<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Joe Biden Jadi Presiden, Bagaimana Masa Depan Energi AS?</title><description>Joe Biden diproyeksikan memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) dan siap dilantik bersama wakil presiden terpilihnya.</description><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://economy.okezone.com/read/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as"/><item><title>Joe Biden Jadi Presiden, Bagaimana Masa Depan Energi AS?</title><link>https://economy.okezone.com/read/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as</link><guid isPermaLink="false">https://economy.okezone.com/read/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as</guid><pubDate>Minggu 08 November 2020 17:40 WIB</pubDate><dc:creator>Djairan</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as-p4qXm8x3lm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kilang (Shutterstock)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/11/08/320/2306245/joe-biden-jadi-presiden-bagaimana-masa-depan-energi-as-p4qXm8x3lm.jpg</image><title>Kilang (Shutterstock)</title></images><description>WASHINGTON - Joe Biden diproyeksikan memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) dan siap dilantik bersama wakil presiden terpilih Kamala Harris pada Januari 2021. Kepemimpinannya akan menghadapi tugas berat, termasuk di sektor energi AS yang cukup bergejolak di tangan presiden sebelumnya Donald Trump.

Melansir Reuters, Minggu (8/11/2020), dalam hal penyediaan minyak internasional Biden tampaknya akan menunjukkan gaya diplomasi multilateral yang mirip dengan pemerintahan Demokrat sebelumnya. Itu memberi angin segar bagi anggota OPEC, khususnya Iran dan Venezuela untuk bisa keluar dari sanksi AS dan mulai memompa minyak kembali.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Biden Menuju AS 1, Moody's Prediksi Ekonomi AS Tumbuh 4,2%
Bagi Iran, momen tersebut bisa membuka peluang bermitra antara dengan AS dan Eropa, mirip dengan kesepakatan yang dicapai di bawah pemerintahan mantan Presiden Barack Obama. Berbeda dengan Venezuela, Biden tampaknya akan meneruskan sanksi untuk menekan rezim Presiden Nicolas Maduro, namun tak menutup celah diplomatik baru.

Sanksi sepihak oleh Presiden Donald Trump terhadap kedua negara itu telah mempengaruhi sekitar 3 juta barel per hari minyak mentah dari pasar internasional, kurang lebih 3 persen dari pasokan dunia. Untuk OPEC sendiri, Biden tidak memiliki hubungan akrab layaknya Trump dengan pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pidato Kemenangan Joe Biden: Kendalikan Covid-19 untuk Perbaiki Ekonomi
Arab Saudi sendiri adalah suara terbesar di organisasi negara-negara pengekspor minyak itu, Biden mungkin tidak terlibat sedekat yang tengah dijalani AS hari ini. Dia juga lebih cenderung mengandalkan karakteristik diplomatik yang tenang untuk mempengaruhi OPEC, daripada pendekatan Trump saat ini.

Kampanye Biden memang belum merinci bagaimana pendekatannya terhadap produksi minyak, tetapi yang pasti bagi Biden harga minyak harus cukup tinggi untuk bahan bakar fosil kompetitif guna melancarkan alternatif energi bersih yang dia gaungkan, serta mendukung rencana iklimnya yang ambisius.

Dalam hal energi hijau, pemerintahan Biden terlihat akan berusaha untuk memasukkan kembali Perjanjian Iklim Paris, sebuah pakta internasional yang dinegosiasikan selama pemerintahan Obama untuk memerangi pemanasan global, namun telah ditarik Trump baru-baru ini karena dinilai dapat merugikan ekonomi AS.Biden juga telah berjanji untuk membuat AS mencapai status bebas  emisi karbon pada 2050, termasuk membuat industri listrik menjadi energi  bersih pada 2035. Khusus hal itu tampaknya akan sulit dicapai tanpa  mayoritas Partai Demokrat di Kongres, sementara Republik mengklaim  kemenangan utama di Kongres AS.

Sedangkan terkait pengeboran energi oleh AS, sejauh ini Trump telah  berusaha untuk memaksimalkan produksi minyak dan gas domestik. Sedangkan  Biden berjanji untuk melarang penerbitan izin pengeboran baru di tanah  dan perairan AS untuk melawan perubahan iklim global.

Menurut data Departemen Dalam Negeri AS, negara itu tercatat telah  menghasilkan hampir 3 juta barel minyak mentah per hari pada 2019,  bersama dengan 13,2 miliar kaki kubik gas alam per hari. Itu sekitar  seperempat dari total produksi minyak domestik, dan lebih dari  seperdelapan dari total produksi gas AS.

