menjadi -1,50%,&quot; ujar dia.
Ke depan, Indonesia perlu mempertahankan beberapa tingkat PSBB sampai  vaksin Covid 19 tersedia tersedia secara luas. Bahkan ini bisa  berlangsung hingga semester I 2021 dan bisa memberikan beberapa  tantangan bagi perekonomian untuk hidup kembali lebih cepat.
Selain itu, Omnibus Law yang diharapkan dapat mendorong investasi  juga membutuhkan berbagai peraturan pelaksana sebelum diberlakukan  secara efektif. &quot;Dengan demikian kami memperkirakan ekonomi untuk  meningkat secara bertahap sebesar 4,43% pada tahun 2021,&quot; imbuhnya.</content:encoded></item></channel></rss>