Langkah Biden akan berdampak pada pendapatan publik, di mana produksi  minyak dan gas AS telah menghasilkan sekitar USD12 miliar pendapatan publik pada 2019. Tidak salah ketika menyebut empat tahun  masa kepemimpinan akan menjadi tantangan berat bagi Biden dan Harris.</description><content:encoded>WASHINGTON - Joe Biden diproyeksikan memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) dan siap dilantik bersama wakil presiden terpilih Kamala Harris pada Januari 2021. Kepemimpinannya akan menghadapi tugas berat, termasuk di sektor energi AS yang cukup bergejolak di tangan presiden sebelumnya Donald Trump.

Melansir Reuters, Minggu (8/11/2020), dalam hal penyediaan minyak internasional Biden tampaknya akan menunjukkan gaya diplomasi multilateral yang mirip dengan pemerintahan Demokrat sebelumnya. Itu memberi angin segar bagi anggota OPEC, khususnya Iran dan Venezuela untuk bisa keluar dari sanksi AS dan mulai memompa minyak kembali.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Biden Menuju AS 1, Moody's Prediksi Ekonomi AS Tumbuh 4,2%
Bagi Iran, momen tersebut bisa membuka peluang bermitra antara dengan AS dan Eropa, mirip dengan kesepakatan yang dicapai di bawah pemerintahan mantan Presiden Barack Obama. Berbeda dengan Venezuela, Biden tampaknya akan meneruskan sanksi untuk menekan rezim Presiden Nicolas Maduro, namun tak menutup celah diplomatik baru.

Sanksi sepihak oleh Presiden Donald Trump terhadap kedua negara itu telah mempengaruhi sekitar 3 juta barel per hari minyak mentah dari pasar internasional, kurang lebih 3 persen dari pasokan dunia. Untuk OPEC sendiri, Biden tidak memiliki hubungan akrab layaknya Trump dengan pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
 
&amp;nbsp;Baca juga: Pidato Kemenangan Joe Biden: Kendalikan Covid-19 untuk Perbaiki Ekonomi
Arab Saudi sendiri adalah suara terbesar di organisasi negara-negara pengekspor minyak itu, Biden mungkin tidak terlibat sedekat yang tengah dijalani AS hari ini. Dia juga lebih cenderung mengandalkan karakteristik diplomatik yang tenang untuk mempengaruhi OPEC, daripada pendekatan Trump saat ini.

Kampanye Biden memang belum merinci bagaimana pendekatannya terhadap produksi minyak, tetapi yang pasti bagi Biden harga minyak harus cukup tinggi untuk bahan bakar fosil kompetitif guna melancarkan alternatif energi bersih yang dia gaungkan, serta mendukung rencana iklimnya yang ambisius.

Dalam hal energi hijau, pemerintahan Biden terlihat akan berusaha untuk memasukkan kembali Perjanjian Iklim Paris, sebuah pakta internasional yang dinegosiasikan selama pemerintahan Obama untuk memerangi pemanasan global, namun telah ditarik Trump baru-baru ini karena dinilai dapat merugikan ekonomi AS.Biden juga telah berjanji untuk membuat AS mencapai status bebas  emisi karbon pada 2050, termasuk membuat industri listrik menjadi energi  bersih pada 2035. Khusus hal itu tampaknya akan sulit dicapai tanpa  mayoritas Partai Demokrat di Kongres, sementara Republik mengklaim  kemenangan utama di Kongres AS.

Sedangkan terkait pengeboran energi oleh AS, sejauh ini Trump telah  berusaha untuk memaksimalkan produksi minyak dan gas domestik. Sedangkan  Biden berjanji untuk melarang penerbitan izin pengeboran baru di tanah  dan perairan AS untuk melawan perubahan iklim global.

Menurut data Departemen Dalam Negeri AS, negara itu tercatat telah  menghasilkan hampir 3 juta barel minyak mentah per hari pada 2019,  bersama dengan 13,2 miliar kaki kubik gas alam per hari. Itu sekitar  seperempat dari total produksi minyak domestik, dan lebih dari  seperdelapan dari total produksi gas AS.

Langkah Biden akan berdampak pada pendapatan publik, di mana produksi  minyak dan gas AS telah menghasilkan sekitar USD12 miliar pendapatan publik pada 2019. Tidak salah ketika menyebut empat tahun  masa kepemimpinan akan menjadi tantangan berat bagi Biden dan Harris.</content:encoded></item></channel></rss>
